in

Salah Kaprah, Tumpeng Itu Harusnya Tidak Dipotong!

Yang benar adalah dikeruk.

Ternyata ini salah! (Foto: pixabay/mufidpwt)

Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang familiar dengan adat Jawa, tumpeng tentu tidaklah asing. Keberadaan tumpeng bisa ditemui dengan mudah saat ada acara besar, syukuran hingga hari ulang tahun.

Tumpeng yang bentuknya mengerucut layaknya gunung kerap kali dipotong puncaknya dan ditaruh ke piring, bersama dengan lauk pauknya, lalu diserahkan kepada orang paling tua atau terkasih.

Ternyata kebiasaan memotong pucuk tumpeng itu keliru.

Kebiasaan ini ditengarai muncul karena tradisi potong kue saat ada acara, yang lebih praktis, cepat, dan mungkin lebih elok dipandang. Lantas diaplikasikan sama pada tumpeng.

Walaupun sering dilakukan banyak orang, tapi ini cara yang kurang tepat dalam menikmati tumpeng sebagai produk budaya. (Foto: Gunawan Kartapranata [CC BY-SA 3.0])

Padahal, sebagai sebuah tradisi makan, ada tata cara dan filosofinya sendiri untuk menyajikan tumpeng.

“Semua makanan itu tidak sembarangan, ada arti dan filosofinya. Termasuk dengan aturan tumpeng yang harusnya tidak dipotong,” ujar Chef Gilang Wicaksono di acara Afternoon Tea dan IGA Award di Izzara, Jakarta (27/7).

Di acara yang sama, Ketua Indonesian Gastronomy Association (IGA) Ria Musiawan menjelaskan lebih lanjut, “Tumpeng harusnya dikeruk dari samping, sampai bagian puncaknya jatuh, makin banyak yang mengeruk makin cepat sampai doanya.”

Mengeruk tumpeng adalah simbol berdoa dan kerja keras. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

“Saat mengeruk tumpeng, orang yang mengeruk panjatkan doa dalam hati, sertakan juga lauk pauk yang ada agar cita rasanya makin kaya,” papar Ria lebih lanjut.

Tumpeng harus dikeruk. Layaknya doa dan harapan, puncak atau pucuknya adalah doa tertinggi kepada Yang Maha Kuasa.

Jadi, ketika memotong pucuk tumpeng lebih dulu ditakutkan doa tidak sampai, karena sama saja memotong harapan, dan doa yang belum sampai ke tujuan.

Bentuk nasi tumpeng yang mengerucut ke atas dan rata ke bawah menggambarkan tangan manusia merapat dan menyembah Tuhan, selain itu bentuk tersebut adalah bentuk keselarasan bumi dengan Tuhan.

Lauk pauk yang menyertai nasi tumpeng pun tidak ada aturan bakunya.

Pada umumnya, sesuai tradisi turun temurun dari nenek moyang, lauk pauknya harus terdiri dari hewan darat, seperti ayam atau sapi, dan hewan laut, seperti ikan teri dan ikan asin.

Sayur mayur yang menjadi makanan pendamping tumpeng pun memiliki maknanya sendiri.

Kacang panjang, misalnya, melambangkan pemikiran yang jauh ke depan.

Atau, cabai merah yang sering ditaruh di pucuk tumpeng diibaratkan lidah api yang memberikan penerangan atau tauladan yang bermanfaat.

Pada hakikatnya, tumpeng sebagai sebuah produk budaya dan tradisi mengandung simbol, nilai, dan filosofi tersendiri.

Tidak hanya dari bentuk dan sajiannya saja, namun tata cara makannya juga memiliki makna.

Karena sekarang sudah tahu, tak ada salahnya mempopulerkan tradisi mengeruk tumpeng ini. Biar tidak salah kaprah lagi!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by AnisaGiovanny

Content Author

IGA Beri Apresiasi pada Tiga Tokoh Perempuan Ini!

Indonesia Meraih 1st Runner Up Dalam ASEAN Barista Championship 2019