in

Sebuah Cerita di Balik Budaya Minum Teh

Budaya menyeduh daun untuk diminum sudah dimulai sejak 500 ribu tahun lalu.

Adakah di antara kamu yang terbagi antara jadi tim penikmat kopi atau penikmat teh? Kedua minuman ini punya rasa yang berbeda dan penggemar yang sama fanatiknya, hingga membuat “budaya” penikmatnya sendiri.

Di tengah kehidupan kota yang serba sibuk dan meminta manusia-manusianya selalu melek, kopi mungkin muncul sebagai juaranya.

Alasannya simpel, kopi identik dengan kandungan kafein yang menjadi energy booster kawula sibuk di kota.

Yang mungkin tidak banyak orang ketahui adalah, serupa kopi, teh juga mengandung kafein.

Kafein ini yang dipercaya membantu mata dan tubuh untuk tahan begadang semalaman atau lebih “melek” terhadap sekitarnya juga.

Kadar kafein di dalam teh memang tidak sebanyak kopi, namun sudah cukup untuk memberikan tambahan energi.

Menurut Natasha Turner, penulis Huffington Post dan dokter naturopati, kafein dalam teh tidak memberikan efek samping pada sistem saraf karena mengandung zat bernama l-theanine.

Zat ini yang membuat jantung tidak berdebar-debar lebih cepat saat mengonsumsi kafein pada teh.

Senyawa asam amino satu ini berperan besar untuk membantu tubuh lebih rileks agar mudah tidur. Ia bahkan berperan untuk mengurangi berat badan dan menghasilkan stimulus “mood” bahagia.

Selain itu, teh juga mengandung antioksidan dan antikolesterol yang baik bagi tubuh. Teh hijau dan teh hitam bahkan mengandung antioksidan 10 kali lipat lebih banyak daripada sayur dan buah.

Zat antioksidan yang dikandung teh antara lain antosianin dan proantosianidin yang berperan membantu tubuh melawan peradangan.

Ada pula polifenol dan katekin yang membantu melawan radikal bebas dan mencegah kanker, serta flavonoid yang menetralkan rasa.

Budaya minum teh

Minum teh dan merasakan dampak kesehatan darinya bukan hal yang baru terjadi kemarin sore.

Penelitian arkeologi menemukan bukti bahwa menyeduh daun untuk kemudian diminum sudah dilakukan sejak 500.000 tahun yang lalu.

Di Cina sendiri, budaya minum teh sudah dikenal sejak sekitar 3.000 SM, di masa Kaisar Shen Nung berkuasa. Ia adalah ahli obat-obatan tradisional yang punya kebiasaan minum air hangat.

Sebuah anekdot mengisahkan bahwa pada suatu hari di 2737 SM, ada daun teh yang jatuh ke cangkir Kaisar Shen Nung tanpa sengaja. Daun itu mengeluarkan aroma khas dan mengubah warna airnya menjadi kemerahan.

Hal ini akhirnya justru menjadi penemuan, karena sang kaisar merasa lebih segar setelah meminum air rebusan daun teh tersebut.

Sejak saat itulah Kaisar Shen Nung meminum teh dan meracik teh menjadi obat-obatan, hingga akhirnya teh menjadi minuman resmi di kerajaan dan pada akhirnya kebudayaann minum teh meluas dan dilakukan semua orang.

Nyata terjadi atau tidak anekdot tersebut, budaya minum teh menyebar sampai ke negara-negara tetangga dan mitra dagang Cina, seperti Jepang, Korea, maupun Inggris.

Kaisar Cina memperkenalkan teh pada Ratu Inggris yang kemudian jatuh cinta dengan teh. Sang ratu sampai memerintahkan untuk mencari tanaman teh dan menanamnya di salah satu daerah jajahannya, yaitu Sri Lanka.

Baca juga: Menikmati Tea Time a la Indonesia

Ini adalah awal dari berkembangnya jenis teh menjadi varian Camelia Sinensis dan Camelia Asamika.

Camellia Sinensis adalah teh yang tumbuh di dataran tinggi bersuhu dingin, seperti Cina, Jepang. Cirinya adalah ukuran daun yang lebih kecil, tapi tebal. Hasil seduhannya memiliki aroma lembut, warna lebih terang dan rasa lebih lembut.

Kebalikannya, varietas Camellia Assamica berasal dari dataran rendah bersuhu tropis, seperti India, Sri lanka, Indonesia. Cirinya adalah daun yang lebih lebar, tapi tipis. Seduhan daun tehnya menghasilkan aroma lebih kuat, warna lebih pekat, dan rasa lebih kental di lidah.

Menilai kualitas teh

Untuk mengetahui kualitas teh yang baik, kamu dapat memperhatikan dari bentuk daunnya. Daun terbaik terdapat pada bagian pucuk teh.

Ukuran daun semakin lebar menunjukkan letak daun berada mendekati batang dan jauh dari pucuk. Artinya, rasanya akan sedikit lebih pahit daripada pucuk daun teh.

Ada berbagai jenis daun teh yang digunakan untuk seduhan. Dari pucuk hingga daun yang mendekati batang, semua punya julukan dan kualitasnya sendiri.

Flowery orange pekoe, misalnya, adalah kuncup daun yang belum berbunga, dan kadang di dalamnya terselip bunga. Sedang orange pekoe adalah pucuk daun teh yang sudah mekar dan merupakan tingkatan daun terbaik yang biasa disajikan sebagai specialty tea.

Namun seringkali teh yang beredar secara umum sudah berbentuk bubuk. Ini lebih sulit untuk menilai kualitasnya. Tapi, sebagai alternatif, kamu dapat mencium aromanya untuk mengetahui kualitas dan keasliannya.

Jika aroma teh terasa sangat kuat, kemungkinan teh tersebut menggunakan pewangi tambahan. Teh alami berbau lebih lembut dan segar, sehingga ketika diseduh aroma segar pun dapat tercium seketika.

Cerita teh di bumi pertiwi

Di Indonesia, teh ada sejak 1684. Andreas Cleyer, seorang warga Jerman, membawa teh dari Jepang dan menanamnya sebagai tanaman hias di Jakarta.

Baru pada 1824 teh dengan bibit dari China ditanam di Buitenzorg, atau yang sekarang dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Tiga tahun setelahnya, bibit teh mulai ditanam di Limbangan, Garut, Jawa Barat.

Kesuksenan penanaman itu membuat perkebunan teh meluas ke Cisarupan di Garut hingga ke Wanayasa di Purwakarta. Saat itu Indonesia masih di bawah pemerintahan Belanda.

Gubernur Van Den Bosch yang menjabat saat itu mengharuskan teh ditanam oleh rakyat dengan menggunakan politik tanam paksa. Sejak saat itulah budaya minum teh jadi akrab dengan rakyat Indonesia.

Meskipun tampaknya di Indonesia kini ia kalah pamor dari kopi, tapi teh menjadi salah satu minuman yang bisa diminum berulang kali, bergelas-gelas dalam suasana apapun dan di manapun.

Mau diminum sendiri atau bersama keluarga cocok. Mau diminum hangat atau dingin bisa. Minum teh pakai atau tanpa gula juga menjadi pilihan yang tidak asing di Indonesia.

Meminjam jingle dari sebuah produsen teh ternama di Indonesia: apapun makanannya, minumnya tetap teh.

Penulis: Anisa Sekarningrum

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Urban Salad Circus Jadi Alternatif Menu Sehat Bagi Jakartans

10 Kuliner Jogja Ini Bikin Balik Lagi, dan Lagi