in

The Local Market, Ruang Intim untuk Para Makers dan Pembeli

Di sini, produk pengrajin lokal Indonesia hadir dengan cerita.

Suasana The Local Market Spring Edition 2019 di Citywalk, Jakarta. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Di balik sebuah produk jadi, ada kisah orang-orang yang merealisasikan. Memberikan pembeli pengalaman yang tidak sekadar konsumtif adalah misi untuk mengembangkan pasar yang lebih berkelanjutan.

Inilah yang menjadi jiwa dari The Local Market, sebuah pasar intim untuk mendekatkan sesama pengrajin atau makers, pula dengan para pelanggannya.

Idenya sederhana. Makers dan pembeli dapat bertemu dan berbincang akrab tentang produk yang menjadi penghubung mereka di sebuah ruang yang sudah dikuratori untuk memamerkan dan menjual produk pada publik.

The Local Market
Suasana The Local Market Spring Edition di Citywalk, Jakarta. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Keakraban pembeli dan pengunjung ini bisa terlihat di The Local Market Spring Edition yang baru saja berlangsung pada 29-31 Maret 2019 lalu di City Walk, Jakarta.

Beberapa tahun silam, acara ini dikenal dengan nama The Kemang Rooftop, karena memang dimulai di Kemang oleh Ku Ka dan Paisley Things.

Ku Ka sendiri adalah online market place yang mengkhususkan pada produk-produk lokal Indonesia, sedang Paisley Things mendukung produksi barang-barang lokal dan eklektik.

Namun, dengan makin besarnya antusiasme bagi penjual dan pembeli, rebranding menjadi The Local Market dirasa lebih tepat.

Stephanie Edelweiss dari Ku Ka dan juga Media Relation dari The Local Market menceritakan kekhasan acaranya yang membuat suasana menjadi akrab dan cair antar peserta.

“Dalam acara ini tidak boleh memakai SPG atau marketing, jadi harus sang pencipta produk tersebut yang menjaga,” ungkap perempuan yang akrab dipanggil Wiwis ini.

“Agar para pengunjung mendapatkan cerita yang tidak umum saja, tetapi juga cerita di balik kisah nama dan pembuatannya,” tambahnya.

The Local Market
Wiwis berbagi cerita dengan Belanga. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Fokus acara ini adalah menyediakan ruang untuk produk berkualitas tinggi hasil buatan tangan, bernilai seni, dan memiliki dampak sosial di komunitasnya. Produk hasil kurasi individu-individu yang mapan.

Makanya, The Local Market pun tidak sembarang mengadakan acara. Hanya dua kali dalam setahun, biasanya pada bulan Maret dan September saja.

Kurasi terhadap tenant yang ingin berpartisipasi pun ketat. Karakter brand dari calon tenant harus lokal dan memiliki misi sosial yang kuat.

Misinya adalah menumbuhkan budaya konsumsi produk lokal yang tidak semata-mata hanya untuk memenuhi hasrat konsumtif tapi sarat nilai sosial dan pelestarian.

“Kami juga berharap dengan acara ini para makers bisa berkolaborasi juga,” pungkas Wiwis.

Christina dari SAE Home Remedy mengaku selalu puas dengan penyelenggaraan The Local Market sejak awal mulanya.

“Manajemen acaranya selalu meningkat dan memuaskan,” tuturnya tersenyum sambil mempromosikan produk-produk minyak atsiri yang dibawanya.

Para pengunjung yang hadir di acara ini tidak hanya kalangan milenial, namun juga ada para ibu-ibu yang memeriahkan acara ini.

Iren dari Casa Grata, salah satu tenant yang menjual snack sehat dari total 84 tenant yang hadir di acara The Local Market Spring Edition, memberikan testimoninya.

Baca juga: Dicap Buruk Padahal Mereka Makanan Sehat

The Local Market
Iren dari Casa Grata yang menjadi salah satu tenant peserta The Local Market Spring Edition 2019. (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

“Senang, karena para pengunjungnya sudah well educated, jadi saat menjelaskan misi sosial kita, diterima dengan baik.”

Bagi kamu yang ketinggalan The Local Market Spring Edition, segera follow @thelocalmarket.id agar tidak ketinggalan info acara selanjutnya di tahun ini.

Penulis: Arief Rahman Hakim
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

musi coffee culture

Sumsel Undang Seruput Kopi di Eks-Kantor Dagang Terbesar di Dunia

Pasar Ikan Modern Muara Baru

Pasar Ikan Modern Muara Baru Jadi Tsukiji di Jakarta!