Logo Balanga

Romantisme Sambal Terasi dan Orek Tempe

 Romantisme Sambal Terasi dan Orek Tempe

Jika ditanya pasangan paling serasi di dunia ini, saya pasti menjawab sambal terasi dan orak-arik tempe–atau saya mengenalnya sambal goreng tempe.

Bahkan, kedua makanan itu lebih sangat romantis ketimbang pasangan dalam Twilight.

Bagaimana tidak, kangen kepada sosok ibu selalu melintas dalam benak ketika mereka bertemu.

Masakan ibu memang tak ada tandingannya. Tidak ada yang tidak lezat. Tapi jika harus memilih, sambal terasi dan orek tempe jadi juaranya.

Ceritanya entah bermula dari mana.  Yang pasti waktu itu, saya selalu meminta Ibu untuk masak menu yang sama selama beberapa hari.

Sayangnya, hanya sambal terasi saja yang bisa bertahan lebih dari tiga hari. Sambal goreng tempenya, tidak. Dan itu membuat saya jengkel.

“Sambal goreng tempenya mana?” tanya saya saat membuka tudung saji di ruang makan yang luasnya tak lebih dari seperempat lapangan sepak bola.

“Bosen. Itu terus menunya. Lagian si adik lebih suka daging ayam ketimbang tempe,” jawabnya sambil membalikan goreng ayam yang menguning dalam wajan yang penuh dengan minyak goreng.

Oh iya, waktu itu ternyata saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dan si adik, baru masuk taman kanak-kanak.

Dan juga di usia si adik waktu itu, telah menjadikannya orang paling menjengkelkan dan “batu” di seluruh galaksi.

Awalnya tak terima. Ibu lebih sering memasak makanan berbahan daging ayam ketimbang sambal goreng tempe.

Sebab saya berpikir, dia lebih memilih adik daripada saya.

Setelah makan bersama sebelum berangkat sekolah, Ibu bercerita.

“Kamu itu seperti kakek kamu. Sukanya makan sambal goreng tempe dengan sambal terasi. Apalagi yang pedas manis,” kenangnya.

Dulu, lanjut Ibu, kakek pasti menambah lagi nasi kalau sudah makan tempe buatan Ibu.

Saya hanya terdiam. Mendengarkan Ibu yang bersemangat mengenang masa lalunya.

“Nah sekarang, bukan Ibu tidak ingin memasak itu lagi. Tapi, Ibu tak cukup waktu untuk memasak kesukaan kamu dan si adik dalam satu waktu. Kamu tahu sendiri kan, sebelum mengajar, Ibu harus mengantar adikmu ke sekolahnya,” jelas Ibu dengan tutur yang begitu lembut.

Aku masih mendengarkan sambil menghabiskan sarapan dan mulai mencerna keduanya.

Sejak saat itu, sambal terasi dan sambal goreng tempe pasti hadir satu kali dalam seminggu. Ketika, Ibu libur mendidik di sekolah.

Seiring berjalannya waktu, Ibu masih mengetahui makanan kesukaan anaknya. Bahkan semenjak saya tidak tinggal di rumah untuk melanjutkan kuliah di luar kota, Ibu selalu menyajikan kedua makanan tersebut saat pulang.

Tak hanya itu, sampai hari ini, ketika saya mulai bekerja dan tinggal di kota yang lebih jauh dari rumah, Ibu akan dengan semangat memasak sambal terasi dan orek tempe itu.

Maka dari itu, saya selalu ingin bergegas menuju rumah dan menemui Ibu ketika dihadapkan dengan pasangan romantis itu.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *