in

Sarapan itu penting atau tidak?

Kamu tim #sarapan atau tidak #sarapan?

Bicara soal sarapan, biasanya mengundang pro dan kontra. Percaya atau tidak, banyak yang mengungkapkan bahwa makanan yang pertama kali dikonsumsi tiap harinya akan menentukan kualitas gizi harian. Sarapan dipercaya sebagai ritual penting.

Sebagian percaya bahwa sarapan penting bagi tubuh dan produktivitas mereka, sementara sebagian lainnya merasa tidak perlu sarapan.

Tapi benarkah pernyataan ini?

Susan Hartono, M.Sc., CH.t, seorang Ahli Gizi Holistik dan Praktisi Intuitive Healing, menjelaskannya pada Belanga Indonesia.

“Dulu orang percaya bahwa sarapan itu harus karana itu adalah the biggest meal of the day,” ujar Susan.

(Foto: dokumen pribadi.)

“Lalu, sarapan juga membantu menstabilkan gula darah. Maka, orang yang tidak makan pagi cenderung lebih lapar, lemas, tidak produktif, dan punya tendensi untuk overeating di malam hari.”

Susan memaparkan bahwa hal ini benar dan telah dibuktikan sebuah penelitian. Hanya saja, penelitian serupa dengan objek berbeda menunjukkan hasil berbeda pula.

“Akhirnya nggak bisa membuktikan kalau hal tersebut signifikan,” jelasnya.

“Pola makan setiap orang itu berbeda. There is no one size diet fits for all,” lanjut Susan.

Jadi kuncinya adalah selalu mendengarkan kebutuhan tubuh kita masing-masing.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia juga mengungkapkan hal yang sama.

Kecukupan rata-rata gizi seseorang yang dianjurkan per hari ditentukan berdasarkan umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, ukuran aktivitas fisik, genetik, hingga keadaan fisiologis seseorang untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Masih tentang sarapan, lulusan University of California jurusan Food Technology ini menjelaskan bahwa makanan pertama memang menentukan kualitas gizi harian manusia.

Tapi makanan pertama seseorang tidak selalu berlangsung di pagi hari. Sarapan atau makan pagi sendiri hanya masalah waktu.

Yang sebetulnya tidak lebih penting diperhatikan, melainkan kualitas gizi makanan yang diasup.

Jadi bagaimana mengatur pola makan sehari-hari agar gizi menjadi seimbang?

Susan mengatakan bahwa segera setelah bangun tidur selalu usahakan untuk minum 1-2 gelas air mineral untuk mengatasi dehidrasi tubuh ketika tidur.

Kebanyakan orang cenderung merasa lapar dalam 2 jam setelah bangun tidur. Ini yang akhirnya membuat sebagian orang percaya bahwa mereka butuh sarapan.

Padahal faktanya makan pagi belum tentu bermanfaat bagi semua orang.

“Ada orang yang pagi itu memang lapar, ada orang yang pagi tidak lapar. Sarapan akan menguntungkan buat mereka yang lapar,” papar Susan.

Ia lantas melanjutkan, “Jadi, buat mereka yang tipenya lapar di pagi hari tapi ditahan-tahan demi diet, lantas menolak makan, itu tidak bagus untuk tubuhnya.”

Sebaliknya, co-author dari buku Autoimmune and Me juga menjelaskan bila ada orang yang nafsu makannya kecil di pagi hari dipaksa sarapan, hal ini pun tidak menguntungkan untuk orangnya.

Menurut Susan, yang lebih penting daripada waktu makan itu sendiri adalah mendengarkan apakah kita sudah butuh makan atau belum.

Susan yang lahir di Jakarta, 7 April 1974, ini mengatakan, “Selalu kuncinya adalah mendengarkan tubuh kita. It’s biological need.”

“Tubuh kita yang lebih pintar. Kadang-kadang manusia itu mencoba mengakali tubuh dengan logical thinking, hanya karena orang bilang ini-itu.”

“Padahal setiap orang punya biological cues yang berbeda-beda.”

Ia menekankan bahwa rasa kenyang itu sendiri tergantung sama kualitas makanan yang dikonsumsi. Gizi yang cukup akan membuat tubuh kenyang lebih lama.

Jadi, sesungguhnya daripada sekadar memperhatikan waktu makan, lebih penting memperhatikan makanan yang dikonsumsi, kualitas serta porsinya.

Dari sini, makanan pertama akan menjadi penentu kebutuhan makan kita selanjutnya.

Saran dari Susan adalah menghindari makanan yang tidak mengandung kalori sebagai makanan pertama.

Mengonsumsi makanan yang empty calorie membuat tubuh ketagihan dan terus-menerus menginginkan makanan yang empty calorie, padahal tidak sehat untuk tubuh.

Alasannya, karena makanan empty calorie dapat menyebabkan tubuh menjadi cranky, mood swing, dan mengalami insulin drop, dan pada akhirnya mempengaruhi mood, hormon, juga membuat cepat merasa lapar.

“Pokoknya empty calorie akan set up a bad day,” tegas Susan.

Sarannya, “Pilih high quality meal yang mengandung protein, lemak baik, atau serat untuk makanan pertama.”

Setiap harinya manusia membutuhkan konsumsi protein, lemak baik, serat, antioksidan, serta gizi mikro seperti vitamin dan mineral, serta air.

Tentunya kebutuhan gizi tersebut lagi-lagi perlu disesuaikan dengan aktivitas masing-masing, sehingga akhirnya kebutuhan porsi dan tingkat kekenyangan setiap orang pun berbeda.

Susan tidak menyarankan makanan yang tinggi gula dan tinggi karbohidrat untuk makanan pertama.

Karbohidrat sudah mengandung gula yang tinggi dan dapat memicu insulin cepat naik, namun cepat turun drastis juga.

Inilah yang menyebabkan perut mudah lapar, walau sudah banyak mengonsumsi banyak karbohidrat.

Intinya, semakin banyak konsumsi gula yang dimakan, semakin cepat juga rasa lapar muncul.

Untuk mengakali kebutuhan karbohidrat, ahli gizi lulusan Pusat Kajian Gizi (SEAMEO) UI ini menjelaskan bahwa karbohidrat juga terkandung dalam makanan berserat.

Kadarnya memang tidak besar, namun makan banyak sayur dan buah sudah menjawab kebutuhan karbohidrat manusia per hari.

Jika, kamu belum tahu apa makanan pertama yang cocok untuk tubuhmu, cobalah untuk trial and error mengenai hal tersebut.

Yang jelas, untuk asupan di pagi hari, makan sesuatu yang gentle agar perut tidak kaget. Hindari makanan yang pedas sebagai makanan pertama.

Misalnya, makanan yang halus dan mudah dicerna, atau makanan yang minim pengolahan, seperti telur rebus, buah potong, atau jus sayur.

Imbauan dari Susan, hindari jus buah, karena biasanya jus membuat kadar vitamin dalam buah hilang setelah menjadi ampas. Lebih baik langsung makan buahnya saja.

Hindari juga mengonsumsi air dingin di pagi hari, karena air dingin menyebabkan suhu tubuh menurun, sehingga enzim dalam tubuh tidak dapat bekerja dengan baik.

Jadi, apakah sarapan itu penting atau tidak? Jawabannya, tergantung kebutuhan tubuhmu!

Penulis: Anisa Sekarningrum
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

5 Bekal Makanan Ini Pasti Bikin Kamu Nostalgia!

Astaga, Indomie Alami “Penistaan” di Australia!