Menikmati Coto Wesabbe Khas Masakan Daeng Masaong

Menikmati Coto Wesabbe Khas Masakan Daeng Masaong

Jika tak ada yang menempati, saya selalu duduk di pojok dekat panci kuah coto berada untuk menghirup aromanya. Kedatangan saya di bulan Agustus, saya buka dengan memesan menu favorit saya, Campur (istilah ini merujuk pada daging dan jeroan sapi).

Lelaki dengan tinggi badan kurang lebih 160-an cm yang sering saya jumpai ketika hendak ke warungnya, cekatan menghidangkan pesanan saya. Tak lama disusul dengan menyodorkan piring kecil berisi lima buah ketupat dengan ukuran yang lazim bagi penikmat Coto Makassar.

Setelah menghidangkan keperluan makan sebagai pelanggan tetapnya, ia kembali duduk di tempat semula, dekat tumpukan ketupat, mengambil posisi duduk menghadap ke arah saya. Saya lumat satu jeroan dan menyeruput kuah coto—setelahnya saya buka percakapan dengan mengajukan pertanyaan berkenaan sejarah warungnya. Terlihat dari ekspresinya, tampak ia terkejut setelah keseringan datang, baru kali ini saya mengajukan pertanyaan penting untuk saya ketahui.

“Awalnya hanya bernama Coto Makassar, tetapi seiring berjalannya waktu—sekitar awal tahun 2000-an, coto asuhan dg. Masaong ini yang tak lain adalah ayah saya memutuskan mengganti nama menjadi Coto Wesabbe,” begitu penuturan Syamsuddin yang akrab disapa Anto (39 tahun) yang menjamu saya makan coto.

Nama warung menyesuaikan dengan nama perumahan Wesabbe yang menjadi lokasi kuliner ini berada. Anto adalah salah satu orang yang turut mengelola warung coto yang didirikan ayahnya, cukup mudah ditemui, sebab lokasinya pas di depan gerbang pintu 2 Kampus Universitas Hasanuddin.

Dg. Masaong sebelum merintis karier kuliner sendiri, kata Anto ayahnya ini sejak di Sekolah Dasar Kalukuang sudah menjadi pelayan dan seiring waktu berjalan menjadi juru masak di Warung Coto Ranggong Asuhan dg. Sangkala yang tersohor di Makassar saat dg. Sangkala masih hidup.

“Istri kedua dg. Sangkala itu sepupu dengan saya, begitu diajak, saya tertarik untuk ikut kerja agar bisa memperoleh uang dari keringat sendiri,” ungkap dg. Masaong ketika saya jumpai di kediamannya dengan memasuki gang di Jalan Barawaja I/RT 004/RW 002, Makassar. Jarak kediamannya dengan warung kurang lebih 4 km.

“Waktu itu, warung coto dg. Sangkala mulanya berlokasi di Jalan Latimojong kemudian berpindah di Jalan Ranggong (berada di depan Bioskop Istana yang begitu terkenal pada era 1970-an), sehingga warung dg. Sangkala juga biasa disebut Coto Istana,” lanjutnya mengenang masa silam.

Dg. Masaong yang mengandalkan segudang pengalamannya meracik bumbu di warung coto tersebut, kemudian berpikiran membuka usaha sendiri setelah memutuskan berhenti bekerja di tahun 1985 dan hal itu pun diwujudkannya.

Sebelum warung cotonya berlokasi di sebelah kanan jalan di gerbang perumahan Wesabbe, warung tersebut awalnya berlokasi menghadap Jalan Perintis Kemerdekaan yang berseberangan dengan tempatnya berada saat ini dan telah menjadi toko ATK (Alat Tulis Kantor).

Di lokasi awal itulah, pada tahun 1989, dg. Masaong resmi mendirikan usaha Coto Makassar. Menurut tuturan Anto, kurang lebih empat tahun sebelum resmi mendirikan usaha sendiri, ayahnya menguatkan hati, lalu meminta restu dan dukungan keluarga untuk menunaikan usaha tersebut. Selain itu, dg. Masaong juga berusaha mencari lokasi yang strategis untuk jualan, hal ini dilakukan agar jualannya mudah dijangkau pembeli.

Kenyataan membuktikan, bahwa Coto Wesabbe tidak hanya kedatangan penikmat kuliner dari Makassar semata, tetapi orang dari luar daerah, luar kota, bahkan luar negeri turut datang mencicipi kenikmatan coto tersebut yang telah terkenal dengan daging dan jeroannya yang lunak. Di warung ini, daging sapi dan jeroannya seperti pipih, jantung, hati, usus, paru, lemak, limpa, dan babat selalu komplit disantap lahap.

“Kadang juga ada pesanan ke Korea, Malaysia, dan negara tetangga lainnya,” dg. Masaong masih sehat memberi tanggapan, walau tercatat di Kartu Tanda Penduduk, ia lahir pada tanggal 19 Juli 1941 dengan nama Mas’ud.

Bumbu yang digunakan untuk kuah Coto Wesabbe, kata dg. Masaong dan turut dibenarkan oleh Anto, sangat menghindari bumbu kaldu yang banyak dijual di warung-warung, karena menurutnya kadar garam yang dimiliki bumbu tersebut terlalu berlebihan dan sulit untuk ditakar rasanya. Oleh karena itu, saat ini, Anto hanya menuangkan garam dan vetsin secukupnya ke dalam larutan kuah coto.

Dalam sehari, Coto Wesabbe melakoni dua kali pemasakan, yaitu pagi sewaktu warung coto dibuka dan pada waktu sore. Sejak awal didirikan, warung coto ini memasak menggunakan panci.

Ketika saya tanya, mengapa tidak menggunakan kuali tanah liat, Anto menjawab, bahwa susah mengontrol hawa panasnya. Perapian yang digunakan juga menggunakan kompor minyak tanah yang menghabiskan lima sampai enam liter minyak tanah dalam sehari. Hal ini dilakukan untuk mengontrol kobaran api yang harus tetap menyala demi menjaga kuah coto tetap panas dan mengontrol stabilnya rasa kuah coto tersebut.

Coto Wesabbe buka setiap hari dari pukul 09.00 dan tutup pukul 22.00 WITA. “Sejak warung dibuka hingga pukul 17.00 WITA, warung ini kerap dijaga oleh keluarga saya yang lain bernama Syamsul Bahri, Saharuddin, Rapiuddin, Rohani, dan Hatija. Sedangkan, di jam selanjutnya hingga tutup, akan dijaga oleh saya sendiri bersama istri,” terang Anto.

Ketika berkunjung ke warung coto pada umumnya di Makassar, terutama di Warung Coto Wesabbe, kita akan melihat ciri khas hidangan tersebut dengan menggunakan mangkuk kecil dan sendok cekung, dg. Masaong bilang sendok coto. Sewaktu saya tanya mengapa menggunakan peranti demikian, dg. Masaong mengatakan, bahwa itu efek dari berkembangnya jualan orang Tiongkok (Cina) di Makassar sewaktu ia menjadi pelayan di warung dg. Sangkala.

Untuk menyantap Coto Wesabbe, kita mesti merogoh uang Rp. 15.000 seporsi, harga lazim untuk menikmati hidangan makanan berkuah ini di Makassar. Menyantap coto identik dengan ketupat, harga satu ketupat Rp. 1.000, dan jika menyukai kacang, per bungkus kecilnya juga Rp. 1.000. Kata dg. Masaong, semasa ia mendirikan warung coto, harga seporsi Coto Makassar, hanya Rp. 700. Seiring naiknya bahan-bahan dapur, dengan terpaksa ia menaikkan harga demi mempertahankan usahanya.

Artikel ini disertakan dalam Lomba Menulis Kuliner Juara Kampung Halaman berhadiah belasan juta rupiah ditambah voucher Food Tour dari Good Indonesian Food. Ayo ikutan! Info lebih lanjut, klik banner di bawah ini.

 

Suka? Vote Artikel Ini!

5 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up