Oseng-Oseng dan Tempe Goreng Penuh Cinta

#JadiKangenIbu-Ketika kamu merantau atau pergi meninggalkan rumah beberapa hari sampai berbulan-bulan pastinya akan ada yang dirindukan.

Selain kasur empuk di kamar tempat tidurmu, juga suasana hangat bercengkrama bersama keluarga, dan tentunya yang tidak ketinggalan adalah masakan ibu di rumah.

Itulah kenapa kadang-kadang yang paling dirindukan kalau meninggalkan rumah adalah cita rasa masakan ibu.

Bagi saya, bermacam-macam masakan di luaran sana, masakan ibu tetaplah yang terenak.

Masakan ibu selalu jadi primadona seluruh anggota keluarga, dan itulah yang membuat saya heran.

Bagaimana bisa ibu menciptakan masakan dengan takaran bumbu yang sangat pas.

Sementara saya sendiri kalau masak selalu saja ada kurangnya, entah itu kurang bumbu ataupun keasinan. Cowok juga harus bisa masak kan.

Terkadang saya juga melihat bagaimana ibu memasak.

Terlihat biasa saja, mengulek, menumis, menggoreng, dan lain sebagainya. Tapi hasilnya luar biasa, rasanya bisa mengalahkan masakan chef-chef di restoran bintang lima.

Terdengar berlebihan mungkin, tapi saya menganggapnya demikian. Mungkin tangan ibu itu sudah di set sedemikian rupa, bisa menakar bumbu secara pas, bisa mengolah masakan secara handal pula.

Kadang kalau ibu tanya ingin dimasakin apa hari ini, aku selalu menjawab oseng-oseng kacang panjang, wortel, dan kembang kol, dan tidak ketinggalan tempe gorengnya.

Ibu selalu berhasil membuat saya nambah sepiring setiap makan. Masakan ibu juga bisa membuat saya melupakan timbangan berat badan serta perut yang semakin membuncit.

Masakan itulah yang membuat saya betah di rumah, begitupun ketika sedang keluar rumah, masakan itu selalu tetap terbayang-bayang di otak dan ada dorongan kuat untuk segera pulang.

Setelah lebaran kemarin, sebagai mahasiswa semester akhir saya  menjalankan kewajiban saya melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama 45 hari. Otomatis saya harus meninggalkan rumah untuk beberapa waktu.

Berat sebenarnya, tapi setelah dijalani ternyata menyenangkan juga. Pernah suatu ketika, teman-teman yang bagian piket itu masak oseng-oseng kacang panjang sama tempe goreng. Seketika itu, saya jadi kangen masakan ibu di rumah.

Rasanya memang enak, tapi tetap saja ada sesuatu yang kurang. Ketika bagian makan bersama teman-teman satu posko itulah yang juga membuat suasana berbeda.

Biasanya makan menu oseng-oseng kacang panjang bersama keluarga di rumah, kali ini makan menu tersebut bersama teman-teman satu posko yang juga sudah seperti keluarga sendiri.

Dan hari itu pula, saya tiba-tiba kangen suasana rumah, kangen masakan ibu juga pastinya. Tapi saya menyadari teman-teman saya juga rindu rumah, tapi mereka tetap menunaikan salah satu tugas kampus yang bernama KKN ini.

Waktu KKN, beberapa minggu sekali saya pulang untuk merasakan masakan ibu, apalagi kalau bukan oseng-oseng kacang panjang, wortel, dan kembang kol ditambah tempe goreng serta tidak ketinggalan nasi hangat.

Pastinya komplit banget. Segala kangen dan rindu rasanya langsung hilang setelah merasakan masakan tersebut. Saya seolah mendapat spirit baru untuk menjalani hari.

Meskipun banyak sekali masakan-masakan seperti spagetti, hamburger, fried chicken dan lain sebagainya yang rasanya enak, tapi masakan ibu tetaplah yang nomor satu.

Meskipun yang dimasak ibu bukan masakan yang berbahan mahal, tapi kemahiran tangan ibulah yang bisa mengolah semua bahan tersebut menjadi masakan yang dapat menggoyang dan memanjakan lidah.

Sekalipun itu hanya oseng-oseng kacang panjang, wortel, dan kembang kol serta tempe goreng.

Kemarin saya iseng membantu ibu memasak, meskipun saya cuma kebagian goreng tempenya saja.

Sembari menggoreng tempe saya mengamati ibu memasak. Dari mulai mencuci sayuran, memotong-motongnya, mengolah bumbu sampai masakan itu selesai dan tersaji di piring.

Tak jarang saya bertanya ini itu yang membuat ibu kadang hanya menjawab dengan anggukan kepala (mungkin lelah menjawab pertanyaan saya ya). Saya bahagia, bisa ngobrol dan bercanda bersama ibu ketika kami di dapur. Dan saya tentunya juga bisa belajar mengolah masakan yang enak dari beliau.

“Terima kasih bu, untuk masakan sederhana yang penuh cinta ini. Terima kasih juga untuk cinta yang telah engkau berikan ke setiap masakan yang ibu buat”.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *