Logo Balanga

Tradisi Bubur Syuro di Desa Sungai Rengit

 Tradisi Bubur Syuro di Desa Sungai Rengit

Tradisi setahun sekali ini terdapat di desa Sungai Rengit, kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Bubur syuro akan disajikan di masjid pada malam 10 Muharram pada kalender Hijriah.

Seusai salat Magrib, jemaah yang terdiri dari kaum bapak, remaja putra, dan anak-anak laki-laki akan membaca surat yaasin sebanyak tiga kali serta doa awal tahun.

Doa awal tahun disesuaikan dengan bulan Muharram yang merupakan bulan pertama pergantian tahun berdasarkan peredaran bulan terhadap matahari (tahun qomariyah). Setelah pembacaan doa oleh tokoh agama desa, barulah sajian bubur syuro dihidangkan dan dimakan bersama.

Memasak bubur syuro dilakukan oleh seluruh kaum ibu di desa pada siang harinya.

Selain itu, warga juga bergotong-royong menyiapkan bahan bubur. Ada yang menyumbang beras, kelapa, air mineral atau uang untuk membeli bumbu. Terdapat tiga masakan yang dibuat, yaitu bubur syuro, sambal jeroan, dan pindang masem pedas.

Berikut ini resep untuk membuat bubur syuro.

Bahan:

12 kg beras, 10 ekor ayam, dan 15 butir kelapa (dibuat santan).

Bumbu:

Bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, kemiri, serai, daun salam, daun seledri

Cara memasak:

  1. Masak beras dengan air hingga teksturnya lembut.
  2. Haluskan bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, dan kemiri.
  3. Serai cukup digeprek dan daun seledri diiris halus
  4. Rebus ayam hingga masak, lalu suir-suir dan dicampur dengan bumbu halus.
  5. Masukkan santan, ayam suir berbumbu, serta daun salam  ke dalam bubur.
  6. Beri garam dan gula, lalu cicipi rasanya.
  7. Sebelum diangkat, taburi daun seledri dan bawang goreng.

Lalu, untuk sambalnya berupa sambal goreng jeroan. Bahan yang diperlukan berupa cabai besar, cabai rawit, bawang merah, bawang putih yang dihaluskan.

Tumis bahan dengan minyak goreng secukupnya hingga berwarna kecokelatan dan harum. Masukkan jeroan ayam yang sudah direbus sebelumnya. Kemudian, tambahkan garam dan gula serta cicipi rasanya. Aduk rata dan angkat.

Setelah daging ayam dimasak, bubur syuro dan jeroannya dimasak, sambal, tulang ayam dimasak pindang masem pedas. Semua bagian ayam tidak tersisa. Resep dan cara memasak pindang masem pedas ada di artikel selanjutnya.

Selepas ketiga jenis masakan selesai, juru masak akan membagikan bubur syuro ke dalam mangkok atau panci yang telah dibawa para ibu dari rumah.

Akan ada barisan panci di samping kawah bubur syuro. Khusus pindang masem pedas akan dimakan bersama oleh para ibu dan anak-anak setelah memasak bubur syuro.

Tradisi bubur syuro dipengaruhi oleh ajaran Islam sebagai agama mayoritas penduduk asli. Dalam ajaran Islam dikenal anjuran puasa tasu’ah dan puasa assyuro pada 9 dan 10 Muharram.

Maka untuk mensyiarkan kemuliaan bulan Muharram atau biasa disebut bulan Syuro, dilaksanakanlah tradisi bubur syuro.

Di desa Sungai Rengit, tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi salah satu agenda kemeriahan desa. Sebab, akan ada dua kawah besar bubur syuro yang akan dibagikan untuk warga desa bahkan orang luar yang kebetulan singgah atau lewat di desa ini.

Tampilan dan rasa bubur syuro juga mewakili harapan warga di tahun yang baru. Bubur syuro yang berwarna putih melambangkan keikhlasan hati yang harus senantiasa dijaga oleh semua orang.

Meskipun ada beragam bumbu (cobaan dalam hidup), warna putih haruslah tetap yang mendominasi. Sementara rasa gurih bubur mencerminkan permintaan kepada Sang Pencipta agar kehidupan segenap warga desa menjadi lebih baik, sejahtera, dan dijauhkan dari bencana.

Demikian, kisah kuliner juara dari desa Sungai Rengit. Kalau kalian berkesempatan ke sini di bulan Syuro pastikan mengikuti kemeriahan dan mencicipi bubur syuro, dijamin seru dan menyenangkan!***

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *