Obat Rindu dalam Sebuah Kue Lumpur Wolak Walik

Ada satu hal yang saya rindukan saat ini. Apalagi kalau bukan makanan buatan almarhumah Ibu.

Dulu saya heran saat menonton film kartun Ratatouille. Kenapa seorang pengamat makanan begitu takjub saat menikmati menu yang rasanya mirip dengan buatan ibunya.

Setelah ibu saya wafat, barulah saya sadar. Ternyata memang demikian adanya. Seringkali sesuatu terasa biasa saja bukan karena tidak spesial.

Tapi karena sesuatu itu rutin dijumpai. Apabila sesuatu telah hilang dari kehidupan kita, barulah terasa sangat berharga dan istimewa.

Ibu saya hobi memasak dan membuat kue. Masakan dan kue-kue buatan Ibu rasanya enak sekali. Ibu saya sosok yang sangat betah di dapur.

Ada saja yang mau beliau buat. Rasa-rasanya setiap hari selalu ada kue tradisional buatan Ibu di rumah.

Dalam memasak menu harian pun, Ibu tak mengandalkan asisten di rumah. Khusus memasak dan membuat kue, Ibu lebih suka melakukannya sendiri.

Bahkan saat sakit menjelang wafat pun Ibu sempat kepikiran. “Ibu nggak bisa ngapa-ngapain sekarang. Bagaimana ini, Nak?” tanyanya. Sebelumnya Ibu berjanji akan memasakkan ikan patin untuk saya.

Salah satu kue tradisional buatan Ibu yang saya sukai adalah kue lumpur kentang. Kue lumpur buatan Ibu memiliki tekstur yang lembut sekali.

Kue lumpur (Foto: JadiKangenIbu/Widya R)

 

Aroma santan dan pandannya membuat kue lumpur jadi harum. Rasanya juga tidak terlalu manis. Kalau Ibu sudah membuat kue lumpur aromanya menyebar ke mana-mana.

(Baca juga: Kastengel si Gurih Dengan Keju Melimpah)

Beberapa waktu lalu saya sedang jalan-jalan di Car Free Day kota Malang. Saya melihat penjual lumpur yang dikerumuni para pembeli.

Nama lapaknya adalah Lumpur Wolak Walik. Iseng, saya ikut antre. Antreannya panjang sekali. Saya menduga, pasti kue lumpurnya enak.

Ternyata memang benar-benar enak! Teksturnya lembut sekali, bahkan rasanya tak perlu dikunyah. Topping kismisnya membuat manis lumpur berpadu dengan sedikit rasa asam.

Aromanya harum sekali. Lumpur ini rasanya mirip sekali dengan lumpur buatan Ibu. Saya suka sekali. Bedanya adalah, lumpur ini bagian atasnya dipanggang lagi dalam posisi terbalik.

Jadi bagian bawah dan atas itu kering, sementara bagian dalamnya sangat lembut. Namun secara keseluruhan kue lumpur ini sama saja dengan kue lumpur pada umumnya.

Saya menikmati kue ini di dekat taman. Sendirian. Saya nikmati kue tersebut sambil melamun. Kapan-kapan kalau saya jalan-jalan ke Car Free Day Malang lagi saya mau beli Lumpur Wolak Walik.

Mengunyah kue ini membuat saya terlempar ke masa lalu. Ketika hujan turun. Lalu Ibu memanggil saya agar meletakkan sepiring kue lumpur di meja.

Saya, Ibu, Kakak, dan Bapak menikmatinya dalam kebersamaan. Tak mengapa jika saya sekarang harus makan kue ini sendirian. Setidaknya, dari segi rasa, kerinduan saya pada kue lumpur buatan Ibu sedikit terobati.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *