Logo Balanga

Tahu Bakso Ungaran yang Biasa Saja

 Tahu Bakso Ungaran yang Biasa Saja

Saya tidak bohong. Tahu bakso, makanan khas kampung halaman saya, Ungaran, sebuah kecamatan di Kabupaten Semarang, sungguh biasa saja.

Hanya tahu yang diisi dengan bakso. Sudah. Begitu saja. Bahkan, sejauh pengetahuan saya, sejarahnya pun biasa saja.

Awalnya, ada seorang ibu di Ungaran ingin membantu perekonomian keluarga dengan berbisnis. Dia terpikir untuk menjual tahu yang diisi bakso. Singkat cerita, bisnisnya ini dan idenya diikuti orang-orang lain.

Tahu bakso pun kemudian menjadi makanan khas Ungaran. Ya mungkin ini lumayan untuk menjadi cerita motivasi, tapi untuk cerita sejarah? Rasanya sama sekali tidak spektakuler. Biasa saja.

Tidak seperti makanan daerah lain yang mungkin lahir karena adanya akulturasi budaya dan lain sebagainya. Selama saya tinggal di Ungaran, tahu bakso ini selalu saya sepelekan

Bahkan, kerap kali saya olok karena beberapa penjual menuliskannya dengan “tahu baxo”, bukan “tahu bakso”. Ini mau sok keren, sok gaul, atau bagaimana?

Meski biasa saja, saya tetap suka menyantapnya. Rasanya enak, ya tapi memang biasa saja. Tahu kan memang enak. Bakso juga enak. Ketika digabungkan, ya cocok-cocok saja.

Biasanya, tahu bakso ini saya makan di sore hari dengan dicocol ke sambal kecap agar lebih nikmat. Sebab, tahu bakso yang biasa saya makan ini padat, sehingga memang cocok dimakan sore hari untuk mengganjal perut sampai waktu makan malam tiba.

Jadi, kegiatan menyantap tahu bakso ini benar-benar hanya kebiasaan saja. Tidak istimewa dan bukan sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Kebiasaan ini pun terjadi begitu saja.

Di Ungaran cukup banyak yang jual tahu bakso, ibu saya suka membelinya, dan biasanya tahu bakso tersebut akan tersaji saat sore hari di meja makan bersama dengan sambal kecap untuk cocolan.

Maka jadilah kebiasaan saya makan tahu bakso dengan cocolan sambal kecap di sore hari itu terbentuk.

Sialnya, pepatah lama yang mengatakan bahwa cinta tumbuh karena terbiasa itu sungguh nyata adanya. Tanpa saya sadari, ada cinta pada tahu bakso yang tumbuh dalam hati saya karena saya terbiasa menyantapnya dengan cocolan sambal kecap di sore hari.

Sayang, seperti kata pepatah lainnya lagi, kita baru benar-benar tahu betapa berharganya sesuatu/seseorang ketika kita kehilangannya.

Saat merantau untuk kuliah dan jauh dari tahu bakso, barulah saya sadar betapa saya ini mencintai tahu bakso yang selama di Ungaran saya anggap biasa saja, sama sekali tidak ada spesial-spesialnya, bahkan kerap saya olok-olok.

Sungguh saya rindukan sore-sore saya di rumah menyantap tahu bakso yang dicocol ke sambal kecap sambil menatap pemandangan Gunung Ungaran di belakang rumah atau sekedar menonton FTV cerita cinta remaja di televisi. Aihhh….nikmatnya!

Di perantauan, sore hari rasanya begitu berbeda. Tidak ada tahu bakso dan boro-boro bisa memandang Gunung Ungaran sore hari atau menonton FTV cerita cinta remaja, kamar kost saya saja tidak ada jendela dan televisinya.

Saya malah merasa kisah saya dengan tahu bakso ini persis dengan kisah-kisah cinta di FTV yang biasa saya tonton.

Saya nyaris tidak ada bedanya dengan karakter remaja perempuan di FTV yang tanpa sadar mencintai sahabatnya, seorang remaja biasa dan selalu ada di dekatnya, tapi selalu ia sepelekan.

Ah, bahkan kisah saya dengan tahu bakso ini pun sungguh biasa. Kalau difilmkan, rasa-rasanya akan dikritik, bahkan ditertawakan para penikmat film “Adiluhung” karena alurnya mudah sekali ditebak dan cheesy sekali.

Ketika di perantauan dan kerinduan pada tahu bakso ini melanda, saya hanya bisa browsing tahu bakso dengan laptop di kamar kost untuk melihat foto-fotonya yang ada di internet.

Saya tahu, browsing tidak akan mengobati rasa rindu saya dan malah membuat saya semakin tersiksa karena semakin terbayang akan kenikmatan tahu bakso yang masih hangat dan baru diangkat dari penggorengan, lalu dicocol ke sambal kecap.

Aduhh, sungguh benar kata Dilan, rindu itu berat! Rindu itu semakin berat karena saya juga hanya seorang pemudi biasa yang malah suka mendramatisir rasa rindu.

Sama saja seperti muda-mudi lain yang juga suka mendengarkan lagu cinta nan menggalaukan hati ketika sedang merindukan seseorang di ujung sana, hanya untuk membuat rasa rindu itu semakin menjadi-jadi.

Ketika saya bisa pulang kampung, rasanya saya senang sekali. Saya bisa kembali menikmati sore hari di rumah, menyantap tahu bakso, sambil mencocolnya ke sambal kecap.

Tidak lupa, saat kembali lagi ke perantauan, tahu bakso ini saya bawa sebagai oleh-oleh, bersama dengan makanan khas kota Semarang, yakni lumpia dan bandeng presto.

Namun, seperti yang sudah saya duga, seorang mbak di kost yang mencicipi oleh-oleh saya berkomentar, “Aku paling suka bandengnya nih, kalo yang tahu bakso ini biasa aja sih.” Ah, bagus! Stok tahu bakso yang saya bawa jadi aman.

Namun, seperti yang sudah saya katakan di awal, saya tidak bohong. Tahu bakso ini memanglah biasa saja. Hanya tahu diisi bakso. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Ungaran dan cobalah sendiri!

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *