Logo Balanga

Penjara, Idul Adha, dan Telur Puyuh Kuah Santan Buatan Ibu

 Penjara, Idul Adha, dan Telur Puyuh Kuah Santan Buatan Ibu

Sejak tamat Sekolah Dasar, aku sudah hidup terpisah dengan kedua orang tuaku.

Karena merasa memiliki keterbatasan ilmu dan waktu untuk mendidikku akhirnya mereka memutuskan untuk mengirimku ke salah satu sekolah berasrama di Yogyakarta.

Aku memang kurang pandai bergaul, dan selalu merasa minder untuk memulai percakapan dengan orang baru.

Aku pun waktu itu tak cukup menarik untuk sekedar dilirik apalagi diajak berbicara oleh anak-anak asrama yang lain. Saat itu aku benar-benar merasa kesepian.

Aku rindu rumah, rindu teman-temanku, rindu adik, ayah, dan ibuku. Aku hanya bisa menangis di atap asrama sendirian. Menangis dalam diam, karena terlalu takut dan terasingkan.

Tidak hanya harus beradaptasi dengan teman, lingkungan, dan rutinitas baru, aku juga harus beradaptasi dengan jam dan menu makanan baru yang telah ditentukan dari pihak asrama.

Aku sangat benci menu makanan baruku. Aku tidak bisa memilih harus makan apa. Ya, aku memang seorang pemilih.

Aku hanya mau makan apa yang aku mau, aku tidak makan sembarang sayur dan sama sekali tidak suka daging saat itu. Jadi semenjak kecil setiap beli mie ayam aku selalu meminta pada mamang penjual untuk tidak menyertakan ayam dalam mieku, hehe.

Memang aneh, aku hanya suka telur, tentu saja aku jadi jarang makan saat di asrama.

Hingga Idul Adha pertama di asrama tiba. Selama hampir seminggu berturut-turut sebanyak 3 kali sehari semua menu makanan di asramaku berbau daging dan kambing. Aku benci daging. Aku rindu ibu.

Biasanya setiap Idul Adha tiba ketika yang lain asyik berpesta daging, ibu selalu menyiapkan menu berbeda untuk ku. Khusus hanya untukku yang pemilih ini.

Menu telur puyuh santan pedas sederhana kesukaanku. Yang akan langsung ku makan dengan kupat panas dari dandang dan ku tuang kuah santan pedasnya banyak-banyak di atasnya.

Terkadang ibu memarahiku karena pasti aku tak sengaja menumpahkan kuahnya saking penuh kuah di piringku. Padahal sebenarnya telur puyuh santan pedas buatan ibu sama dengan telur puyuh santan pedas pada umumnya.

Hanya telur puyuh kupasan yang di rebus dalam kuah santan yang telah dicampur dengan ulekan cabai keriting merah, bawang putih dan bawang merah yang telah diulek, daun salam, dan lengkuas,kemudin diberi sedikit garam dan gula.

Oh ya tak lupa taburan bawang goreng sebagai penyedap di atasnya. Tapi entah kenapa setiap kali mendengar, melihat, memasak atau memakan telur puyuh santan pedas aku jadi lapar dan kangen ibu.

Sebenarnya semua masakan apapun yang pernah ibu masak membuatku kangen sekali sama ibu. Mungkin karena banyak cerita dibalik masakan telur puyuh santan pedas yang membuatku paling kangen ibu saat mendengar, melihat, memasak ataupun memakan masakan telur puyuh santan pedas ini.

Di sana tahun pertama Idul Adha saat itu aku ingat betul. Aku hanya bisa menangis. Aku tidak bisa menunaikan ibadah Idul Adha bersama keluarga, tidak ada teman, dan tidak ada telur puyuh santan pedas pengganti daging qurban untukku.

Waktu itu ibu rindu aku tidak ya? Rindu memasakkan telur puyuh santan pedas untuk anaknya yang rewel, pemilih dan manja ini?

Waktu itu rasanya benar-benar seperti dipenjara.

Sekedar informasi karena di asrama ini memiliki peraturan yang sangat ketat, tidak boleh keluar lingkungan asrama kecuali pada hari-hari yang telah ditentukan, juga tidak boleh dibesuk dan bertemu dengan orang luar kecuali pada hari-hari yang telah ditentukan dengan berbagai sanksi yang berlaku jika melanggar. Jadi kami iseng menyebut asrama kami dengan istilah “penjara suci”.

Tapi benar adanya, tahun pertamaku di asrama memang mengerikan seperti dipenjara.

Bayangkan saja, anak lulusan SD dari pinggir kota yang masih ingusan, susah makan, susah bergaul, tidur harus sama ibu, tiba-tiba harus terasingkan di sebuah asrama pelosok yang jarang kendaraan lalu lalang, kiri-kanan hutan jati, tidak punya teman, susah makan dan makanan tidak sesuai lidah, tidur sendiri dan tidak ada ibu.

Untungnya tahun-tahun berikutnya menjadi lebih baik karna aku sudah memiliki beberapa teman dan tahun-tahun berikutnya semua adalah temanku.

Soal makanan dan Idul Adha tentu saja aku masih benci daging. Bedanya tahun-tahun berikutnya aku sudah lumayan akrab dengan ibu tukang masak asrama, jadi aku selalu minta dibuatkan telur goreng atau apapun yang tidak berbau daging, kambing dan amis-amis.

Yang paling luarbiasa adalah pada tahun-tahun berikutnya aku sudah mau makan daging ayam. Aku yang paling pemilih ini.

Jadi bagi mamang-mamang mie ayam mohon bersabar ini ujian karena mungkin aku akan meminta tambahan ayam hehe.

Saat ini aku sudah menjadi mahasiswi di salah satu universitas yang ada di Yogyakarta.

Tiap kali aku mudik atau hendak berangkat ke Yogyakarta, ibu selalu menyambut kedatangan dan mengantar keberangkatanku dengan telur puyuh santan pedas kesukaanku.

Mungkin sebagai pengganti dari banyaknya Idul Adha yang harus aku lewati di “penjara suci” tanpa kehangatan ibu.

Dan sekarang yang paling aku syukuri adalah setiap Idul Adha tiba ibu tidak pernah lupa memasakkan telur puyuh santan pedas kesukaanku.

Ibu memang bukan seseorang yang bisa terang-terangan mengungkapkan rasa sayangnya lewat kata-kata, namun aku bisa merasakan kasih sayang dan kehangatan ibu lewat tatapan dan masakannya.

Aku yakin setiap masakan ibu adalah bentuk kasih sayangnya untukku. Masakan adalah cara ibu berkomunikasi. Mungkin itu yang membuat setiap anak selalu rindu masakan ibunya.

Karena masakan seorang ibu adalah caranya berkomunikasi dan mengungkapkan kasih sayang untuk anak-anaknya.

Ibu sehat terus ya, aku harap masih ada banyak Idul Adha yang bisa aku lewati dengan telur puyuh santan pedas buatan ibu. Aku sayang ibu.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *