Logo Balanga

Seutas Rindu dari Sepiring Mie Lethek

 Seutas Rindu dari Sepiring Mie Lethek

Mie lethek. Saat saya menuliskan cerita ini, baru ada 1814 postingan mie lethek yang diupload di media sosial Instagram. Jumlah yang terbilang sedikit jika dibandingkan dengan berbagai jenis mie lain yang popular di lidah masyarakat Indonesia, seperti mie ayam, yang dalam waktu bersamaan telah diunggak memih sebanyak 240.000 kali.

Berpuluh tahun tinggal di Jogja pun jarang sekali ada kawan yang meminta untuk diantarkan mencicipi mie kebanggaan warga Bantul ini. Padahal jika ditelisik lebih lanjut, citarasa mie lethek tidak kalah dengan berbagai mie ataupun kuliner lezat lainnya yang menjadi ciri khas Kota Jogja.

Mie Letek Mentah (Dokumentasi Pribadi)

Sekilas penampakan mie lethek terlihat serupa dengan bihun. Seolah pembeda keduanya hanya terletak pada warna semata. Bihun berwarna putih bersih, sedangkan mie lethek berwarna kecoklatan. Namun jika teman-teman pernah mencicipi olahan keduanya, umumnya bisa membedakan tekstur olahan bihun dan mie lethek meski menyantapnya dengan penutup mata.

Dalam Bahasa Jawa, lethek berarti kotor, yang merujuk pada mie yang berwarna kecoklatan. Tenang, penamaan demikian sama sekali tidak ada kaitannya dengan higienitas dalam proses pembuatannya kok. Pasalnya warna coklat muda pada mie lethek dipengaruhi oleh perpaduan bahan dasar mie, yakni gaplek (potongan singkong yang telah dikeringkan) dan tepung tapioka. Dari gaplek inilah diperoleh warna kecoklatan pada mie lethek. Warna yang kurang “cling” inilah yang akhirnya menjadi julukan mie tipis yang banyak diproduksi di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul ini.

Keunikan mie lethek tidak hanya bertumpu pada keberhasilan inovasi olahan singkongnya saja lho! Mie yang satu ini kerap mencuri perhatian publik karena melibatkan tenaga sapi dalam proses penggilingan bahan. Tenang, meski pembuatannya menggunakan tenaga sapi, namun kebersihan proses pembuatannya terjamin kok. Buktinya industri mie rumahan ini masih mampu bertahan dibalik ketatnya persaingan industri mie di Jogja.

Sebagai tambahan informasi saja, di Jogja, tepatnya di Kabupaten Bantul itu inovasi mie singkong tidak hanya berupa mie lethek saja. Di Kecamatan Pundong, singkong digunakan sebagai bahan dasar pembuatan mie pentil, yakni mie berbentuk gilig yang sekilas bentuknya mirip udon. Selain beda bahan, mie pentil dibuat dalam dua pilihan warna, putih dan kuning. Mie pentil inilah yang menjadi bahan dasar pembuatan mides alias mie pedes khas Pundong.

Olahan Mie Letek (Dokumentasi Pribadi)

Jika berniat icip-icip olahan mie lethek saat di Jogja, teman-teman bisa datang ke berbagai warung mie lethek yang tersebar di berbagai titik di Jogja. Tinggal sesuaikan saja dengan jarak penginapan kawan-kawan semua. Sebagai tambahan informasi, jam operasional warung mie lethek mirip jam buka warung bakmi jawa, yang umumnya mulai buka di malam hari.

Karena biasa diolah per porsi, hindari datang ke warung mie lethek dalam kondisi lapar ya! Waktu tunggunya itu lho, sulit dipredikasi! Apalagi kebanyakan warung mie lethek itu masaknya per satu porsi. Sebagai gambaran saja ya, satu porsi mie lethek biasanya dibuat selama 10 hingga 15 menit. Itu kalau masaknya pakai kompor. Kalau pakai arang perlu waktu lebih lama lagi.

Umumnya seporsi mie lethek bisa dinikmati mulai harga 15 atau 20 ribu rupiah. Cukup terjangkau, bukan? Selain dijual dalam porsi siap santap, ada pula mie lethek yang dijual dalam bentuk mentah. Kemasan ecer mie lethek mentah untuk 5-6 porsi di warung tetangga dijual dengan harga Rp 4.500, saja.

Seperti halnya mie pada umumnya, mie lethek dapat diolah dengan cara digoreng ataupun direbus. Tinggal dibumbui bawang putih, kemiri, merica dan garam sesuai selera lalu taburi dengan bawang merah goreng saja mie lethek tak kalah nikmatnya dengan mie lokal lainnya. Soal topping bisa ditambah sesuai dengan teman-teman semua. Yakin sayang banget kalau sampai terlewat beli mie lethek mentah saat berkesempatan berkunjung ke kota gudeg.

Kalau dimasak pagi hari sih lebih awet jika digoreng, namun kalau mau disantap malam hari paling pas kalau direbus. Mengapa demikian? Jawabannya kembali merujuk pada bahan dasar mie. Karena mie dibuat dengan campuran olahan singkong (gaplek), selain memerlukan takaran air yang pas, kalau masaknya direbus wajib langsung disantap dan dihabiskan saat kuah masih panas. Dibiarkan sebentar saja niscaya mie lethek rebus akan cepat menggumpal. Dengan alasan yang sama, olahan mie lethek goreng lebih aman untuk dijadikan bekal.

Yakin nih nggak ingin nyobain?

 

Salam hangat dari Jogja,

Retno Septyorini

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *