in , ,

Potensi Destinasi Wisata Indonesia Melalui Jalur Rempah

Indonesia memiliki banyak potensi pada sektor sumber daya alam, terutama kekayaan rempah-rempah nusantara. Kekayaan rempah-rempah ini menjadi topik yang selalu hangat diperbincangkan. Topik ini diangkat menjadi tema Travel Addict Festival yang diadakan Tempo Institute, Sabtu (7/9), yaitu “Diskusi Petualang Jelajah Negeri Rempah: Menelusuri Indonesia dari Jalur Rempah.”

Petualangan Jelajah Negeri Rempah
Diskusi Petualangan Jelajah Negeri Rempah: Menelusuri Indonesia dari Jalur Rempah, berlokasi di Tempo Institute hasil kerjasama dengan Yayasan Negeri Rempah (Foto: Belanga.id/Utari Miranda)

Diskusi ini dihadiri oleh beberapa pembicara dari Yayasan Negeri Rempah, diantaranya desainer program Negeri Rempah Kumoratih Kushardjanto, antropolog Ni Nyoman Sri Natih, fotografer Josh Catti Rahadi, dan desainer dan penulis konten Negeri Rempah Cahyadi Putra. Keempat pembicara ini membagikan pengalaman eksplorasi jalur rempah melalui perspektif dan dari latar belakang yang berbeda. 

Rempah Menjadi Tujuan Pelaut Dunia

Sebagai gambaran betapa kayanya rempah di Indonesia, 257 spesies dari 400-500 spesies rempah dunia berasal dari Asia Tenggara. Sebagai negara dengan luas wilayah paling besar di Asia Tenggara dapat diperkirakan bahwa Indonesia memiliki rempah endemik yang cukup banyak jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di dunia.

Baca juga: Andaliman, Rempah Endemik Simbol Budaya Batak

Rempah juga merupakan salah satu alasan pelaut dunia berlayar ke Indonesia atau nusantara pada saat itu untuk mendapatkan rempah-rempah. Jauh sebelum itu, terdapat temuan yang kini masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog, bahwa ada kemungkinan kapur barus asal Indonesia merupakan salah satu bahan baku proses mumifikasi di Mesir. 

Jangan bayangkan kapur barus yang biasa kita temui sehari-hari, karena kapur barus dalam hal ini merupakan suatu jenis rempah berbentuk kristal berasal dari pohon yang terdapat di daerah Barus, Sumatera Utara di dekat Sibolga. Jika asumsi ini benar adanya maka ada dua kemungkinan.

Pertama, pelaut nusantara berhasil berlayar hingga ke mesir dan menjual kapur barus di tempat tersebut. Atau kemungkinan kedua terdapat rantai perdagangan yang berkelanjutan dari satu negara ke negara lain sehingga kapur barus asal Indonesia bisa sampai ke Mesir.

Rempah tidak hanya sekedar bumbu masakan tetapi juga salah satu alternatif media bagi kita untuk dapat mempelajari dan memahami pertukaran budaya yang terjadi di dunia. “Jalur rempah itu memiliki sejarah yang romantis. Tanpa rempah kita mungkin tidak jadi Indonesia,” ungkap Kumoratih.

Belajar Rempah Melalui Traveling

Yayasan Negeri Rempah memiliki tujuan sendiri dalam melakukan ekspedisi di jalur rempah, yakni mengembalikan tradisi belajar, khususnya dikalangan anak muda. Belajar tidak selalu harus di kelas, dengan traveling pun kita bisa belajar banyak hal. Tidak hanya mengenai rempah tetapi juga sejarah Indonesia maupun dunia dalam balutan wisata kuliner.

Sudah banyak wilayah yang didatangi oleh komunitas bersama Yayasan Negeri Rempah, diantaranya Banjarmasin. Komunitas yang berkunjung ke Banjarmasin juga mempelajari mengenai tradisi topeng di Indonesia dari seorang maestro topeng yang sudah berusia diatas 100 tahun. Lalu ada pula Belitung, dengan tema trip “Semerbak Lada di Tambang Timah”. Komunitas diajak berkeliling Belitung sekaligus mengenali potensi produksi lada di Belitung.

Baca juga: 7 Kuliner Wajib Icip di Negeri Laskar Pelangi

Jumlah anggota komunitas yang berangkat pada setiap trip memang tidak banyak, kurang lebih hanya 10 hingga 15 orang dari beragam profesi, seperti pengusaha, desainer, fotografer, hingga dosen. Trip dipandu oleh beberapa ahli, mulai dari antropolog, sejarawan atau ahli perubahan iklim. Ahli perubahan iklim dirasa penting karena Indonesia merupakan negara yang rawan bencana dan salah satu alasan terjadinya bencana adalah karena perubahan iklim. 

Dengan kemasan jalan-jalan sambil belajar, tentu saja hal yang tidak boleh dilewatkan adalah mengabadikan momen tersebut melalui foto maupun video. Trip ini cukup menantang dari segi fotografer karena harus mengabadikan dua aspek, yakni aspek travelling dan edukasi mengenai rempah. “Butuh kesabaran saat mengikuti trip jalur rempah. Harus jeli melihat momen yang tepat untuk ditonjolkan dalam memotret rempah,” ujar Josh, fotografer sekaligus relawan Negeri Rempah.

Berkomunikasi dengan Masyarakat Lokal

Trip jalur rempah dioptimalkan melalui interaksi dengan masyarakat lokal, terutama masyarakat petani rempah di daerah-daerah di Indonesia. Momentum ini juga dapat digunakan untuk mendengarkan aspirasi sudut pandang masyarakat di daerah penghasil rempah.

“Kita harus berkomunikasi dengan masyarakat lokal, karena masyarakat menaruh harapan untuk dapat berinteraksi dengan pendatang,” cerita Ni Nyoman Sri Natih, arkeolog sekaligus relawan Negeri Rempah.

Untuk dapat mewujudkan jalur rempah sebagai citra pariwisata Indonesia tentu bukan perkara mudah. Diperlukan dukungan masyarakat. Maka, hal yang perlu diperhatikan adalah memastikan masyarakat Indonesia sudah teredukasi dengan baik mengenai jalur rempah terlebih dahulu sebelum jalur ini dikenalkan pada dunia. Salah satu caranya melalui media sosial.

Baca juga: Ubud Food Festival 2019 Optimis Sajikan Rempah untuk Dunia

“Harus peka dalam melihat tren yang populer dan sejalan dengan rempah untuk mempermudah pemaparan informasi pada khalayak,” ujar Cahyadi Putra, penulis konten Negeri Rempah.

Jalur rempah sebagai potensi destinasi wisata tanah air memiliki perjalanan yang masih sangat panjang. Dukungan pemerintah yang bersinergi dengan komunitas juga diperlukan untuk dapat mempertahankan kekayaan rempah di tanah air.

Editor: Mariska Y. Sebayang

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Expert

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Potensi kuliner Indonesia

Intip Potensi Kuliner dalam Negeri, Menjanjikan Tapi …

Suasana resto

Makan Enak Meski Tanggal Tua, di Nasi Jeruk Tanggal Tua