Logo Balanga

Soto Betawi Afung, Bukti Percampuran Budaya di Glodok

 Soto Betawi Afung, Bukti Percampuran Budaya di Glodok

Soto Betawi Afung yang resepnya sudah bertahan lebih dari 3 dekade. (Foto: Belanga/AnisaGiovanny)

Kawasan pecinan Glodok menjadi rumah aneka kuliner yang menjadi bukti terjadinya percampuran budaya. Sebut saja Soto Betawi Afung yang sudah berdiri sejak 1982. Biar ada embel-embel ‘betawi’, kuliner ini sebenarnya hasil percampuran beberapa budaya sekaligus.

Soto Betawi Afung bukan disebut percampuran budaya karena penjualnya akrab disapa Koh Afung dan merupakan keturunan Cina di Indonesia, ya.

Fadly Rahman, dosen sejarah Universitas Padjajaran yang khusus meneliti sejarah kuliner, memberikan penjelasan yang dikutip BBC.com.

“Soto itu asalnya dari Cina, namanya Caudo. Kemudian ada pengaruh lain dari Arab dan India di Soto Betawi, yaitu penggunaan minyak samin atau ghee,” kata Fadly.

Pilihan menu di Soto Betawi Afung adalah soto betawi dan soto mie.

Perbedaan utama keduanya hanya di kuah. Soto betawi pasti bersantan, sedang soto mie kuah bening dengan tambahan mie kuning dan risol.

Masing-masing dihargai Rp45.000 per mangkuk. Tambahan risol untuk soto mienya seharga Rp3.000/per buah.

Isian yang ditawarkan berupa aneka potongan daging sapi, seperti daging urat, babat, kikil, lidah, tulang muda dan paru.

Suasana bagian muka rumah makan Soto Betawi Afung. (Belanga/Anisa Sekarningrum)

Kami segera memesan semangkuk soto betawi dan yang datang khas sajian hidangan bersantan itu.

Dalam satu porsinya terdapat potongan daging, tomat, kentang goreng, irisan daun bawang dan emping.

Baca juga: Rujak Soto, Kuliner Unik Khas Kota Gandrung

Potongan lauknya pun bisa dipilih sesuai selera. Kami memilih bagian daging dan paru, kemudian ada potongan

Ketika mencicipi kuah soto, rasa santannya ringan dan tidak terlalu berlemak. Lezat, apalagi dinikmati saat masih panas dengan asap mengepul!

Siti yang sudah bekerja di selama 30 tahun di sana berbagi resep kuah santannya. “Menggunakan sumsum dengan campuran santan ditambah susu,” jelasnya.

Soto Betawi Afung yang resepnya sudah bertahan lebih dari 3 dekade. (Foto: Belanga/AnisaGiovanny)

Selain kuah dengan rasa juara, potongan dagingnya juga empuk. Koh Afung menjelaskan kalau itu memang disengaja.

“Dagingnya harus empuk agar mudah dikunyah.”

Menurut Afung, bisnisnya bisa bertahan lebih dari tiga dekade karena kebersihan dan rasa yang tidak pernah berubah sedari dulu.

“Kunci utamanya adalah bahan yang selalu fresh,” aku Afung yang membuka warungnya dari pukul 6 pagi sampai 4 sore.

Selain di Gang Gloria, Glodok, Soto Betawi Afung ada juga di kawasan Pesanggrahan, Kelapa Gading, dan di dalam Mall of Indonesia, Jakarta.

Kalau mampir, sempatkan berbincang dengan Afung. Pria ini sosok yang ramah. Ia bahkan tidak segan-segan memberikan diskon atau makan gratis untuk pelanggan.

“Namanya orang tua bagi-bagi rejeki ke anak-anak,” jelas Koh Afung.

Mana tahu kalau kamu jadi pelanggan, kamu berkesempatan ditraktir sama Koh Afung, sobat icip.

Editor: Ellen Kusuma

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *