Logo Balanga

Ronde Sekoteng Jago: Sebuah Cara Sederhana Menikmati Dinginnya Kota Salatiga

 Ronde Sekoteng Jago: Sebuah Cara Sederhana Menikmati Dinginnya Kota Salatiga

Tidak terasa, separuh bulan September sudah terlewatkan dan kini tinggal menanti datangnya musim hujan. Ketika musim hujan tiba, seringkali orang-orang memukimkan diri dan bermalas-malasan di rumah karena cuaca yang tidak mendukung aktivitas di luar sana.

Namun bagi saya, musim hujan di kota Salatiga adalah musim yang tepat untuk keluar rumah menikmati sajian khas makanan dan minuman penghangat badan. Ada banyak sekali sajian yang bisa disantap di kota ini, seperti gudeg koyor, pecel keong, wedang uwuh, sampai wedang ronde.

Berbicara tentang wedang ronde yang terkenal di kota Salatiga, kita tidak boleh melewatkan nama yang satu ini, ronde sekoteng jago atau yang sering disingkat dengan ronde jago.

Warung Ronde Jago terletak di Jalan Jenderal Sudirman No.9, tepat dibelakang Pasar Raya. Lokasinya cukup unik karena untuk mencapainya kita harus masuk ke gang kecil di antara Warung Sate Sapi Suruh dan Polsek Salatiga.

Walaupun tempatnya tidak terlalu luas dan berada di gang, ternyata sudah banyak orang yang rela antri untuk makan di sini, lho. Suasana seperti inilah yang membuat saya tidak sabar menikmati wedang ronde di kala sendu hujan.

Sambil menunggu wedang ronde yang saya pesan, saya berbincang-bincang dengan Pak Johny Indrayanto, sang pemilik warung ronde jago yang kebetulan sedang ada di samping saya mengenai kilas balik warung ronde berumur setengah abad lebih ini.

Warung ronde jago didirikan sejak tahun 1964 di Jalan Kesambi. Kemudian, selang dua tahun, warung ini berpindah tempat ke lokasi yang sekarang. Kepemilikan dari warung ini pun sudah mencapai generasi ketiga, di mana sekarang dikelola oleh Pak Johny sendiri.

Saya bertanya kepada Pak Johny kenapa warung ronde ini bernama Ronde Sekoteng Jago. Lantas, beliau bercerita bahwa awalnya warung ini menjual jamu jago yang dirintis oleh buyutnya, jamu yang pada masa itu sangat populer.

Alhasil, wedang ronde masih sebatas pelengkap makanan di sini. Seiring berjalannya waktu, jamu jago kian kurang populer dan hanya menyisakan wedang ronde. Adapun nama sekoteng berasal dari wedang jahe yang disajikan secara panas. Jadilah nama warung ini, Ronde Sekoteng Jago.

Pegawai warung sedang menyiapkan ronde yang sudah saya pesan. Saya diajak Pak Johny untuk masuk ke dalam. Mula-mula, pegawai itu memasukkan bahan-bahan wedang ronde, yaitu kolang-kaling, kacang, ronde, irisan jeruk kering, irisan manis tangkeh kering, agar-agar, dan sagu mutiara dalam cangkir kecil.

Bahan-bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk kecil dan dituang dengan air jahe panas serta ditabur rumput laut. Cara meracik wedang ronde dan isian di dalamnya merupakan salah satu kekhasan ronde jago yang belum pernah saya jumpai di warung yang lain.

Beraneka ragam isi makanannya membuat ronde yang satu ini mempunyai citra rasa yang spesial. Warung ronde jago mempunyai tiga varian, antara lain wedang ronde sekoteng, wedang kacang, dan wedang ronde kacang tanah.

Menu andalan disini yaitu wedang ronde sekoteng. Oleh Pak Johny, saya diberi tahu bahwa wedang ronde sekoteng mempunyai khasiat untuk kesehatan lambung dan daya tahan tubuh.

Setelah pesanan saya datang, saya kemudian segera menikmatinya. Cuaca kota Salatiga yang sedikit mendung disertai hawa dingin yang menusuk tulang menjadikan suasana sore kota terasa nyaman sekali untuk menikmati semangkuk wedang ronde sekoteng.

Menurut saya, wedang ronde ini nikmat sekali. Jahenya sangat terasa, isi di dalamnya memperkaya citra rasanya, dan sesekali ada kejutan-kejutan kecil dari irisan jeruk serta manisan tangkeh.

Kacangnya empuk dan rondenya kenyal, cocok berpadu dengan hanyatnya air jahe. Dari tempat duduk, saya dapat mengetahui bahwa warung ini sudah banyak dikunjungi artis kondang, seperti Deddy Mizwar, almarhum Bondan Winarno, Doyok, hingga Chua Kotak lengkap dengan wallframe yang penuh dengan foto, review, dan tanda tangan.

Untuk harga, saya bisa menikmati menu yang disajikan dengan harga yang relatif murah. Ketiga menu wedang di warung ini dipatok harga Rp12.000, sedangkan versi campurannya dipatok harga Rp13.000.

Selain menjual wedang ronde, ronde jago juga menyajikan beberapa jajanan pasar, seperti gorengan, roti, tape ketan hijau, dodol, dan bipang. Ada juga beberapa jenis camilan di dalam toples-toples tua yang berjajar rapi di atas meja.

Kini, ronde jago juga membuka cabang di kota Semarang. Terletak di Sim Square SMC Telogorejo, Ronde Jago hadir dengan konsep ala kafe-kafe instagenic. Menu yang ditawarkan juga tidak jauh beda, termasuk wedang ronde sekoteng.

Makanan khas kota Salatiga ini dapat dinikmati oleh semua kalangan. Di samping harganya yang terjangkau, wedang ronde juga mempunyai banyak khasiat dan manfaat.

Dengan menjaga citra rasa yang sama sejak awal berdiri, ronde jago dapat disebut sebagai kuliner tradisional yang kini kian berkelas.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *