in

Rendang Traveler, Sebuah Kisah Kuliner dari Tanah Minang

Esensi rendang sebagai kuliner khas Minang lebih dari sekadar daging dan berwarna kehitaman.

Sampul buku Rendang Traveler. (Foto: Belanga.id/Manggarayu)
Judul Buku: Rendang Traveler, Menyikap Bertuahnya Rendang Minang
Penulis: Reno Andam Suri
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: Terrant Ink
Ketebalan: 200 halaman

Setiap orang punya pendapat soal rendang. Jika juri Masterchef Inggris bilang “crispy“, saya akan bilang “kecokelatan dan agak alot”. Saya mengenal rendang di Tanah Jawa, yang rasa dan proses masak yang telah dimodifikasi. Ya, sejauh ini saya mengenal ‘rendang Minang’ dari rumah-rumah makan berlabel Padang di Jakarta.

Bertemu Reno Andam Suri membuka pikiran saya.

Kesempatan mewawancarainya di suatu siang di Kota Tua, Jakarta, tentang kuliner Minang membuat saya penasaran. Terutama ketika ia berikan buku bertajuk “Rendang Traveler”.

Buku ini adalah definisi rendang dari seorang Reno Andam Suri.

Seperti judulnya, buku ini membahas rendang dan sebuah perjalanan. Cerita mengalir dari sudut pandang Reno sebagai traveler yang membahas segala sesuatu tentang rendang.

Definisi, bahan, cara mendapatkan bahan, teknik pengolahan, budaya, hingga beragam jenis rendang di Sumatra Barat—semuanya.

Kisah di buku ini berawal dari keinginan Reno untuk keluar dari zona nyaman.

Ia lalu menjelajah dunia rendang sebagai gairah yang baru muncul ketika pulang ke Payakumbuh. Saat itu ia berharap bisa melihat aneka jenis rendang.

Baca juga: Rendang Khas Minangkabau Dijuluki “The Most Balanced Food”

Penjelajahan tentang rendang pun mengorbankan waktu dan bisnis Reno. Rendang Uni Farah yang diasuhnya sejak 2004 harus ditinggalkan dulu.

Ia mulai menelusuri satu per satu daerah di Sumatra Barat. Mulai dari ibukota Padang hingga menutup bab terakhirnya di kampung halaman, Payakumbuh.

Tentu bukan pekerjaan mudah. Tampak dari usaha Reno dalam menghubungi kerabat-kerabat Minangnya.

Slogan “semua orang Minang adalah saudara” benar-benar diuji.

Semesta menyertai saat kerabat Reno merespon baik. Ia berhasil mendapat bocoran nama tokoh atau lokasi untuk risetnya.

Saat membahas bahan-bahan rendang, siapa sangka santan yang dihasilkan kelapa yang berasal dari darek (daerah pegunungan) berbeda rasa dan kekentalan dengan kelapa dari pantai?

Siapa juga yang menyangka bahwa jagoan pengambil kelapa-kelapa untuk santan itu adalah monyet yang sudah dilatih terlebih dulu?

Saat bercerita tentang proses memasak rendang, Reno memberikan sedikit gambaran tentang dapur kuno keluarga Minang.

Mitos bahwa rumah panggung tak punya dapur di dalam rumah berhasil dipecahkan.

Merandang atau membuat rendang bukanlah proses yang sebentar, tetapi dapur itu utuh hingga zaman sekarang.

Reno mengabadikan bukti-bukti tersebut dalam foto, sehingga pembaca tak perlu membayangkan begitu rumit.

Sepanjang halaman, foto-foto sebagai petunjuk turut menemani. Tiap bab dalam buku ini memuat gambar makanan yang bisa dikategorikan food porn.

Biarpun semua disebut rendang, masing-masing bisa dibedakan dari bahan utamanya. Ini yang membuat saya tersadar betapa luasnya definisi rendang. Tiap daerah punya kekhasan, dari yang berdaging hingga berdaun.

Hanya, jangan berharap untuk melihat resep rendang di buku ini. Reno hanya memberikan gambaran secara umum tentang cara memasak dan rasa.

Bak menyelam sambil minum air, Reno juga turut menuliskan keindahan panorama Sumatra Barat.

Para pelancong mustinya mampir tak berhenti hanya di Padang atau Bukittinggi saja.

Coba mampir juga ke Payakumbuh. Sebuah tebing atau yang disebut dinding batu oleh warga setempat, berdiri megah mengelilingi desa.

Atau mampir ke Painan, ada jembatan akar yang umurnya lebih dari 90 tahun masih terjalin erat dan digunakan warga.

Baca juga: Bisnis Kuliner di Era Digital, Makanan Lokal Lebih Unggul

Reno pun tak pilih kasih, ia juga berbagi informasi kuliner Sumatra Barat lainnya. Sisipan informasi yang “kelak akan berguna” ini membuktikan bahwa Minang lebih dari sekadar kuliner rendang.

Seperti menyantap bubur kacang padi dan pical sikai di Bukittinggi atau menikmati sate khas sebagai sarapan.

Kelihaian menulis Reno terbukti dari tidak tenggelamnya rendang di antara sajian tersebut. Rendang tetap menjadi fokus utama hingga halaman terakhir.

Ketika rendang merajai ranking World’s 50 Best Food 2017 keluaran CNN Travel bikin bangga, bukankah tugas selanjutnya adalah mempertahankan posisi itu?

Reno adalah seorang puteri Minang yang berhasil menulis tentang rendang. Melalui penelusuran Google, tidak ada yang menulis buku tentang rendang selain Reno Andam Suri.

Selain menjadi referensi sah, membaca Rendang Traveler jadi penyemangat bagi pegiat kuliner untuk menulis dan melestarikan kuliner favorit yang lekat di hati.

Selamat terinspirasi!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by Manggarayu

Content AuthorYears Of Membership

Kalau Mampir ke Papua Barat, Icip 7 Kuliner Ini!

jamu acaraki

Acaraki: Hidangkan Jamu a la Coffee Shop di Acaraki