Logo Balanga

Sayur Pare dan Perayaan yang Sederhana

 Sayur Pare dan Perayaan yang Sederhana

Setiap kali aku pulang, hal pertama yang ia siapkan untuk menyambut kedatanganku adalah memasak makanan kesukaanku. Ah bukan, lebih tepatnya sayur kesukaanku.

Sayur Pare, demikian kami biasa menyebutnya, telah menjadi makanan favoritku sejak kecil. Meski pahit, namun aku begitu menyukainya. Aku tidak ingat dengan begitu jelas kapan pertama kali aku menyukainya dan mengapa aku menyukainya. Dan sepertinya memang selalu demikianlah rasa suka dan cinta bekerja.

Sayur Pare selalu menjadi menu utama ketika aku pulang ke rumah. Biasanya Emak menambahinya dengan tempe goreng yang dipotong kecil-kecil dan teri.

Tak lupa, khusus untukku Emak menambahkan sedikit lebih banyak cabai. Emak tak pernah lupa kalau aku suka masakan pedas.

Momen makan bersama pun kemudian menjadi begitu nikmat, hangat, dan khidmat. Nikmat karena menunya, hangat karena kasih dan sayangnya, dan khidmat karena syukur kami atas pertemuan ini.

***

Terhitung sudah enam tahun lebih aku hidup terpisah dengan keluarga. Aku pertama kali berani dan direlakan untuk pergi jauh menyeberang pulau setelah berusia 19 tahun. Sebelumnya aku nyaris tak pernah ke mana-mana. Di rumah saja. Hidup bersama keluarga.

Terpisah jarak sejauh 1.000 km membuatku harus pandai-pandai menimbun rasa rindu kepada keluarga, terutama kedua orang tuaku.

Sebab biar bagaimanapun, misi hijrahku ke Jogja belumlah selesai. Hijrah yang diiringi dengan segenap asa dan limpahan doa dari mereka di Lampung nun jauh di sana.

Dulu, keputusanku untuk nekad berkuliah sebenarnya sempat mendapatkan pertentangan dari orang tua. Sebab kondisi ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan.

Bapak ‘hanyalah’ seorang petani biasa yang menggantungkan hasil panen pada ketidakmenentuan cuaca dan Emak berjualan kue di pasar. Ditambah lagi, usia mereka pada saat itu sudah cukup tua. Bapak 72 tahun dan Emak sudah 62 tahun.

Di antara keluarga kami, tidak ada yang bersekolah hingga bangku perguruan tinggi. Hanya 1 orang yang tamat aliyah. Itu pun dulu karena ikut nenekku di Blitar Jawa Timur.

Satu orang lagi, kakakku pas, hanya lulusan SMP. Hanya 4 orang yang lulus SD sementara tiga orang lainnya tidak tamat.

Kondisi itu justru semakin memacuku untuk berjuang sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa aku bisa berkuliah dan lulus dengan gelar sarjana. Dan ternyata aku bisa.

Gayung bersambut lagi. Berkat doa yang selalu mereka panjatkan (aku sangat percaya mereka tak pernah berhenti berdoa untukku), kini aku bahkan berkesempatan kuliah sampai jenjang S2 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan bantuan beasiswa dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Medium

Jarak itu sebenarnya tak pernah ada, pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. Demikian penyair Joko Pinurbo pernah berkata dalam salah satu syairnya. Joko Pinurbo mungkin benar.

Tapi bagiku, tak hanya pertemuan dan perpisahan saja yang dilahirkan oleh perasaan. Hal lain yang ditimbulkan oleh keduanya, yakni kerinduan, juga dilahirkan oleh perasaan.

Perasaan yang saling dan selalu terhubung kuat antara aku dengan ibuku. Mungkin karena aku adalah anak bungsu, dari sepuluh bersaudara, yang konon memang memiliki kedekatan emosi yang lebih tinggi.

Sampai suatu hari, seperti biasa dalam sebuah perbincangan telepon, aku selalu bertanya di rumah sedang masak apa.

Mendengar pertanyaanku, saat itu emak tak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat. Lalu dengan suara berat dan mengeluarkan isak ia menjawab singkat, “Sayur pare, Nak.”

Batinku tersentak. Aku mampu menangkap dengan jelas mengapa hari itu ia memasak sayur pare. Emak sedang rindu padaku. Aku tahu itu. Aku mampu merasakannya.

Keesokan harinya, aku langsung mencari-cari warung yang menyediakan sayur pare di sekitar tempat tinggalku. Aku memakannya dengan lahap, dan menitikkan air mata.

Sayur Pare telah menjadi medium antara aku dan emak untuk mengungkapkan rindu, dan mungkin sedikit menguranginya walau terkadang malah semakin bertambah karenanya.

Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. Demikian Eka Kurniawan memberi judul pada salah satu bukunya. Aku mengamini apa yang dikatakan Eka.

Dan karenanyalah, pada Maret 2015 lalu aku pulang untuk membayar rinduku pada rumah. Kala itu aku pulang tanpa memberitahu Emak sebelumnya.

Ajaib! Seakan tahu kalau hari itu aku pulang, Emak memasak sayur Pare yang juga dibaginya menjadi dua: pedas dan tidak pedas. Ternyata nalurinya sebagai seorang begitu kuat. Aku pun memakannya dengan sangat lahap, sambil menitikkan air mata. Antara terharu dan bahagia.

Sejak November 2016 lalu, aku indekos pada sebuah keluarga yang sangat baik hatinya. Semua anak indekos di sini, diperlakukan layaknya anak dalam sebuah keluarga. Kami juga makan di dalam bersama keluarga bapak-ibu kos.

Tahu bahwa aku suka sayur Pare, minimal sebulan sekali pasti ibu kos memasak sayur pare. Bahkan kadang dalam sebulan bisa lebih dari dua kali. Keruan saja aku senang karena bisa menikmati sayur Pare.

Tapi ternyata itu tak cukup membantu mengurangi rasa kangenku pada Emak di rumah. Sayur pare malah membuatku #JadiKangenIbu. Rasa kangen yang bertubi-tubi dan menjadi-jadi.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *