in

Konsumsi Vitamin D Dapat Cegah Depresi!

Dan untuk mengonsumsinya tidak susah!

(Foto: Pixabay)

Depresi jadi hal yang memprihatinkan karena sudah menghilangkan banyak nyawa. Penyebabnya pun beragam bisa karena tak sanggup memikul beban hidup, lingkungan yang tidak mendukung, trauma, atau penyebab lainnya.

Namun, untuk mencegah depresi berkepanjangan, cara sederhana yang bisa dilakukan adalah mengonsumsi vitamin D.

Di dalam otak manusia terdapat reseptor vitamin D yang letaknya sama dengan area otak yang bisa memberikan efek depresi.

Kekurangan vitamin D disebut-sebut erat kaitannya dengan masalah depresi dan kesehatan mental lainnya.

Vitamin D berfungsi untuk mengaktifkan sistem imun dan melepaskan hormon dopamin dan serotonin.

Kedua hormon ini mempengaruhi fungsi dan perkembangan otak dalam mengatur tindakan, suasana hati hingga keputusan yang kita buat.

Salah satu alasan kenapa vitamin D dapat mencegah depresi adalah karena ia disinyalir punya efek anti depresan.

Mia Maria saat memberi pemaparan soal vitamin D (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Cara meningkatkan vitamin D sejatinya cukup sederhana, terutama bagi yang berdomisili di daerah tropis dengan kehadiran matahari sepanjang tahun penuh, seperti Indonesia.

Terpapar sinar matahari dapat merangsang tubuh untuk melepaskan hormon “pemicu kebahagiaan” serotonin.

Kurang terpapar sinar matahari dapat memicu suasana hati yang berantakan, mudah gelisah, membuat stres, dan akhirnya bisa depresi.

Mia Maria, pakar nutrisi, menjelaskan bahwa sinar matahari yang berkualitas adalah saat posisi matahari berada 45 derajat dari bumi, yaitu sekitar pukul 9 pagi sampai 11 siang.

Ia menganjurkan untuk “menjemur” diri pada waktu tersebut, namun ia juga mengingatkan,

“Jangan lebih dari 30 menit ya, paling tidak 15 menit sudah cukup karena kalau lebih dari itu bisa menyebabkan kanker.”

Informasi ini ia sampaikan di sesi community dialogue “Fitter and Better Culinary Nutrition” di Happiness Festival, Lapangan Banteng Jakarta, Minggu (28/4).

Baca juga: Happiness Festival 2019 Berbagi Kunci Hidup Lebih Bahagia

Bagian tubuh yang paling banyak menyerap sinar matahari adalah tulang punggung.

Proses penyerapan vitamin D dari matahari butuh waktu hingga tiga hari lamanya, makanya harus dibarengi dengan asupan makanan lainnya agar meresap sempurna ke dalam tubuh.

“Vitamin D itu diserap sama lemak, maka kita butuh makan ikan, kacang-kacangan, kelapa, alpukat atau jamur-jamuran,” jelasnya.

“Untuk jamur, paling bagus maitake. Bisa dijemur 15 menit terlebih dulu supaya kandungan vitaminnya meningkat.”

Selain itu, makanan yang bisa dikonsumsi untuk meningkatkan vitamin D adalah daging merah, minyak ikan kod, hati ayam, tahu, tempe, telur, susu kedelai, udang, tiram, ikan salmon, sarden, hingga mackerel (ikan kembung).

Ikan salmon seberat 100 gram mengandung sekitar 562 IU vitamin D, lho! (Foto: Pixabay)

Menurut Mia, apapun yang dikonsumsi membawa pengaruh pada jiwa dan tubuh kita. Ia menyarankan untuk memperhatikan konsumsi personal, dan tidak mudah tergiur dengan produk olahan.

Meski produknya mencantumkan beragam kandungan nutrisi, tapi sesungguhnya produk olahan sudah mengalami penyusutan gizi.

Sebabnya, sebagai produk olahan ia pasti mengalami proses pengolahan dan penambahan bahan-bahan lain, misalnya pengawet, perasa, atau pengental.

“Karena kita butuh enzim tertentu untuk menyerap vitamin D, dan mereka ada di makanan-makanan utuh,” ujarnya, “bukan pada makanan yang sudah mengalami proses pengolahan.”

Meski ada relasi antara asupan vitamin D dan depresi, penelitian belum termutakhir belum menentukan apakah hubungannya sebab akibat atau bukan.

Walaupun demikian, asupan vitamin D tetap dibutuhkan untuk kinerja otak yang baik. Setidaknya, penuhi jumlah vitamin D yang dianjurkan per hari adalah 600 IU (International Unit) atau sekitar 15 mikrogram.

Mengonsumsi makanan dan terkena paparan sinar matahari yang cukup dapat membantu pemulihan kinerja otak dan meringankan risiko depresi, serta kesehatan mental lainnya.

Jadi, jangan takut dengan sinar matahari, ya, apalagi di waktu yang sudah direkomendasikan tadi.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advocate

Written by AnisaGiovanny

Content Author

Gluten Free Sama Dengan Hidup Sehat, Benarkah?

Lukay, Sedotan Inovatif Asal Filipina Untuk Selamatkan Bumi