in ,

Wow, Tebat Rasau Punya Kuliner Ikan Air Tawar dari Sungai Purba!

Lokasinya tepat berada di atas sungai purba yang sudah ada setidaknya sejak 11.700 tahun lalu.

Mampir ke Belitung, biasanya pantai berwarna biru cerah, batu-batu raksasa, serta hamparan pasir putih yang terbayang. Kali ini pengalamannya berbeda. Kami mampir ke Tebat Rasau, sekitar 50 kilometer dari Bandara Hanandjoeddin di kota Tanjung Pandan.

Begitu tiba di Desa Lintang, Kecamatan Simpang, Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, tempatnya berada, kami disapa terik matahari dan langit biru cerah.

Suasananya tenang dan alami. Tidak jauh dari halaman yang menjadi tempat parkir, mata sudah dapat melihat hamparan rasau—tumbuhan sejenis pandan—di sekeliling Sungai Lenggang.

Tebat Rasau adalah kawasan yang berada di sekitar aliran Sungai Lenggang, sungai purba yang sudah eksis sejak era pleistosen, yang berkisar dari 2.588.000 sampai 11.700 tahun lalu.

Kami lantas menyeberangi sungai ini dengan meniti jembatan kayu sepanjang 180 meter. Sebenarnya ada opsi lain juga, menyewa perahu tradisional yang disediakan di lokasi.

Jembatan yang membelah Sungai Lenggang atau Sungai Purba. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Sebelum menyeberang, kami diharuskan membaca aturan yang tersedia. Salah satunya adalah perempuan yang sedang haid, tidak boleh mengunjungi sungai.

Konon, syarat yang sudah berlaku sejak dulu ini mengantisipasi perilaku hewan yang habitatnya di sekitar sungai yang sensitif dengan bau darah.

Menyusuri sungai ini jadi pengalaman tersendiri. Walau panas, rasau yang hijau menjulang seolah jadi pelindung dari teriknya matahari.

Semakin menuju bagian dalam kawasan Tebat Rasau, udara semakin sejuk, dan aliran sungai yang tenang dan jernih makin terlihat.

Sambil menikmati suasana, kami disarankan untuk naik ke menara pantau bila ingin mencari spot foto atau sekadar mengistirahatkan kaki. Di sana kursi-kursi kayu berjejer.

nelayan di tebat rasau
Nelayan sedang mencari ikan di sungai. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Tempat ini sering luput dari itinerary para pengunjung pulau penghasil timah, padahal ia adalah kawasan wisata berbasis alam.

Kawasan geosite yang bisa terbilang baru dikembangkan di Belitung ini dikelola para nelayan dari Komunitas Kelompok Sadar Wisata Lanun atau Tebat Rasau sejak 17 Januari 2018.

Kuliner ikan air tawar khas Tebat Rasau

Kalau cinta kuliner, terutama ikan tawar, jangan lewatkan mampir ke kawasan ini.

Tebat Rasau menyediakan wisata kuliner berbasis edukasi, dengan beragam ikan tawar yang diolah macam-macam.

Ketua Komunitas Lanun Nasidi saat dijumpai Juni lalu. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

“Kawasan Tebat Rasau ingin jadi tempat wisata kuliner yang mendidik, jadi tidak sekadar menjual saja.”

“Di sini ada banyak ikan yang bisa diolah seperti ikan baung, linggar, buntal, gabus, cempedi, dan lain-lain,” ujar Nasidi, Ketua Komunitas Lanun.

Edukasi yang dimaksud adalah mengajak para wisatawan untuk ikut memancing ikan, mengambil bumbu-bumbu alami yang ditanam di sekitar lokasi, sampai memasak.

Yang nggak jago masak, tidak perlu cemas. Wisata kuliner edukatif ini hanya opsi. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai hidangan khas lokal di bangunan yang juga menjadi sekretariat komunitas Tebat Rasau Lokasi.

Tempat istirahat dan makan di Tebat Rasau. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Di rumah panggung ini, ada penjelasan seputar ikan yang berhabitat di Sungai Lenggang yang ditempel di dinding, pula akuarium-akuarium yang memamerkan ikan-ikannya.

