Mi Gomak, Rindu itu Harga Mahal

Mie Gomak (Rafita)

Setelah satu tahun berjibaku dengan kesibukan belajar bahasa baru di salah satu kota kecil di Rusia, aku akhirnya pindah ke salah satu ibu kota negeri tirai besi ini, Kazan.

Karena kepindahanku bertepatan dengan liburan musim panas, kompleks asrama yang sangat luas ini bisa dibilang hanya dihuni oleh pihak keamanan setiap gedungnya saja.

Beberapa teman dari Indonesia pulang ke tanah air dan sebagian lainnya memilih melalang buana serta menjadi sukarelawan untuk memeriahkan festival Indonesia di Moskow yang selalu diadakan di musim panas setiap tahun.

Bisa dibilang cukup jika ingin mengobati rasa rindu akan masakan-masakan khas indonesia. Walaupun harga batagor seporsi bisa berkali-kali lipat dari harga normal di tanah air.

Beruntung seorang kawan yang baru aku kenal ternyata memilih untuk menghabiskan liburan musim panasnya tahun ini di Kazan.

Kami akhirnya bertemu di pusat kota tepat pukul dua siang. Aku pikir agenda kami hanya tamasya keliling kota dan singgah di bangunan-bangunan bersejarah.

Tapi, beliau justru langsung mengajakku makan siang di kafe Urumchi, masakan khas muslim Ughyur yang letaknya agak jauh dari titik kami bertemu.

Aku yang sebenarnya sudah makan siang, tapi mau tidak mau mengangguk setuju dengan dalih hari itu dialah yang jadi pemandu wisatanya.

Sesampainya di sana, aku sama sekali tidak mengerti harus memesan hidangan apa sehingga kuminta dia memesankanku makanan yang paling bersahabat di lidah (orang Indonesia).

Beliau kemudian memesankanku lagman, yang katanya menu jawara dan juga biasa dipesan teman-teman Indonesia kalau sedang berkumpul.

Satu porsi Lagman dibandrol dengan harga 120 rubel atau setara dengan 26 ribu rupiah.

Saat pesanan datang, aku pun tidak serta-merta memakannya. Melainkan mencoba mengenali hidangan yang ada di depan mataku itu.

Bentuk dan susunannya mengingatkan aku dengan salah satu hidangan khas Indonesia yang hanya ada di Sumatera Utara, tidak ada di mana-mana.

Suapan pertama memang tidak berhasil membuktikan bahwa rasanya mirip apalagi sama. Tapi, aku bisa jamin jika orang-orang dari Sumatera Utara yang bertandang ke kafe itu juga pasti akan mengatakan bahwa hidangan ini mirip sekali dengan mi gomak.

Tidak perlu pakai riset untuk memastikan apa seluruh masyarakat Sumatra Utara karena mereka pasti kenal dengan santapan yang biasanya dijadikan menu andalan sarapan ini.

Selain karena produk mi lidi tidak begitu sering didistribusikan keluar provinsi, kuah gulai sayur dan sambal taoconya juga menjadi ciri khas yang benar-benar tidak bisa di temukan di daerah manapun di Indonesia apalagi di Rusia.

Selain rasa, kesamaan sekaligus perbedaan yang paling mendasar antara mi gomak dan lagman adalah bentuk minya itu sendiri.

Mi gomak berasal dari mi lidi yang direbus dan berwarna oranye muda. Bisa dibilang seperti bentuk spageti dengan versi lebih berisi. Sedangkan, lagman menggunakan mi olahan sendiri seperti mi telur dengan versi lebih besar.

Selain dijadikan santapan pembuka hari, mi gomak juga biasa dihidangkan saat merayakan hari-hari besar keagamaan, hidangan perwiritan, dan masih banyak lagi.

Disebut mi gomak karena pada awalnya, cara menyajikan mi yang sudah direbus dan ditumis ini dengan cara “menggomak”-nya langsung dengan tangan, lalu disiram kuah gulai sayur dan sambal taoco. Barulah bisa menyantapnya dengan sendok.

Dulu makanan ini biasa disantap langsung menggunakan tangan. Sekarang, kesan masyarakat berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Dengan alasan higienis karena maraknya penjual mi gomak, mereka merubah tradisi penyajiannya. Yang tadinya langsung menggunakan tangan diganti dengan menggunakan garpu atau sendok biasa.

Tapi, nama mi gomak sudah kadung melekat di hati masyarakat Sumatera Utara. Karena akan aneh juga jika julukannya diganti menjadi mi sendok atau mi garpu.

Cukup dengan teringat akan keistimewaan mi gomak, aku akhirnya berinisiatif untuk membuat mi gomak di asrama.

Untuk minya sendiri, aku ganti dengan salah satu produk mi pasta dengan ukuran besar agar bentuknya bisa menyamai bentuk mi lidi.

Harga satu bungkus mie pasta tidak begitu mahal karena memang merupakan salah satu makanan pokok orang Eropa.

Kebetulan, ada teman yang berbaik hati mau memberikan lima buah cabai vietnam yang kebetulan harganya saat itu sedikit menggila.

Kemudian, aku pergi ke swalayan besar untuk membeli daun bawang, bawang putih, wortel, jahe, bawang bombay merah (sebagai pengganti bawang merah), serta santan kalengan.

Melihat nota belanjaan pada hari itu membuat aku tertawa geli sekaligus mengiris hati. Aku menghabiskan uang kurang lebih 70 ribu rupiah hanya untuk memenuhi rasa rindu.

Walaupun mi gomak kreasiku tidak memakai sambal taoco yang lezat seperti yang kuceritakan barusan, rasa rindu itu sedikit demi sedikit terkikis seiring dengan suapan yang lalu lalang di kerongkongan.

Sambil menikmati suapan demi suapan, kalau dipikir-pikir dengan uang 70 ribu rupiah aku bisa beli mi gomak berapa porsi, ya?

Artikel ini disertakan dalam Lomba Menulis Kuliner Juara Kampung Halaman berhadiah belasan juta rupiah ditambah voucher Food Tour dari Good Indonesian Food. Ayo ikutan! Info lebih lanjut, klik banner di bawah ini.

 

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *