Logo Balanga

Perjalanan Tempe: Dari Karya Sastra Jawa Hingga Jadi Warisan Budaya Dunia

 Perjalanan Tempe: Dari Karya Sastra Jawa Hingga Jadi Warisan Budaya Dunia

Tempe, panganan berbahan dasar kedelai ini akan diajukan sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage of humanity) ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2021.

Tempe juga telah resmi ditetapkan sebagai warisan budaya nasional oleh pemerintah Indonesia pada Oktober 2017.

Ketua Forum Tempe Indonesia, Made Astawan, mengatakan bahwa keberadaaan tempe di Indonesia sudah ada sejak abad ke-16. Serat Centhini merupakan dokumen resmi yang disertakan ke UNESCO sebagai bukti otentik bahwa tempe telah menjadi bagian dalam kebudayaan masyarakat Indonesia sejak zaman dulu.

Sejarah Tempe

Serat Centhini adalah sebuah karya sastra terbesar dalam kesustraan Jawa baru dengan latar abad ke-16 yang ditulis pada tahun 1814 oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno. Naskah ini menghimpun berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Jawa, dengan tujuan agar tetap lestari sepanjang waktu.

Pada jilid 3 Serat Centhini tertulis petualangan Cebolang, seorang santri yang melakukan perjalanan bersama dengan teman-temannya.

Dalam perjalanan dari Candi Prambanan menuju Pajang, Cebolang singgah di Dusun Tembayat, Klaten dan dijamu oleh Pangeran Bayat. Salah satu makanan yang disajikan adalah brambang jae santen tempe.

Hal tersebut bisa dilihat dalam kutipan: “Brambang jae santen tempe.. asem sambel lethokan.” sambel lethok adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut, oleh masyarakat Jawa kerap disebut dengan tempe semangit, yakni tempe yang sudah disimpan beberapa hari hingga mengeluarkan rasa dan aroma yang khas.

Kemudian, tempe juga tertulis pada jilid 12 Serat Centhini. Jayengresmi, anak pertama Sunan Giri, melakukan perjalanan ke Dusun Bustam. Di sana, Jayengresmi disuguhkan makanan kadhele tempe srundengan oleh Ki Arsengbudi.

Kata tempe diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada masyarakat Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Makanan bernama tumpi tersebut terlihat memiliki kesamaan dengan tempe segar yang juga berwarna putih.

Ong Hok Ham, sejarawan dan cendekiawan Indonesia, dalam “Tempe Sumbangan Jawa Untuk Dunia” di Kompas, 1 Januari 2000, mengatakan kedelai—bahan baku utama tempe—sudah ada sekitar 5.000 tahun silam di Tiongkok. Namun, tempe tidak berasal dari Tiongkok. Berbeda dengan tahu yang sudah ada sejak abad 17 di Tiongkok.

”Bisa dikatakan, penemuan tempe adalah sumbangan Jawa pada seni masak dunia,” kata Ong.

Dikutip dari Historia, Mary Astuti, pakar tempe dari Universitas Gajah Mada, menuliskan dalam Bunga Rampai Tempe Indonesia, “Diduga bahwa kedelai hitam sudah ditanam di Jawa sebelum Tiongkok datang ke Tanah Jawa. Menurut anggapan orang Jawa zaman dulu kata dele berarti hitam. Ada kemungkinan kedelai hitam sudah ada di tanah Jawa sebelum orang Hindu datang dan kemungkinan dibawa orang Tamil.”

Tempe, Makanan Favorit Masyarakat Indonesia

Konsumsi kedelai di Indonesia sebagian besar dijadikan bahan baku untuk produksi tempe. Pergizi Pangan Indonesia menyatakan bahwa tempe banyak diproduksi oleh industri kecil dan rumah tangga dengan kisaran produksi 10 kg-2 ton per hari. Hingga 2015, terdapat lebih dari 100.000 produsen tempe yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Standardisasi Nasional, sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dijadikan untuk memproduksi tempe, 40% produksi tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe satu orang di Indonesia per tahun diperkirakan mencapai sekitar 6,45 kg.

Di Indonesia, tempe dimakan sebagai pendamping nasi maupun cemilan, seperti tempe masak kecap, tempe goreng, tempe mendoan, oseng-oseng tempe, tempe penyet, dan lain-lain. Ada juga tempe yang disajikan sebagai cemilan dalam kemasan siap saji, yakni keripik tempe.

Tempe juga telah menjadi bagian dari kebudayaan dan tradisi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa.

Agustinus Ngatiman, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dalam “Tempe Akan Didaftarkan sebagai Warisan Budaya ke Unesco” di Tempo, 21 Maret 2018, mengatakan bahwa di Jawa, tempe selalu digunakan sebagai simbol sebuah tradisi, misalnya di Yogyakarta dan Sleman sebagai bagian tumpeng atau makanan untuk memperingati hari kematian saudaranya dan untuk kenduri.

Keberadaan Tempe di Luar Negeri

Industri tempe tidak hanya berkembang di Indonesia. Tempe juga diproduksi dan dijual di mancanegara.

Dalam The Book of Tempeh: A Cultured Soyfood, William Shurtleff dan Akiko Aoyagi memuat data bahwa tempe diproduksi di berbagai negara, yakni di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Belgia, Austria, Republik Ceko, Finlandia, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, Afrika Selatan, India, Inggris, Australia, dan Selandia Baru.

Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa melalui Belanda. Para imigran asal Indonesia di Belanda membuka perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa.

Ido Limando dan Bambang Mardiono Soewito dalam Perancangan Buku Visual Tentang Tempe Sebagai Salah Satu Makanan Masyarakat Indonesia, menyatakan bahwa pada 1895, Prinsen Geerlings, seorang ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda melakukan usaha untuk mengidentifikasi kapang tempe. Dari Belanda, tempe menyebar ke benua Eropa dan negara lainnya.

Di Amerika Serikat, tempe populer sejak pertama kali dibuat oleh orang Indonesia keturunan Tionghoa bernama Yap Bwee Hwa pada 1958. Yap Bwee Hwa adalah orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe.

Di Inggris, tempe dihargai dengan mahal dan disukai karena kandungan gizinya yang sangat baik untuk kesehatan. Tempe biasanya menjadi favorit kaum vegetarian dan vegan. Untuk menikmati tempe di Inggris, seseorang harus rela merogoh kocek sebesar 15.30 Euro, atau sekitar Rp. 255.000.

Masa Depan Tempe di Indonesia

Indonesia memang dikenal sebagai negara asal tempe. Namun, bangsa kita masih punya PR besar mengenai pemenuhan bahan baku utama dalam pembuatan tempe: kedelai.

Sebagian besar kedelai di Indonesia diimpor. Hanya sekitar 30-40% merupakan produksi petani lokal.

Pada 2017, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, produksi kedelai lokal malah menurun sebesar 7,06%. Pada 2014, produksi kedelai lokal mencapai 0,96 juta ton, sedangkan pada 2016 menurun hingga 0,89 juta ton.

Kendala produksi kedelai ini, menurut Kementerian Pertanian, disebabkan oleh dua hal, yaitu iklim lanina dan minat petani berkurang karena harga yang kurang kompetitif.

Saat ini, pemerintah tengah mengatasi hal tersebut dengan cara penambahan luas tanam, mitigasi perubahan iklim, dan penetapan harga standar.

Atris Suyantohadi, pengembang Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai Lokal), program aplikasi kedelai lokal Indonesia dari hulu hingga hilirisasinya, menyatakan bahwa program pemerintah dalam memberlakukan Program Operasi Khusus Kedelai untuk membantu petani dalam meningkatkan kedelai lokal di beberapa daerah saat memasuki masa panen belum dirasakan para petani.

Harga Pokok Produksi Panen yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp. 7.800 belum berpihak pada petani. Kenyataannya, di pasar, para pedagang sering memberikan kedelai produksi petani lokal dengan kedelai impor yang berada di kisaran harga Rp. 7.200.

Melalui kajian yang dilakukan oleh Akademik Pekakekal, ada beberapa upaya yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah untuk perlindungan petanu terhadap procuk pasca panen kedelai:

  1. Upaya proteksi harga dan subsidi ke petani melalui kebijakan pemerintah. Dalam hal ini peran Bulog untuk komoditi dapat dilakukan di masing masing daerah untuk membeli kedelai petani ditingkat Harga Pokok Produksi. Dengan demikian, penentuan HPP oleh Pemerintah akan dapat diterapkan dilapangan, petani mendapatkan harga jual yang minimumnya sama dengan HPP.
  2. Upaya Masyarakat untuk disadarkan pentingnya memilih produk pangan dari bahan baku kedelai lokal dibandingkan dengan produk pangan dari bahan baku kedelai import.
  3. Menggalakkan penguatan produksi kedelai tidak hanya ditingkat on farm namun juga pada tingkat off farm di kelompok usaha tani dan masyarakat petani kedelai.  Proses produksi pengolahan kedelai misalnya saat dijadikan tahu dan tempe di masyarakat saat ini cenderung kurang higienitasnya dari sisi pekerja yang mengolah, penggunaan peralatan dan penanganan limbah seperti limbah tahu yang kalau tidak diperhatikan akan menimbulkan bau dan keresahan masyarakat disekitarnya.
  4. Program berkelanjutan pada komoditi kedelai yang melibatkan peran dari Pemerintah daerah dan jajarannya, lembaga litbang, institusi pendidikan tinggi, petani dan gabungan kelompok tani.

Sedangkan, untuk produksi tempe di Indonesia, Made Astaman, Ketua Forum Tempe Indonesia, berharap ke depannya Indonesia mampu meningkatkan produksi tempe dengan pengolahan yang higienis agar tempe dapat memenuhi standar internasional dan mampu bersaing di pasar dunia.

“Bikin tempe itu gampang dan tidak mahal, tapi kalau memenuhi standar itu yang sulit. Jadi kita harus memperbaiki cara produksi, misal harus cuci tangan, pakai sarung tangan, tidak pakai drum bekas lagi tapi pakai stainless steel,” kata Made dikutip dari “Tempe Akan Didaftarkan sebagai Warisan Budaya ke Unesco” di Tempo, 21 Maret 2018.

Dengan dijadikannya tempe sebagai warisan dunia dari UNESCO, Made juga berharap bahwa masyarakat Indonesia, terutama kaum muda, dapat berinovasi dan berkreasi mengembangkan produk tempe sehingga semakin dikenal dan diakui dunia.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *