in ,

Saking Cintanya, Warga Aussie Ini Bukukan Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia

Nicholas Molodysky atau Nick, yang dikenal sebagai pemilik akun Instagram @masak2dengannick meluncurkan buku “Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia — Rahasia Resep & Kisah di Baliknya” di Hotel Kuretakeso, Jakarta, Sabtu silam (10/8).

Launching buku Nick Molodysky.
Nick Molodysky saat peluncuran buku ketiganya Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia – Rahasia Resep & Kisah di Baliknya”. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Pria yang jatuh cinta dengan kebudayaan Tionghoa di Indonesia ini mengikuti hatinya untuk menyelami topik tersebut lebih dalam lagi, terutama tentang kulinernya.

Perkenalannya dengan kuliner Tionghoa Indonesia, atau yang dikenal juga sebagai kuliner peranakan, dipicu guru les yang mengajarinya Bahasa Indonesia.

Gurunya—orang Medan keturunan Tionghoa—terkadang membawakan masakan Cina untuk dicicipnya.

Alhasil, kejadian yang berlangsung lebih kurang sepuluh tahun silam itu membuat dia kepincut dengan dunia kuliner Tionghoa di Indonesia.

Keakrabannya dengan komunitas Tionghoa-Indonesia juga memberikan kesempatan pada Nick untuk mencoba beragam masakan Cina yang ada di negeri ini.

Nick melihat sejarah ratusan tahun silam, ketika orang Tionghoa menetap dan hidup berdampingan dengan warga setempat di wilayah yang kini disebut Indonesia.

Tentunya akulturasi budaya tidak bisa dihindari, termasuk dalam dunia kuliner.

Ia menemukan berbagai kuliner khas peranakan, dari yang masih sarat dengan ketionghoaannya hingga yang masih berakar Tionghoa, tetapi sejatinya sudah menjadi kuliner keseharian yang khas Indonesia.

“Aku bisa membuktikan sendiri kalau masakan Chinese di Indonesia itu memang mirip banget sama tempat asalnya,” cerita Nick sumringah.

Satu setengah tahun lalu, pria berkebangsaan Australia ini memulai risetnya tentang kuliner Tionghoa di Indonesia. Hasil risetnya inilah yang kemudian dibukukan dan diterbitkan PT Visimedia Pustaka.

“Proses riset dan nulisnya cukup lama karena butuh data, tapi menurutku ini menyenangkan dan menarik sekali.”

Dalam bukunya, Nick mengulas sejarah dan kampung halaman orang Tionghoa-Indonesia, pengaruh masakan Cina terhadap kuliner Indonesia, serta cerita unik di balik makanan, hingga resep yang bisa diaplikasikan.

“Aku ingin orang lebih ngerti soal Tionghoa, salah satunya dari makanan yang asalnya dari sana,” jelas Nick di acara peluncuran buku ketiganya ini.

Nick merasa, meski sudah hidup berdampingan sejak lama, banyak orang Indonesia yang belum tahu kalau banyak makanan khas Indonesia itu berasal dari Tiongkok.

“Ini pengetahuan umum yang penting dan menarik.”

Ia memberikan contoh kuliner yang menjadi bukti perpaduan budaya Tionghoa dan pula budaya lokal yang tumbuh di Indonesia, seperti bakso, bakmi sampai tahu.

Nick juga menyebutkan beberapa kuliner Tionghoa yang sudah membaur dengan budaya Indonesia, seperti bakmi ayam jamur, lumpia Semarang, siomai dengan bumbu kacang, nasi goreng kecap, hingga mi goreng Jawa.

Baca juga: Cerita dari Gang Gloria: Mie Kangkung dan Cakwe

Lebih lanjut, Nick menjelaskan bahwa beberapa nama hidangan keseharian di Indonesia pun diadopsi dari bahasa Hokkien, salah satu bahasa daerah dari Negeri Tirai Bambu.

Kata ‘bakso’, misalnya, adalah bahasa Hokkien untuk menyebutkan bola daging. Bak adalah daging, dan so adalah sesuatu yang bulat.

Baik di Tiongkok maupun di Indonesia, bakso itu sama saja, biasanya menggunakan daging sapi atau ikan. Perbedaan yang paling kentara adalah aneka bumbu dan bahan pelengkap lain untuk menikmati semangkuk bakso.

Kata ‘bakmi’ dan ‘bakcang’ pun sama-sama berasal dari bahasa Hokkien, yaitu mi dengan daging, dan beras ketan dengan isian daging cincang dibungkus daun bambu.

“Aku ingin memberikan informasi kalau kita tidak perlu takut memakan makanan Tionghoa.”

Buku yang ditulis pria lulusan Universitas Sydney ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan visual yang menarik. Pembaca pasti tidak mudah bosan saat menikmatinya.

Dengan ketebalan 140 halaman, buku ini menghadirkan 40 resep kuliner peranakan Tionghoa beserta tips memasaknya.

Resepnya tidak hanya berkutat dengan makanan berat, tetapi juga jajanan khas peranakan seperti choipan, tahu hua atau kembang tahu, onde-onde, lumpia goreng dan lain-lain.

Baca juga: 7 Jajanan Legendaris Glodok Ini Bikin Nagih!

Nick menambahkan, “Semua resep yang ada di sini (red. buku karyanya) menggunakan bahan-bahan yang halal.”

Ia menuliskan resep-resep yang mudah diikuti. Semua orang bisa memasaknya. Nick berharap buku ini bisa menjadi inspirasi untuk orang-orang yang tertarik membuka bisnis kuliner khas masakan Tionghoa-Indonesia.

Selanjutnya, Nick berencana untuk menerjemahkan buku ini ke dalam Bahasa Inggris. “Supaya banyak orang yang tahu,” jelasnya sambil sumringah.

Pria beranak satu ini menambahkan, “Kemudian aku ingin menulis soal makanan-makanan daerah yang orang lain belum familiar. Khususnya kuliner di daerah Timur Indonesia.”

Buku “Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia — Rahasia Resep & Kisah di Baliknya” sudah bisa didapatkan di Gramedia di wilayah Jabodetabek seharga Rp154.000.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by AnisaGiovanny

Content AuthorYears Of Membership
Kampoeng Legenda 2019

80 Kuliner Legendaris Indonesia Hadir di Kampoeng Legenda Jakarta

Feature Image

Mengenang Rijsttafel, Makan Mewah Ala Belanda