in ,

Sejarah Rempah: Dari Mesir Kuno hingga Bernilai 21,3 Triliun!

Dipakai untuk makanan, kosmetik, sampai pengawetan mayat!

Rempah-rempah asli Indonesia. (Foto: Belanga.id/Rikko R.)

Berbicara tentang kekayaan rempah Indonesia mungkin tidak akan ada habisnya. Menilik sejarah rempah di masa lampau, anugerah ini yang membuat negara lain menjadi iri hati dan serakah, sehingga ujung-ujungnya melakukan penjajahan seperti yang dilakukan Portugal dan Belanda.

Namun, bagaimana rempah bisa begitu populer di masanya? Bagaimana sejarah perkembangan komoditas ini dari waktu ke waktu?

“Rempah-rempah sudah ada sejak lama, sudah digunakan sejak Zaman Mesir Kuno,” jelas Hassan Wirajuda, pada pembukaan acara International Forum on Spice Route (IFSR), Selasa, 19 Maret 2019.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah itu melanjutkan, “Dahulu, komoditas yang paling penting dalam perdagangan laut ya rempah.”

Yang termasuk rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang memiliki aroma atau rasa yang kuat dan digunakan dalam jumlah kecil pada makanan sebagai pengawet, atau perisa dalam masakan.

Rempah-rempah biasanya dibedakan dari tanaman lain yang digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman obat, sayuran beraroma, dan buah kering.

Digunakan Sejak Mesir Kuno

Sejarah rempah mencatat bahwa sejatinya ia telah digunakan pada zaman Mesir Kuno, sekitar 3500 SM. Kala itu, masyarakat setempat menggunakan berbagai jenis rempah untuk makanan, kosmetik dan pengawetan mayat.

Catatan resmi pertama terkait penggunaan rempah ditulis pada 3000 SM oleh bangsa Assyria yang merupakan campuran dari Turki, Iran, Irak dan Suriah.

Enam abad kemudian, sebuah temuan arkeologi di peradaban Sumeria (peradaban kuno Mesopotamia) menyimpulkan bahwa cengkeh sudah populer di Suriah.

sejarah rempah
Kayu manis dan bunga lawang sebagai salah satu primadona komoditas rempah. (Foto: pexels)

Pada abad ke 2000 SM, nusantara telah menjadi urat nadi perdagangan laut antara dunia barat dan timur. Komoditas yang diperjualbelikan kala itu termasuk lada dan jenis rempah lainnya.

Lanjut di abad 1224 SM, lada telah digunakan untuk pengawetan jasad Firaun Ramses II. Jenis rempah tersebut diketahui ditabur di atas hidungnya.

Pada masa yang sama, ditemukan sisa-sisa biji zaitun, ketumbar, dan lada hitam di bekas markas tentara Romawi di Lippe, Eropa.

Pada abad 1000 SM, kota Damaskus di Suriah menjadi pusat perdagangan distribusi rempah-rempah melalui jalur sutera.

Kemudian, di abad 992 SM Ratu Sheba memberikan hadiah kepada Raja Sulaiman (Solomon) berupa rempah-rempah dalam jumlah besar.

Beralih ke abad 500 SM, orang Yunani mulai menyadari pentingnya rempah-rempah sebagai suplemen sekaligus obat-obatan.

Baca juga: 7 Tempat Ini Jawaranya Kuliner Ubud!

Dua abad kemudian, bangsa Arab dan bangsa Fenisia (yang menetap di Lebanon) untuk pertama kalinya mengenalkan rempah-rempah ke benua Eropa.

Menyusul Arab, masyarakat Molluca (Maluku) juga memperdagangkan cengkeh sampai ke Cina, India, dan Arab pada abad 200 SM.

Satu abad kemudian, pedagang Arab membuka jalur perdagangan maritim ke India, Cina dan seluruh Kepulauan Maluku.

Pada tahun pertama Masehi, perdagangan rempah antara Romawi dengan India terjadi.

Selanjutnya pada 550 M, pedagang Bisantium Yunani Kuno membeli rempah-rempah di Sri Lanka.

Pada masa ini, rempah rempah sudah mulai menjadi komoditas dimana Venesia memonopoli perdagangan.

Perdagangan Rempah di Indonesia

Masyarakat Ternate baru menyadari nilai ekonomi dari cengkeh pada tahun 1371.

Kekhalifahan Turki yang merebut Konstantinopel pada 1453 menjadi pintu perdagangan antara Asia dan Eropa.

Aroma cengkeh dengan nilai ekonominya mulai tercium bangsa Portugis. Dipimpin Alfonso de Alburqueque, Portugis mulai masuk ke Nusantara pada 1453-1515.

Tidak mau kalah, Ratu Spanyol Isabella menyiapkan ekspedisi dengan 3 kapal dibawah pimpinan Christopher Colombus guna mencari sumber rempah pada 1492.

Tujuh tahun berikutnya, Vasco da Gamma melakukan pelayaran dan berhasil menemukan rempah dari India.

Pada 1511, Portugis menaklukan Malaka setahun berikutnya mereka melakukan ekspedisi ke daerah penghasil utama rempah Maluku.

Sepuluh tahun kemudian, pada 1521, Spanyol berhasil sampai ke Maluku dibawah pimpinan Kapten Sebastian Del Caho.

Setahun berselang, Aceh menjadi bandar dagang utama bagi pedagang Islam yang membawa cengkeh, lada ke Laut Merah.

Pada 22 Juni 1527, Fatahillah dan pasukannya berhasil mengusir tentara Portugis yang sebelumnya menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa. Kala itu, Sunda Kelapa merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara.

Tahun 1596, Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tujuan utama mereka hanya satu yakni mencari rempah-rempah!

Setahun berikutnya, mereka kembali pulang dan berhasil membawa buruannya tersebut.

Beberapa jenis rempah-rempah di Indonesia yang dipamerkan di acara International Forum on Spice Route 2019 di Jakarta (19/3). (Foto: Belanga.id/Rikko R.)

Seolah tidak puas, Negeri Oranye itu kembali melakukan ekspedisi ke Maluku dan berhasil membuat penjualan sukses di Banda, Ambon dan Ternate.

Pada 1602 Belanda berniat memonopoli rempah dengan mendirikan perusahaan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

Tiga tahun berikutnya Belanda berhasil mengusir Portugis dan menguasai cengkeh di Maluku.

Cara curang juga ditempuh VOC dengan merusak tanaman cengkeh agar harga rempah-rempah stabil. Pada 1682 Banten yang saat itu menjadi pusat penghasil lada terbesar direbut VOC.

Memasuki tahun 1700, rempah-rempah mulai meredup karena meningkatnya popularitas komoditas lain seperti kopi, cokelat dan tembakau di Eropa.

Di tahun 1795, Amerika Serikat mulai mengikuti perdagangan rempah. Pada 1843, Kapten Inggris John Bell mengenalkan rempah-rempah di Kepulauan Karibia, Grenada, yang saat ini menjadi salah satu produsen rempah terkemuka di dunia.

Napoleon III membuka Terusan Suez yang menjadi jalan strategis bagi perdagangan.

Penjualan rempah terus berlanjut sampai Amerika menjadi konsumen terbesar hingga 1900an.

Saking populer dan berharganya, pada 1937, Raja Inggris bahkan menerima ganti sewa berupa seratus shilling dan satu pohon lada.

Rempah-rempah memang memiliki masa lalu yang memukau dan kelam. Lalu, bagaimana nasib industri rempah saat ini?

Pada tahun 2011, data menunjukan bahwa penjualan rempah-rempah memiliki nilai perdagangan sebesar US$1,5 miliar per tahun atau setara Rp21,3 triliun.

Biar pamornya meredup dari kejayaan masa silam, rempah-rempah tetap menjadi komoditas yang patut diperhitungkan.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by Rikko Ramadhana

Work hard, pray harder.

Content AuthorYears Of Membership
Greenfield Yogurt Drink, minuman yogurt sehat.

Greenfields Yogurt Drink Hidupkan Semangat Anak Muda

Ubud Food Festival 2019 Optimis Sajikan Rempah untuk Dunia