Ternyata Menyeduh Teh Bukan Perkara Sembarangan!

Menyeduh teh? Kamu pasti membayangkan sachet putih berisi teh instan celup di dalam segelas air hangat. Warna cokelat kemerahan muncul darinya lantas mengubah segelas air putih menjadi segelas teh.

Kemudian sesuai selera lalu menambahkan gula pasir sesendok atau dua sendok ke dalamnya, aduk rata. Bila perlu beberapa potong batu es dicemplungkan ke dalamnya.

Tapi bukan “ngeteh” seperti itu yang akan saya bahas saat ini. Menyeduh teh dengan menggunakan daun tehnya langsung, karena lebih banyak manfaatnya daripada menggunakan teh celup instan.

Teh punya banyak manfaat bagi kesehatan. Ia mengandung antioksidan yang baik menjaga tubuh dari polusi. Mengonsumsi teh juga dapat mengurangi risiko serangan jantung dan struk, membantu mengurangi berat badan, dan banyak lagi.

Untuk bisa menghadirkan segala kebaikan dari teh secara optimal, tidak bisa sembarangan.

Makanya Jagapati.com yang berkecimpung di dunia online health e-tailer ini mengadakan Jagapati Fun Class. Ini jadi upaya mereka untuk mengedukasi masyarakat luas tentang makanan dan minuman yang baik untuk kesehatan.

Kali ini bersama Sila Tea House, sebuah kedai teh di Bogor, Jagapati.com memperkenalkan teh lebih dekat pada para penikmatnya, seperti saya.

Teh putih produksi Sila Tea House. (Foto: Belanga.id/Anisa)

Dalam acara yang berlangsung pada 2 Maret 2019, Redha Ardias, Tea Mixologist dan Co-founder Sila Tea House, menjelaskan cara meracik, menyeduh dan menikmati teh yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

“Seorang tea mixologist biasanya akan menentukan konsep terlebih dahulu sebelum meracik, siapakah targetnya, untuk dinikmati pada momen apa, dan berfungsi untuk apa,” terang Redha saat acara dimulai.

Baca juga: Teh Talua, Minuman Khas Legendaris Penunda Lapar

Redha melanjutkan bahwa hal awal yang harus dipahami adalah klasifikasi ketubuhan dari teh. Soalnya, kualitas teh dipengaruhi letak daun teh yang dipetik, dan ini ada klasifikasinya.

Daun teh terbagi menjadi beberapa jenis, dimulai dari yang berada di pucuk, yaitu flowery orange pekoe dan orange pekoe, lalu pekoe, dan pekoe souchong yang makin mendekati batang.

Kata pekoe sendiri berasal dari bahasa Cina dan merujuk pada bulu halus yang hanya ada di daun teh termuda.

Tiap-tiap jenis daun teh ini mempengaruhi grade dari teh yang disajikan. Semakin daun teh menjauhi pucuk dan mendekati batang, karakteristik rasa yang dihasilkan daun teh akan lebih pahit.

Redha Ardias, Tea Mixologist dan Co-founder Sila Tea House, sedang berbagi cerita tentang teh. (Foto: Belanga.id/Anisa)

Sudah memperkenalkan jenis-jenis daun teh, Redha lanjut menjelaskan cara terbaik menyeduhnya. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu tipe daun teh, suhu air seduhan, rasio air, durasinya, alat seduh, dan berapa kali akan diseduh.

“Untuk mendapatkan cita rasa teh sebenarnya dari masing-masing jenis teh, dibutuhkan perlakuan yang baik dan sesuai,” ujar Redha.

“Secara umum, takaran teh untuk kebutuhan penyajian normal adalah 1 gram teh untuk 70 ml air.” Redha, dengan tangan cekatan mulai mempersiapkan teh untuk diseduh.

“Berbeda lagi untuk tea cupping,” katanya menjelaskan sesi yang sedang berlangsung, yaitu sesi untuk menilai rasa dan kualitas teh seduhan, “karena perbandingannya menjadi 1 gram teh untuk 50 ml air, supaya mendapat rasa yang lebih pekat.”

Suhu air seduhan tergantung pada warna daun teh yang akan diseduh. Semakin putih warna daun, semakin rendah suhu air untuk seduhannya, dan semakin cepat juga durasi seduhannya.

Memperhatikan suhu air seduhan mempengaruhi hasil dan khasiat maksimal yang didapat dari minum teh, sobat icip. Biasanya suhu air untuk menyeduh teh berkisar dari 80oC, atau ketika gelembung pertama muncul pada air yang direbus, sampai 100oC ketika gelembung air mulai meletup-letup.

Alat seduh yang digunakan juga dapat menentukan hasil rasa yang didapatkan. Redha memberikan contoh penggunaan poci tanah liat yang menambahkan rasa spesial tersendiri yang datang dari pocinya. Jadi nggak heran kalau teh poci menjadi minuman legendaris di kota Tegal.

Redha Ardias (Tea Mixologist) menyiapkan 5 teh untuk dicicipi peserta Fun Class Jagapatidotcom (02/03). (Foto: Belanga.id/Anisa)

Tips lain yang diberikan Redha adalah lebih baik menyeduh teh dengan menggunakan air yang kadar mineralnya rendah. Ia menyarankan untuk menghindari penggunaan air ledeng untuk menyeduh teh, karena bisa merusak keaslian warna, aroma, dan rasa teh.

Sudah selesai menyeduh, tentu sampai pada puncak acaranya: ngeteh! Ada banyak cara menikmati teh, namun triknya ada tiga langkah.

Pertama, dekap cangkir teh dengan kedua tangan untuk menyesuaikan suhu tubuh kita dengan suhu teh. Kedua, hirup aroma teh untuk mengenal jenis campuran bahan apa yang ada di dalam teh.

Dua langkah ini membuat tubuh lebih rileks, bahkan bisa meredakan sakit kepala dan stres juga.

Terakhir, seruput dan putar seteguk teh itu di dalam mulut agar seluruh palet rasa di lidah dapat mengidentifikasi rasa teh. Serupa dengan cara menikmati wine.

Baca juga: Tradisi Minum Teh Indonesia dari Masa ke Masa

Jangan khawatir kalau belum bisa mengidentifikasi daun teh apa yang kamu minum. Itu perlu banyak latihan dan mencoba berbagai cita rasa teh. Nikmati saja dengan tanpa beban.

“Ada yang bilang kalau tea master itu biasanya seruputnya paling kencang,” seloroh Redha. Beberapa peserta ada yang langsung sengaja menyeruput teh dengan suara kencang, membuat yang lain tergelak.

Peserta Fun Class Jagapatidotcom (02/03) mendekap cangkir teh sambil menghirup aroma teh (Foto: Belanga.id/Anisa)

Redha melanjutkan, “Jika berbicara soal penilaian tea cupping, ada tiga hal yang dinilai. First notes, main note, dan aftertaste.”

First notes adalah untuk mengetahui jenis bahan teh, misalnya: bunga atau rempah. Main note menjelaskan rasa yang bertahan lama di mulut, seperti manis atau asam. Sedangkan aftertaste adalah rasa akhir yang ditinggalkan teh, misalnya pahit atau asam.

Berakhirnya tea cupping juga mengakhiri kelas seru ini. Ternyata “ngeteh” memang bukan perkara sembarangan dan sekadar seduh daun teh saja.

Editor: Ellen Kusuma

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *