Logo Balanga

Renyahnya Sajian Iwung Khas Tatar Sunda

 Renyahnya Sajian Iwung Khas Tatar Sunda

Pohon bambu memang milik nenek moyang asal Cina. Tapi, di tanah Jawa Barat, bambu masih tumbuh di mana-mana.

Selain karena batang bambu berguna bagi banyak hal, rupanya bagian tunas bambu pun tidak kalah lezat jika diolah menjadi masakan, lho.

Di Jawa Barat, tunas bambu atau dikenal juga dengan sebutan rebung atau iwung (dalam bahasa Sunda), dapat diolah menjadi lauk-pauk. Misalkan saja tumis iwung.

Tumis iwung memiliki rasa yang gurih, dan cocok disantap sebagai lauk dengan nasi. Sebagai pelengkap, adanya sambal pasti akan menambah kenikmatan sajian ini.

Biasanya, sebelum diolah menjadi tumisan, iwung yang sudah dirajang tipis dan berukuran pendek, lalu direbus dan ditambahkan garam ke dalamnya. Setelah itu, baru iwung bisa ditumis dengan bumbu rempah.

Agar rasa tumisan makin mantap, iwung pun diberikan bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, garam, dan merica secukupnya. Bumbu yang cukup sederhana bukan?

Sebaiknya, iwung ditumis tidak terlalu lama dan gunakan api yang sedang saja.

Agar mendapatkan tekstur tumis iwung yang lembut, tapi masih terasa ”gigitannya”, sebaiknya iwung ditumis tidak terlalu lama. Cukup 5-10 menit saja, maka tumis iwung sudah siap dilahap.

Di beberapa desa atau dusun di pinggiran kota Bandung, Ciamis, Tasikmalaya atau bahkan Cianjur, tumis iwung masih kerap ditemui di rumah pribumi.

Pasalnya, iwung pun cukup mudah didapatkan di pasar tradisional. Dengan kisaran harga bahan baku iwung yang relatif murah dan cara pengolahan yang sederhana, sama sekali tidak menyurutkan cita rasa penganan yang satu ini.

Siapa bilang makanan tradisional hanya bisa dinikmati di kampung saja? Kenikmatan iwung pun bisa dinikmati di tempat seperti café.

Di kota Bandung misalkan, Kebon Awi Kaffe adalah salah satu café yang menyediakan variasi olahan iwung dengan sajian yang dipadukan dengan lauk-pauk lainnya, seperti ayam bumbu bambu hijau alias ayam haur hejo (dalam bahasa Sunda).

Menu ini menyajikan olahan daging ayam serta tumis iwung yang lengkap dengan bumbu rempah, seperti cabai hijau, bawang merah, bawang putih, dan garam.

Menurut sang empunya café, Pria Eka, iwung yang disajikan di café ini adalah iwung hasil kebunnya sendiri.

Concern di bidang konservasi pohon bambu, Pria pun menyebutkan bahwa olahan rebung atau iwung bisa lebih divariasikan dengan bermacam cita rasa kedaerahan. Maka tidak heran, jika iwung cocok disajikan dengan lalapan khas makanan Sunda.

“Jika ingin mengolah iwung, sebaiknya pastikan iwung yang dipilih memiliki tinggi sekitar 50 cm. Itu artinya, iwung tersebut bisa dikatakan sudah pas jika diolah jadi makanan. Sebaiknya, iwung pun dimasak tidak terlalu lama agar rasa, aroma, dan tekstur iwungnya pas ketika digigit sehingga bisa menimbulkan efek santapan yang berbeda,” ujar Pria.

Mengolah iwung sebenarnya cukup mudah, asalkan tepat dalam memilihnya. Berikut adalah beberapa tips untuk memilih iwung yang akan diolah:

– Pilihlah bambu yang memiliki serat bagus dan lembut, serta tingginya sudah mencapai 50 cm (misalnya, bambu jenis Macucu).

– Pilih bambu dengan iwung yang berwarna putih sedikit kekuningan.

– PIlih iwung dengan tekstur yang halus.

– Agar rasa iwung lebih nikmat, sebelum diolah menjadi tumisan, rebuslah iwung selama satu jam dengan dibubuhi garam secukupnya.

Nah, mudah bukan? Kalau Anda kangen masakan tradisional yang satu ini, Anda pun bisa meracik dan menikmatinya di rumah ataupun di café tersebut. Selamat mencoba.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *