Lebah adalah salah satu spesies penting di bumi ini. (Foto: Freepik/desEYEns)
in

Satu Juta Spesies Bakal Punah, Ketahanan Pangan Ikut Terancam

Satu sampai 8 juta spesies diperkirakan akan punah dalam 10 tahun ke depan.

Laporan berjudul Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) ini dirilis pada Senin, (06/05) di Paris, Perancis. Ia merupakan hasil dari lembaga penelitian yang telah berafiliasi dengan PBB, dan telah ditandatangani oleh perwakilan 132 negara anggota.

Dengan kontribusi ratusan ahli dari 50 negara dan 15.000 penelitian lainnya sebagai sumber pelengkap, laporan yang disusun lebih dari tiga tahun ini menemukan fakta yang mengerikan.

Diprediksi dalam 10 tahun ke depan, ulah manusia akan membawa kepunahan untuk satu sampai delapan juta spesies.

Aktivitas manusia mengeksploitasi alam untuk kebutuhan makanan hingga meningkatkan ekonomi disebut jadi faktor yang sangat berperan dalam kondisi saat ini.

Populasi manusia bertumbuh sangat pesat sejak 1970, ekonomi global tumbuh empat kali lipat sementara volume perdagangan internasional naik 10 kali lipat.

Untuk memenuhi segala kebutuhan—baik sandang, pangan, dan papan—alam dieksploitasi habis-habisan.

Hutan-hutan digunduli untuk membuka lahan permukiman. Padang rumput diubah menjadi area tanaman pangan. Hutan tua diubah menjadi tanaman industri.

Hewan laut dan darat pun bernasib serupa. Mereka diburu dan dibunuh hanya sebagai sumber makanan atau komoditi yang menguntungkan.

Laporan tersebut menyatakan 100 juta hektar hutan tropis telah hilang diubah jadi lahan peternakan hingga lahan sawit dalam kurun waktu 1980 hingga 2000. Padahal mereka berperan sebagai paru-paru dunia.

Pada 1992 wilayah perkotaan meningkat pesat, akhirnya polusi dari plastik pun tidak terhindarkan. Jumlah sampah plastik pun meningkat sampai sepuluh kali lipat.

Diketahui juga ada 300-400 juta logam berat, pelarut, dan limbah beracun dari industri dibuang ke sistem air dunia. Ini telah memengaruhi setidaknya 267 spesies, 86% di antaranya penyu, 44% burung laut, dan 43% mamalia laut.

Lahan basah yang dulunya melimpah sejak tahun 2000 hanya tersisa tersisa 13%. Kualitas tanah menurun tajam dan membuat produktivitas tanah di permukaan bumi ikut turun.

Sekitar 100-300 juta orang kini menghadapi ancaman risiko banjir dan angin topan karena rusaknya habitat dan perlindungan pantai.

Situasi bumi saat ini pun menimbulkan kekhawatiran, karena sekitar satu juta spesies akan punah dalam beberapa dekade mendatang.

Dalam 10 tahun terakhir, keadaan ini meningkat hingga ratusan kali lipat. Sepertiga mamalia laut, 40% amfibi masuk dalam daftar kepunahan yang mengkhawatirkan.

Ketahanan Pangan Ikut terancam

Salah satu spesies yang ditakutkan sedang menuju kepunahan adalah lebah. Hilangnya jenis serangga satu ini bisa jadi masalah serius bagi ketahanan pangan dunia.

Lebah berperan sebagai penyerbuk alami untuk membuat tanaman tumbuh subur dan meningkatkan produksi pertanian khususnya sayuran dan buah-buahan.

Jika lebah punah, bisa dibayangkan betapa banyak lahan pertanian yang akan mengalami gagal panen.

Dampak dari jumlah lebah yang menurun ini sudah dirasakan oleh beberapa negara yakni Oman, Irlandia, Norwegia, Polandia, dan Swiss.

Tanaman beri liar adalah salah satu yang akan ikut terancam punah bila lebah hilang. (Foto: Freepik/jcstudio)

Di Oman, hilangnya populasi penyerbuk karena panas ekstrem yang terkait perubahan iklim telah mengakibatkan penurunan jumlah tanaman liar, termasuk buah ara dan beri.

Berkurangnya keanekaragaman hayati bisa membuat produksi makanan jauh lebih rentan terhadap guncangan-guncangan, seperti wabah penyakit dan hama.

Produksi makanan pun dikhawatirkan akan ikut menurun dan tidak dapat mengimbangi kebutuhan manusia yang populasinya terus meningkat.

Kondisi saat ini jika tidak dihentikan akan memengaruhi kehidupan manusia seutuhnya. Bukan tak mungkin manusia akan sangat kesulitan ketika hewan dan tumbuhan yang selalu jadi penopang hilang tanpa sisa.

“Kesehatan ekosistem tempat kita semua dan spesies lainnya bergantung memburuk lebih cepat dari sebelumnya,” tutur Robert Watson, Ketua Panel dan Ahli Kimia asal Inggris, seperti yang dilansir dari npr.org.

“Bisnis dan keuangan juga bisa terancam, fondasi ekonomi akan terkikis, mata pencaharian, keamanan pangan, kesehatan hingga kualitas hidup di seluruh dunia akan turut terancam.”

Mengurangi Kerusakan

Tren negatif akibat kerusakan ekosistem alam ini masih akan dirasakan hingga 2050 mendatang.

Namun, bukan berarti sebagai manusia kita berdiam diri atas segala kerusakan yang sudah dilakukan. Perlu langkah aktif dan transformatif dari masyarakat dan pemerintah untuk mencegah bencana lingkungan.

Laporan dari IPBES ini juga menyatakan perlunya peran pemerintah yang tidak hanya fokus pada paradigma pertumbuhan ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) juga mestinya tidak lagi dijadikan parameter utama untuk tolok ukur kinerja pemerintahan.

Sebaiknya, pemerintah mengadopsi pendekatan yang mencakup kualitas hidup dan memikirkan efek keberlanjutan yang bisa dinikmati untuk jangka panjang.

Pemerintah dunia juga harus bekerjasama untuk mengatasi perubahan iklim yang dilakukan oleh manusia.

Laporan ini juga menganjurkan penghapusan insentif finansial yang memiliki dampak pada keanekaragaman hayati, seperti penggunaan bahan bakar fosil.

Dengan dirilisnya laporan ini, diharapkan banyak pihak mulai sadar akan kritisnya kondisi bumi dan keanekaragaman hayatinya saat ini, dan dapat memicu dan memacu warga dunia untuk berubah.

Karena, sejatinya belum terlambat untuk bertindak memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advocate

Written by AnisaGiovanny

Content Author

Wida Winarno Kenalkan Tempe ke Seluruh Dunia

dim sum vegetarian

Resep Dim Sum Vegetarian, Cocok untuk Berbuka Puasa!