Pengunjung dapat memilih dari menu yang sudah disediakan. Yang jelas, akan disajikan dengan tradisi makan bedulang khas Belitung, yaitu makan bersama dari satu dulang atau nampan.

Baca juga: Makan Bedulang, Tradisi Kuliner Belitung Memupuk Kebersamaan

Saat itu, dalam satu dulang yang disajikan, ada gangan ikan baung, ikan cempedi kecil goreng, tumis pakis, pangut ikan gabus nanas, ikan keperas, lalapan daun kencur, kecipir, bunga kunyit, dan sambal belacan.

Menu badulang serba ikan tawar di Tebat Rasau. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Rasa dan tekstur daging ikan yang beragam, serta kesegarannya yang menggoda, sayang jika dilewatkan memang bila sudah mampir ke kawasan sungai purba ini.

Apalagi tanpa penyedap rasa buatan, pengunjung dapat merasakan bumbu penuh rempah, serta rasa pedas, asam, gurih dan manis hadir dalam set menu makan bedulang Tebat Rasau.

Dilengkapi dengan nasi putih hangat makin nikmat! Satu paket makan bedulang ini untuk dinikmati 4-5 orang, dengan harga Rp250.000.

Mau minum kutang atau teh pelawan?

Tak hanya makanan khas yang perlu dicoba, minuman lokal seperti kutang dan teh pelawan juga jangan sampai kelupaan.

Kutang adalah kupi tanggar, atau kopi yang direbus. Ada tiga pilihan, yakni kutang susu (Rp7.000), kutang hitam (Rp6.000), dan kutang dingin campur susu (Rp10.000).

Kalau lebih suka teh, coba teh pelawan yang memang khas Belitung.

Rasa teh dari seduhan daun pelawan ini memang sedikit pahit, tapi meninggalkan rasa manis di ujung lidah setelah selesai diteguk.

teh pelawan tebat rasau
Teh pelawan yang biasa disajikan hangat. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Ingin rasa manis yang lebih terasa, tinggal tambah gula atau madu. 

Teh pelawan punya banyak khasiat kesehatan, di antaranya untuk mengurangi kolesterol, mengobati maag, meningkatkan daya tahan otak, meningkatkan kinerja jantung dan paru.

Dengan harga hanya Rp10.000, pengunjung bisa memilih untuk meminumnya langsung, atau membeli sebungkus teh pelawan untuk oleh-oleh.

Potensi wisata yang masih terus berkembang

Tebat Rasau berpotensi jadi primadona wisata Belitung yang baru. Komunitas yang mengelolanya sebagai kawasan wisata pun punya banyak kisah untuk diceritakan.

Nasidi ingin pengunjung yang datang tidak hanya menikmati pemandangan saja, namun mendapatkan pengalaman yang lebih dari sekadar foto-foto.

Namun sayangnya, lokasi ini masih minim fasilitas.

Aliran listrik masih belum tersedia, begitu pula penginapan. Mayoritas yang mampir pun kebanyakan peneliti dan masyarakat yang peduli lingkungan.

“Fasilitas belum cukup, jadi wisatawan belum bisa sampai malam ke sini. Rencananya kalau sudah ada listrik nanti, wisatawan bisa ke sini sampai malam.”

“Soal pesan makan siang juga harus dilakukan malam sebelumnya karena hanya dapat menyediakan maksimal 20 dulang per hari,” ujar Nasidi.

Nasidi berharap pemerintah setempat dapat membantu komunitasnya yang mengelola, pula melestarikan alam dan Sungai Lenggang yang jadi hidupnya Desa Lintang.

Tertarik berkunjung ke Tebat Rasau? Silakan hubungi Komunitas Tebat Rasau melalui nomor telepon 0859 249 777 35.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by AnisaGiovanny

Content AuthorYears Of Membership
Kuliner Legendaris dari Semarang

7 Kuliner Legendaris Wajib Icip di Kampoeng Legenda 2019!

12 Masalah Yang Biasa Dihadapi Pengusaha Kuliner