in

Warga Dunia Makin Suka Ngopi, Kok Kopi Indonesia Stagnan?

Yang suka makin banyak, tapi produksi kopi malah mandek!

Siapa diantara kamu yang tidak suka ngopi? Masyarakat Indonesia sudah lekat dengan minuman hangat berwarna gelap ini. Budaya ngopi yang makin giat dan semarak juga ‘dimudahkan’ dengan menjamurnya kedai-kedai kopi yang menunya bisa dipesan secara online.

“Minum kopi sudah menjadi lifestyle masyarakat sekarang, khususnya bagi kaum milenial,” ujar Rusman Heriawan, mantan Wakil Menteri Pertanian saat peringatan ulang tahun ke-1 Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) di Gedung Kementan, Jakarta (11/3).

Rusman, pengurus Dekopi, melihat ada tren peningkatan konsumsi kopi oleh masyarakat dunia dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, lima tahun belakangan ini peningkatan konsumsi kopi mencapai angka 8,8 persen.

Kenaikan tersebut belum dimanfaatkan oleh petani kopi lokal di Indonesia. Jika merujuk data dari International Coffee Organization, produksi kopi nasional cenderung stagnan.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan tahun 2010-2017 pertumbuhan produksi kopi hanya 0,79% sementara luas areal 0,33%.

Untuk 2017 sendiri, produksi kopi nasional mencapai 717 ribu ton dengan luas 1,2 juta hektar dan jumlah ekspor mencapai 467 ribu ton, sedang impor sebanyak 14 ribu ton.

Rusman mencontohkan hasil produksi kopi nasional. Untuk komoditas robusta panennya hanya sebanyak 0,53 ton per hektare, sementara arabika berada di angka 0,55 ton per hektar.

“Mestinya bisa didorong sampai ke angka 2 ton per hektar,” tambah Rusman.

Apalagi tiap daerah di Indonesia memiliki varietas kopi unggulan mulai dari Gayo di Aceh sampai Dogiyai di Papua.

Baca juga: Third Wave, Kopi Manis di Tengah Gerimis

Alasannya karena ketersediaan lahan kopi yang ada belum memenuhi skala ekonomi. Padahal Indonesia punya potensi memimpin pasar kopi dunia dengan banyaknya varietas kopi lokal berkualitas.

Saat ini Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir kopi terbesar di dunia. Di peringkat pertama bertengger Brazil yang diikuti Vietnam dan Kolombia diperingkat kedua dan ketiga.

“Perkopian Indonesia harus menjadi nomor satu, kita punya potensi lahan yang sangat banyak,” ujar Ketua Umum Dekopi, Anton Apriyantono yang juga mantan Menteri Pertanian 2004-2009.

Untuk meraih capaian tersebut, Dekopi tengah mengusahakan hari kelahiran mereka, 11 Maret, sebagai Hari Kopi Nasional.

Dekopi sendiri berupaya membangkitkan semangat kebersamaan pegiat kopi dari petani sampai pemerintah. Organisasi ini siap mensinergikan hubungan dan komunikasi pemangku kepentingan di industri kopi Indonesia.

Mengidentifikasi persoalan kopi, regulasi, standar, dan program menjadi misi perkumpulan ini. Tujuannya agar pemerintah mendapat masukan untuk perbaikan sistem industri kopi Indonesia.

Kebiasaan ngopi dan manfaatnya buat kesehatan

Data Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) mencatat adanya peningkatan konsumsi kopi per kapita masyarakat Indonesia.

Pada 2010 konsumsi kopi berada di 0,8 kg/kapita/tahun dan melonjak ke angka 1,2 kg/kapita/tahun di 2017.

Salah satu faktor yang mempengaruhi naiknya konsumsi kopi di Indonesia adalah keberadaan coffee shop atau kedai kopi yang menjamur, di luar warung kopi atau penjual kopi sepeda-starling (starbucks keliling)- yang sudah lebih dulu eksis dengan pasar tersendiri.

Menjamurnya coffee shop sendiri juga dipengaruhi suksesnya film Filosofi Kopi dan sekuelnya yang diperankan Rio Dewanto dan Chicco Jericko.

Mengutip penggalan lirik lagu populer grup lawak Warkop DKI, “ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini” seakan menjadi gambaran kebiasaan masyarakat yang menyukai kopi.

Budaya ngopi ini pun merambah menjadikan coffee shop sebagai tempat ideal untuk mengadakan meeting, daripada ruang rapat dalam gedung perkantoran.

Kegiatan seperti arisan, reuni, ulang tahun, sampai foto pre-wedding sekalipun banyak diadakan di kafe-kafe yang menyajikan kopi enak plus interior yang nyaman dan cantik.

Beberapa kafe sengaja memiliki desain outlet yang instagram-able untuk menarik pengunjung dan membuat mereka betah berlama-lama.

Tapi budaya kongkow sambilngopi tidak melulu tentang coffee shop, warung kopi pinggir jalan juga kerap menjadi tempat interaksi manusia dari berbagai kalangan.

Dari tempat para supir ojek online nongkrong, karyawan yang ingin merokok, atau anak sekolah yang bolos, warung kopi setia menjadi tempat pilihan yang tidak pilih kasih.

Hal lain yang membuat masyarakat makin ‘semangat’ ngopi adalah karena kopi berdampak baik untuk kesehatan.

Penelitian yang diterbitkan Jurnal JAMA Internal Medicine dari American Medical Association pada 2018 menyatakan bahwa minum kopi bisa bikin panjang umur.

Penelitian berdurasi 10 tahun tersebut diikuti sekitar 50 ribu orang yang menjawab pertanyaan tentang konsumsi kopi, kebiasaan merokok dan minum, riwayat medis dan banyak lagi. Sepanjang studi berlangsung, sekitar 14.200 partisipan dilaporkan meninggal.

Baca juga: Benarkah Kopi Dapat Menyebabkan Kanker? Simak Faktanya!

Uniknya, hasil penelitian menemukan bahwa sekitar 10% hingga 15% peminum kopi punya risiko meninggal lebih kecil daripada peminum non-kopi selama satu dekade tindak lanjut pemeriksaan itu.

Meski begitu, penelitian ini hanya melihat kebiasaan minum kopi setelah muncul penyakit dan tidak memeriksa penyebab kematian secara menyeluruh.

Perlu ada penelitian lebih lanjut guna membuktikan bahwa kopi memang benar-benar bisa membuat panjang umur.

Omong-omong, kamu sudah ngopi hari ini?

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by Rikko Ramadhana

Work hard, pray harder.

Content Author

Botol Minum 100% Daur Ulang Pertama Indonesia Ada di Bali!

Terlaris, Ini 23 Kuliner Go-Food Juara 2019 se-Jabodetabek!