Sarsaparila, Minuman Legenda Sebelum Coca Cola

Sarsaparilla
Limun sarsaparilla (Foto: letsgoeatall.blogspot.co.id)

Dulu, bangsawan Jawa tidak hanya minum wedang. Mereka juga minum soda yang mirip Coca Cola, tapi asli diproduksi putra-putri bangsa.

Sarsaparila namanya. Sempat populer dengan nama saparella atau sarsi, minuman bersoda ini dihasilkan dari fermentasi batang tanaman sarsaparila.

Minuman ini juga sering disebut limun sarsaparila. Meski identik dengan buah lemon, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengambil makna limun sebagai “minuman manis dengan rasa buah dalam kemasan botol”.

Sarsaparila adalah minuman bersoda pertama di Indonesia. Minuman ini merajai pasar pada 1960-1970an, terutama di Pulau Jawa. Rasanya mirip root beer milik salah satu restoran cepat saji ala Amerika. Ternyata keduanya memang berasal dari fermentasi tumbuhan yang sama.

Sayangnya, minuman ini makin sulit ditemukan. Meski begitu, penggemar setianya tetap mencari jalan untuk menikmati segelas dingin sarsaparila.

Salah satunya di Yogyakarta. Warung Ys (dibaca Es) Sido Semi Mbak Mul menjajakan minuman legendaris ini. Bertempat di Kotagede, warung jadoel ini memang khusus menyediakan minuman jadul yang tenar di zamannya. Sebutlah wedang sitrun, wedang kopi tape, wedang sari dele, es strup, es citroen, es kathang idjo, dan tentunya es sarsaparila.

“Es limun sarsaparila ini sering menjadi klangenan untuk mengenang masa lalu,” tukas Fitria Yulianti, pengelola Warung Sido Semi dikutip dari Kompas. Ia mengaku banyak pelancong dari berbagai usia bertanya soal sarsaparila belakangan ini.

Baca juga: 

Minuman dengan rasa unik tersebut hadir dalam tiga merek di Yogyakarta, yakni Hercules, Manna, dan Jangkar.

Sayang, produsen tiga merek tersebut sudah tutup. Tersisa merek AyHwa yang terletak di Jalan Pandega Marta 100 dengan produksi terbatas.

sarsaparila cap badak

Limun sarsaparila cap Badak (Foto: adeknakemal.blogspot.co.id)

Lain lubuk, lain ikannya. Daerah Pematang Siantar di Sumatera Utara juga menjual sarsaparila dengan merek Badak. Konon, usia minuman ini telah mencapai 100 tahun lho!

Heinrich Surbeck adalah pria Swiss yang memelopori pendirian pabrik NV Ijs Fabriek Siantar pada 1916. Berpindahnya hak milik pun ikut mengganti nama pabrik menjadi PT Pabrik Es Siantar. Pabrik ini berinovasi dengan menciptakan beragam varian rasa soda seperti sarsaparila, anggur, dan jeruk.

Dalam waktu singkat, minuman cap Badak langsung diterima oleh masyarakat Siantar dan sekitarnya. Belanga jamin, semua generasi tua di Siantar pasti tahu soda cap Badak.

Kalau ingin mencicipinya, kamu bisa datang ke rumah makan Medan. Tepatnya di Jalan KH Wahid Hasyim. Jangan kaget kalau pelayannya bertanya mau badak atau tidak. Karena yang dimaksudkan adalah minuman sarsaparila cap Badak.

Kamu wajib menyesapnya selagi dingin. Minta segelas es batu, lalu tuang minuman cap Badak ke dalamnya. Ada juga yang menambahkan susu kental manis agar lebih ciamik.

Penasaran dengan minuman satu ini? Bagi kamu yang berdomisili di Pulau Jawa, kunjungi gerai rumah makan Medan atau Padang Express. Kalau tinggal di Jakarta, kamu bisa meluncur ke Bubur Mangga Besar untuk menikmati kesegaran si Badak!

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up