Logo Balanga

Sebuah Cerita tentang Nikmatnya Mandai

 Sebuah Cerita tentang Nikmatnya Mandai

Kesederhanaan adalah konsep kehidupan yang selalu ditanamkan oleh Uma sejak aku kecil.

Menahan rasa iri dengan mainan baru yang dimiliki oleh teman-teman masa kecilku dulu adalah hal tersering yang begitu sulit aku terapkan, bahwa aku juga ingin seperti mereka yang selalu punya mainan baru.

Atau saat aku berkelahi dengan anak tetangga, padahal jelas dia yang salah duluan mengambil makanan milikku, atau memancing dengan ejekan dan sebagainya. Dan anehnya saat semua itu aku adukan dengan Uma, Uma akan balik memarahi aku, kalau aku yang harus mengalah dan tidak boleh melawan.

Kekritisan itu semakin memuncak saat melihat di mana-mana orangtua akan sigap membela anaknya jika bermasalah dengan orang lain; terlebih aku yang sering kena omelan ibunya anu atau bapaknya anu saat pernah bertengkar atau sekedar bermasalah hal sepele, padahal jelas-jelas bukan aku yang salah duluan!

Dan saat aku balik ke Uma, bisa kalian bayangkan lagi-lagi aku yang kena balik sakit dua kali lipat. Hey..bisakah Uma membelaku sekali saja? Begitulah sekilas fenomena yang menurutku begitu aneh yang kualami saat kecil, namun mengingatnya begitu mengesankan.

Setelah tumbuh remaja aku baru sadar bahwa semua yang dilakukan oleh Uma dalam membimbingku dulu adalah keinginan kuat kepada anaknya agar berjiwa besar.

Ini bukan perkara menjelaskan kenakalanku ketika kecil dulu.  Ada satu hal lagi yang membuatku selalu senang mengingatnya, jauh dari rasa sebal seperti kisah yang kuceritakan tadi teman.

Diumurku yang baru beranjak memasuki masa sekolah dasar, masih sangat kuingat di benak ini tentang gambaran suasana hangatnya rumah dulu.

Rumah panggung yang kami huni teramat sederhana dengan keadaan yang jauh dari kata luas, tiang dan dindingnya yang terbuat dari kayu ulin dan masih beratapkan daun rumbia kala itu.

Rumah kami sangat kecil dengan bagian ruang tamu, anjungan satu untuk bagian kamar dan dapur yang selalu berasap saat Uma ada di sana.

Saat teman-teman bermain ke rumahku dengan riang aku mengatakan kepada mereka jangan pulang dulu sebelum kalian mencicipi makanan Ibuku!

Dalam ingatanku Uma selalu menghidangkan masakan yang teramat sederhana namun selalu menjadi ingatan karena rasanya.

Makanan itu tidak terbilang “wah” karena dalam pikiranku dulu makanan orang kaya di luar sana hanya ayam atau pizza.

Sebut saja makanan favorit keluarga kami dulu hanya urap (sejenis lalapan dari daun pucuk ubi), osengan parutan ikan gabus, telur mata sapi dengan kuning di tengah yang selalu setengah matang dan amat menggugah selera!

Serta tentu saja, ikan asin sepat atau puyau yang begitu nikmat disajikan dengan nasi hangat berkuah teh manis dan sambal terasi, sesekali ikan asin ini disajikan Abah dengan membuat cacapan (semacam acar) dari irisan bawang setengah matang, asam jawa dan cabe perawit yang banyak.

Diantara semua masakan Uma, sebenarnya ada satu hidangan yang selalu membuatku tak pernah bosan untuk menyicipinya, bahkan hidangan yang satu ini masih sering aku buat walau sedang di tanah perantauan.

Hidangan itu bernama Mandai… kalian yang berasal dari luar pulau Kalimantan mungkin begitu asing dengan nama masakan ini, bahkan tidak tahu sama sekali.

Namun bagi kami penduduk suku Banjar dan Dayak sebagian besar amat menyukai masakan ini karena rasa gurih dan nikmatnya begitu sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Karena rasa Mandai begitu nyaman di lidah dan nikmat! Sebelum aku ceritakan bagaimana Uma membuat hidangan ini akan aku jelaskan terlebih dahulu apa itu Mandai.

Hidangan ini berasal dari kulit buah Cempedak atau buah Nangka yang dikupas kulitnya, dipotong-potong dan diasinkan dalam toples yang berisi air yang sudah dicampur garam.

Rasa asin itu lah yang membuat kulit buah ini akan awet seperti difermentasi, namun tak hanya berbulan-bulan, sampai tahun-tahun berikutnya pun mandai ini akan tetap awet tersimpan asalkan tutup toples itu masih tertutup rapat.

Di daerah hulu sungai provinsiku Kalsel, bisa hampir dipastikan rata-rata di dapur rumah mereka pasti banyak menyimpan asinan mandai ini berjejer dengan toples-toples besar.

Dan percayalah, permandangan itu selalu membuat air liurku hampir menetes karena sudah membayangkan asinan mandai ini diolah tumisan dan tersaji di atas piring berisikan nasi hangat.

Berbicara mengenai resep, aku memperhatikan Uma ketika memasak Mandai ini tidak ada teknik yang dirasa sulit karena memasaknya begitu amat sederhana.

Potongan kulit cempedak/nangka diambil secukupnya dari toples tadi, dibasuh dulu lalu dipotong kecil-kecil sesuai selera kita.

Selanjutnya irisan bawang merah dan bawang putih digoreng terlebih dahulu di atas sedikit minyak hingga tercium aroma harumnya.

Barulah potongan mandai tadi dimasukan ke dalam wajan sampai berwarna agak kecoklatan tandanya mau matang,

Uma lalu memasukan sedikit garam dan penyedap rasa. Jadilah masakan yang bernama Tumis Mandai, kalau di daerah Jawa mungkin masakan ini bernama Oseng-oseng Mandai, hehe.

Dan soal rasa jangan ditanya, aku begitu yakin terutama masyarakat Banjar sangat mengidolakan makanan khas yang satu ini!

Ketika lulus dari pesantren setelah 7 tahun lamanya, aku melanjutkan pendidikanku ke kampus Islam Negeri di kota Banjarmasin.

Tentu jarak semakin jauh dengan asal kampungku berada di hulu sungai sana.

Menjadi anak kost memang selalu dituntut untuk mandiri, baik dalam hal mengurus kebutuhan, bersosialisasi dan urusan mengisi perut sangat berbeda dengan kehidupan kita di rumah karena makanan akan selalu siap sedia dari tangan lincahnya Ibu.

Nah, ketika jauh dari orangtua aku selalu berusaha rajin memasak di dapur kost, dengan menu apa saja yang paling mood sesuai kemauan, dan kalian tahu kah apa menu favoritku walaupun masakan ini tidak bisa sering aku hidangkan bersama teman-teman lainnya.

Tidak lain adalah “Mandai”. Ya, selain rasa enak dan nikmatnya yang tak terkira, ada satu alasan mengapa aku begitu menikmati membuat masakan ini.

Dengan aroma mandai yang telah siap dihidangkan aku selalu teringat akan kasih sayang Uma, mendidik anaknya dengan cara sederhana agar siap menjadi orang besar yang sukses namun tidak melupakan perjuangan sakitnya hidup dulu.

Abah dan Uma bukan berasal dari keluarga orang berpunya namun didikan mereka lah yang membuat aku dan adik bisa mengenyam pendidikan sampai di pencapaian ini. Kita boleh miskin harta, namun tidak boleh miskin kemauan, harapan dan cita-cita!

Kadang ketika memasak tumis Mandai ini mataku sembab dan ingin menangis walaupun hanya dalam diam, mengingat perjuangan Uma dan didikan serta nasehat mulianya.

Dan sampai saat ini, aku melanjutkan studi S2 ke pulau seberang, aku selalu meminta Uma menitipkan atau mengirimkan paket yang berisi asinan Mandai ini walaupun hanya setoples kecil.

Teman-teman sesama perantauan dari Banjar yang menuntut ilmu di sini pun juga senang dan lahap ketika makan bersama dengan menu utama Mandai olahanku ini.

Kalau stok mandai sudah habis, sesekali aku nitip dengan teman yang pulang kampung untuk membawakan asinan mandai ini dari sana. Karena aku selalu merindukan kasih Uma dari aroma masakan Mandai, maka itu aku tak pernah bosan untuk menghidangkannya.

Begitulah, kisah kesederhanaan dari masakan Tumis Mandai yang selalu ada dalam ingatanku tentang hangatnya cinta Uma. Sesukses dan sekaya apapun jadinya kita nanti, jangan pernah melupakan hal kecil yang pernah diajarkan orangtua kita, termasuk dalam menyukai hidangan masakan daerah serta turut melestarikannya.

Yogyakarta, 23 Des 2017

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *