in

Warung Fotokopi, Melihat Kesempatan Dalam Kesempitan

Pada prinsipnya, sesuatu yang baru bisa dibikin dari yang sudah dipunya.

Warung Fotokopi yang bergaya artsy dari depan. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Kedai itu dinamakan Warung Fotokopi. Dari tampak luar memang beda dengan toko fotokopi pada umumnya. Temboknya putih dengan sebuah plang merah bertulis “Warung Pa’E Mangut Lele Asap, Ayam Rica-Rica Asap”. Bahkan tersisip petikan manis “Lupa nama ingat rasa”.

Ketika masuk, nuansanya rumahan tanpa lepas dari detail unik. Sebuah jendela lingkaran membelah bar kopi dan ruang duduk.

Ada unsur alami yang terasa, seperti furnitur kayu dan pot tanaman yang tersebar dimana-mana.

Banyak kesempatan yang hadir di sekeliling kita, seperti halnya menyulap sebuah garasi tempat nongkrong komunitas menjadi kafe kekinian.

Itulah yang dilakukan Anton Ismael, fotografer profesional dan pendiri komunitas Kelas Pagi.

Anton Ismael, inisiator Warung Fotokopi. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Bagi pegiat fotografer, komunitas tersebut bukanlah sekumpulan anak kemarin sore.

Tim Belanga bertemu dengan Anton Ismael sang pemilik kedai. Ia mengaku bahwa desain interior kafenya berkonsep recycle.

“Saya bilang ke anak-anak Kelas Pagi: kalian kalau mau bikin sesuatu, bikinlah dari yang kita punya. Jadi mereka memanfaatkan material yang ada di gudang sebelum ini,” jelas Anton.

Warung Fotokopi sendiri baru selesai direnovasi. Namun, kedai bertembok putih ini telah berjalan sejak setahun lalu.

Anton sendiri yang memasak makanan yang ada di menu, sederet sajian khas Yogyakarta dan Manado.

Beberapa rekomendasi yang ia berikan adalah mangut lele, ayam rica-rica, dan ayam dabu.

Anton bercerita bahwa hobi masak ini tak datang begitu saja. Sejak traveling untuk kegiatan motret, lelaki asal Yogyakarta ini mulai mendalami kuliner daerah.

Ia mencicipi dan belajar beberapa teknik masak tradisional. Salah satunya adalah mangut dan pengasapan.

“Di bagian atas warung ini ada ruang asapnya. Siapapun boleh nengok ke sana, cuma masih kurang proper untuk nongkrong,” sahut Anton.

Bertahun-tahun belajar masak, Anton pun menguji rasa pada klien-kliennya. Ia mengaku tak ingin setengah-setengah saat berhubungan dengan klien dan pihak luar.

“Saya maksimalkan masakan saya. Eh ternyata dapat banyak request,” kenang Anton.

Tak hanya motret, beberapa klien brand ikut ia manjakan lidahnya. Anton sempat diminta memasak 400 porsi masakan dalam satu waktu.

Keterbatasan daya membuatnya berpikir kreatif.

“Waktu itu saya ajak temen-temen yang suka nongkrong di sini. Saya ajarin caranya masak, motong bahan, gitu,” jelasnya.

Tanpa diduga, beberapa orang justru menemukan bakat masak. Anton selalu meyakinkan mereka bahwa kesempatan apapun patut dicoba.

Hal ini yang juga dikembangkan dalam menjalankan Warung Fotokopi.

“Jangan cuma mengasah satu hal aja. Misalnya saya cuma di fotografi aja. Saya rasa penting belajar skill lain,” pesan Anton.

Tidak hanya makan dan minum, Warung Fotokopi juga kerap dipakai sebagai ruang diskusi dan workshop.

Ke depannya, Anton ingin menguatkan bisnisnya melalui Go-Food, menambah sumber daya.

Tidak kalah penting, Anton berharap dengan latar belakangnya sebagai fotografer, ada sudut pandang baru yang bisa ditawarkan pada kuliner Indonesia.

Sayang sekali, kami tidak sempat mencicipi mangut dan menu populer. Kami memilih es kopi sebagai teman.

Seduhan kopi yang menjadi menu baru di Warung Fotokopi. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Menu kopi di Warung Fotokopi masih berumur kurang dari enam bulan, jadi Anton menggandeng kawan barista untuk meracik kopi. “Saya nggak bisa soalnya,” ungkapnya.

Bagi kami, Warung Fotokopi adalah salah satu spot artsy. Beberapa sudut menampilkan karya seniman lokal terbaik.

Ada mural, tissue toilet dengan gambar roll film, hingga instalasi seragam sekolah dengan rantai menjulur.

Salah satu instalasi kekinian di sudut kedai. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Salah satu yang berkesan adalah kutipan dinding bertulis “Art is not a feeling. Art is a call to action”.

Rasanya seperti bangun dan ingin melanjutkan petualangan hidup.

Warung Fotokopi

Jalan Nangka I No.6 Cipete Utara, Kebayoran Baru
Senin-Jumat, 07.00-22.00 WIB
Sabtu-Minggu, 15.00-22.00 WIB
Kisaran Harga:
Minuman Rp15.000-28.000
Makanan Rp20.000-35.000
Instagram: @fotkop_

Bagaimana caranya ke sini?

Stasiun terdekat: KEBAYORAN
Halte TransJakarta terdekat: FATMAWATI
Tips: Naik ojek online lebih cepat!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by Manggarayu

Content AuthorYears Of Membership

8 Metode Seduh Kopi Yang Perlu Kamu Ketahui!

Fi:ka Kedai Kafi

Kedai Kopi Ini Tawarkan Efek Marbling Pertama di Indonesia!