Si Manis dari Tanah Bugis

Jika ditanyakan kepada setiap orang yang sudah lama merantau, apa sih yang paling dirindukan dari kampung halaman? Yah, jawabannya bisa bermacam-macam. Mulai dari orangtua atau saudara, suasana rumah, teman masa kecil, kuliner, pokoknya banyak jawaban-jawaban nostalgia, deh.

Namun, bagi saya yang seorang perantauan dan punya hobi makan, jawabannya sudah pasti ketahuan, yup betul K-U-L-I-N-E-R. Hehehehe.

Zaman sekarang ini, kangen sama orangtua, saudara, atau teman bisa diobati menggunakan fasilitas teknologi yang serba canggih dan mudah, murah lagi. Lah, kalau makanan, mau pakai video call dengan resolusi setinggi langit pun supaya kelihatan jelas gambarnya, tidak akan terasa di lidah, guys.

Ada juga sih yang jualan makanan tradisional di beberapa kota, tapi menurut mitos yang beredar kalau makanan tradisional itu diolah di daerah lain, apalagi sudah melewati pulau, maka rasanya sudah beda. Jadi, selama merantau, saya biasanya mencari teman-teman yang berasal dari daerah yang sama.

Bukan berarti menutup diri dari teman-teman dari daerah yang lain, saya tetap bergaul dengan siapa saja, kok. Hanya saja, supaya lebih “klop” dan punya banyak kesempatan untuk minta tolong dibawakan makanan dari kampung halaman kalau pada mudik. Hahaha.

Bicara tentang makanan daerah, tiap-tiap tempat pasti memiliki ciri khasnya tersendiri. Nah, kalau di daerahku, Makassar, ada satu makanan tradisional yang selalu saya bawa sebagai oleh-oleh dan pastinya jadi rebutan teman-teman di kosan dan di kantor, yaitu barongko.

Namanya sih memang belum setenar “rekan” terdahulunya, seperti coto makassar, konro, ataupun pisang epe. Barongko ini merupakan makanan olahan yang dulunya, dulunya nih dari sejarah yang saya dengar dan baca, konon hanya bisa dinikmati dan disajikan sebagai jamuan penutup untuk para raja-raja Bugis.

Namun, itu dulu pada saat kerajaan Bugis masih berjaya. Di zaman sekarang, kudapan ini sudah semakin umum dan selalu tersajikan pada saat acara adat, pernikahan, ataupun syukuran dikalangan orang Bugis.

Barongko sendiri terbuat dari pisang kepok masak yang dihaluskan, lalu dicampur dengan telur, santan, dan gula pasir hingga membentuk suatu adonan lembut. Kemudian, perempuan-perempuan Bugis dengan sabar membuat cetakan-cetakan kecil, lalu adonan dibungkus rapi menggunakan daun pisang yang di atasnya dijepit dengan lidi. Setelah itu, kukus hingga matang.

Meskipun bahan dasar dan kemasannya terbilang sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya, kue ini menyimpan nilai fiosofis yang sangat tinggi, lho. Bahan utamanya terbuat dari pisang dan membungkusnya pun juga menggunakan daun pisang.

Hal itu bermakna bahwa haruslah sama apa yang terlihat di luar dengan apa yang tersimpan di dalam diri kita. Haruslah selaras antara perbuatan dan perkataan kita. Sangat filosofis sekali, bukan? Iya, dong.

Barongko akan lebih enak disajikan pada saat dingin. Jadi, lebih baik barangko disimpan terlebih dulu dalam kulkas selama satu malam. Dan, jika dipadukan dengan secangkir teh hangat, itu akan menambah sensasi cita rasa bagi penikmatnya.

Manis, gurih, dan lezat adalah kesan pertama yang ditangkap oleh setiap lidah ketika mencicipi kue tradisional khas daerahku ini, Tidak percaya? Coba deh cicipin kue barongko, dijamin selanjutnya akan kangen dengan kue ini. Bukan lebay lho ya, ini sudah terbukti pada teman-teman kosan dan kantor saya. Setiap pulang ke Makassar, kudapan ini kudu wajib masuk dalam daftar oleh-oleh dan selalu jadi rebutan mereka. Dicoba ya, biar tidak penasaran.

Referensi:

http://makassar.tribunnews.com/2013/04/04/konsuler-amerika-tanyakan-asal-usul-barongko

https://makassar.terkini.id/barongko-ditetapkan-warisan-budaya-indonesia/

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *