in

Wida Winarno Kenalkan Tempe ke Seluruh Dunia

Sudah sepatutnya kuliner khas Indonesia ini mendunia!

Ignatia Widya Kristiari, begitu nama lengkap dari pecinta tempe ini. Namun, lebih banyak yang mengenalnya dengan nama Wida Winarno. Ia adalah Founder Indonesian Tempe Movement. Cintanya pada tempe sudah berlangsung lama. Baginya membuat tempe adalah bentuk kasih sayang.

“Manusia punya kaya semacam naluri untuk mengurus orang lain, mencintai orang lain. Nah, membuat tempe menjadi salah satunya buat saya.”

Wida Winarno

Bersama Prof. Winarno, ayahnya yang juga dijuluki Bapak Teknologi Pangan Indonesia, dan anak sulungnya Amadeus Driando Ahnan, Wida mengampanyekan gerakan Tempe Movement sejak 2015.

wida winarno, tempe movement
Wida Winarno bersama ayahnya, Prof. Winarno, dan anak sulungnya, Amadeus Driando Ahnan, mengenakan kaos Tempe Movement. (Foto: Dok. Pribadi Wida Winarno)

Dalam sebuah wawancara khusus bersama Belanga Indonesia di Sudirman Tower Condominium, Jakarta, pada suatu Rabu di bulan April, Wida berbagi ceritanya menginisiasi Tempe Movement.

“Tempe Movement,” tutur Wida, “bukan gerakan dengan kampanye yang masif.”

Lanjutnya, “Gerakan ini jadi sarana bagi orang-orang yang cinta tempe dan berniat memajukan potensinya.”

Salah satu langkah konkrit kampanye yang ia lakukan adalah menerbitkan buku tentang tempe yang lengkap dalam bahasa Inggris, yaitu The Book of Tempeh (2016).

Wida bercerita, gerakan ini berawal dari Tempe International Conference empat tahun silam. Setelah itu, tercetuslah untuk membuat sebuah buku agar konferensi tersebut ada hasilnya.

Terlebih, pustaka tentang tempe sangat sulit dicari padahal tempe merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia.

Buku tentang tempe yang dijadikan sebagai manuskrip sendiri terakhir ditulis pada abad ke 17 dalam karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru, Serat Centini.

Setelah itu, tak ada buku lengkap yang menjelaskan tentang tempe secara jelas terlebih yang dicetak dalam bahasa Inggris.

Menurut Wida, hadirnya buku ini sebagai bagian dari mempromosikan tempe ke seluruh dunia.

“Akhirnya kita punya motherbook of tempe. Mau lihat resep, nutrition fact, dan lain sebagainya ada di sini. Bisa dibilang ini kitab sucinya,” lanjut Wida.

Setelah menelurkan buku, gerakan mempromosikan tempe ke seluruh dunia terus berlanjut. Harapan Wida tempe dapat lebih dikenal dan dicintai masyarakat Indonesia dan juga internasional.

Gerakan mempopulerkan tempe

Wida menuturkan, ada dua strategi berbeda yang dilakukan Tempe Movement dalam misinya ini.

Strategi pertama diterapkan di luar negeri untuk menguatkan branding bahwa tempe itu dari Indonesia dan Indonesia itu identik dengan tempe.

Sementara di Indonesia, Wida ingin masyarakat bangga akan makanan tempe yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata.

Padahal, lanjut dia, masyarakat dunia memposisikan tempe sebagai hidangan superfood yang keren dan bernilai tinggi.

Baca juga: Daftar Superfood yang Mudah Ditemui di Indonesia!

Upaya ini juga dilakukan agar negara tetangga tidak mengklaim sesuatu yang menjadi milik kita.

“Meributkan tempe hanya kalau ada negara lain yang mengklaim tempe milik mereka itu hanya menghabiskan energi,” jelas perempuan kelahiran 26 Juni 1966 ini.

Tempe Movement memilih untuk lebih banyak berkecimpung dalam acara-acara promosi tempe, seperti Tempe Movement Fest di NUSA Gastronomy akhir Maret lalu.

Ada beberapa fokus utama Tempe Movement, yaitu program inkubasi bisnis sosial, diskusi, konferensi internasional, lokakarya, kelas pembuatan tempe, dan kampanye di media sosial.

“Yang bidangnya sains mau mengembangkan sains tentang tempe kita support. Yang mau berbisnis tempe juga kita support,” ujarnya.

Diskusi tentang tempe sendiri telah digelar di enam negara, termasuk kampus ternama seperti Harvard Business School, Oxford University, dan Cambridge University.

Sedangkan workshop tempe sukses dilakukan di Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, dan tentunya Indonesia.

Wida Winarno saat ditemui Belanga Indonesia pada Rabu, 10 April 2019. (Foto: Belanga.id/Rikko Ramadhana)

Melestarikan cara pembuatan ragi tradisional juga menjadi fokus dari Tempe Movement.

Untuk itu ia membuat Tempe Temple di kediamannya di Bogor sebagai tempat workshop sekaligus pelatihan.

Setelah empat tahun berjalan, Tempe Movement berhasil meningkatkan citra tempe di dalam negeri.

Sebelumnya, menu tempe lebih dikenal sebagai menu gorengan, kini tempe sudah dianggap sebagai makanan sehat, higienis, dan bernilai mahal.

Misalnya saja, Hotel Dharmawangsa—salah satu hotel mewah di Jakarta—tidak ragu untuk menyiapkan tempe sebagai salah satu hidangan andalannya, bahkan sampai memiliki lebih dari 90 variasi menu tempe.

Restoran Nusa Gastronomy yang dimiliki Chef Ragil juga menyajikan menu tempe dengan konsep fine dining.

Menu tempe juga mulai terlihat seksi dan versatile di dunia kuliner, hingga bisa ditemukan dalam bentuk burger di Burgreen dan sebagai beragam olahan tempe di Javara.

Di luar negeri, citra tempe lebih masyhur lagi. Tempe dianggap sebagai makanan vegan berkualitas yang lebih mahal dari daging. Antusiasme masyarakat luar negeri atas tempe juga makin besar.

Produsen tempe asal Negeri Paman Sam, Tofurky menyatakan bahwa pertumbuhan tempe sangat cepat dengan rata-rata produksi mencapai 34 ton per pekan.

Data mencatat, angka penjualan tempe di Amerika Serikat meningkat 8% setiap tahun dan terjual lebih dari 3,5 juta ton.

“Kalau dari kombinasi nutrisi, paling bagus ya tempe. Indonesia itu dimanjakan karena dengan mudahnya bisa menemukan tempe,” tambah Wida.

Jatuh cinta dengan beragam tempe

Indonesia, menurut Wida, memiliki keanekaragaman tempe yang sangat banyak. Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam membuat dan mengolah tempe.

Ia menambahkan, banyak masyarakat yang belum tahu tentang olahan-olahan tempe di berbagai daerah. 

Sebagai contoh, orang Jepara menyukai tempe mlandingan dengan bahan utamanya dari mlandingan atau petai cina.

Kemudian, lanjut Wida, orang Lampung mengolah tempe dengan unik. Tempenya dibungkus dengan daun cokelat atau daun kakao.

“Aromanya katanya berbeda kalau pake kakao.”

Di Ngawi, masyarakat biasa membuat tempe di dalam gedebok pisang saat acara adat. Prosesnya, tempe difermentasi di atas pelepah pisang yang berukuran besar. Selain itu, masih ada tempe menjes khas dari Malang, Jawa Timur.

Wida mengatakan ada banyak variasi tempe di Indonesia, setidaknya ada lebih dari 100 jenis.

Terkait tempe favoritnya, Wida memiliki selera yang sama dengan kebanyakan orang di Indonesia.

“Aku suka tempe goreng, nasi putih, sambal dan semua disantap dengan hangat,” ujar Wida.

Perempuan kelahiran Bogor ini juga telah mempunyai beberapa inovasi terkait tempe dalam beberapa waktu ke depan, seperti mie berbahan dasar tempe.

Belum lama ini juga dirinya bekerjasama dengan Hotel Dharmawangsa meluncurkan spa tempe pertama di Indonesia, bahkan di dunia.

Tidak banyak yang tahu, penelitian menunjukan bahwa kandungan enzim dalam tempe dapat melindungi reaksi kulit dari sinar UV.

Wida berpesan, “Anak muda, khususnya milenial, harus melestarikan makanan Indonesia yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu.”

Ia juga berharap agar semakin banyak makanan Indonesia yang bisa berlaga di panggung internasional.

“Dibandingkan Thailand, restoran Indonesia di luar negeri masih sangat sedikit. Ke depannya semoga bisa lebih banyak,” tutup Wida.

Penulis: Rikko Ramadhana
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Expert

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Ada yang Menang, Huruf N Yosan Bukan Hoaks!

Satu Juta Spesies Bakal Punah, Ketahanan Pangan Ikut Terancam