in ,

Mengenang Rijsttafel, Makan Mewah Ala Belanda

Kota Tua Jakarta identik dengan kawasan wisata bersejarah yang murah meriah. Tempatnya yang strategis membuat lokasi ini jadi tempat kumpul warga yang ingin berwisata. 

Mereka bisa menyewa sepeda untuk berkeliling di lapangan Fatahillah atau berjalan-jalan menambah wawasan soal sejarah Batavia zaman dahulu di berbagai museum yang ada. 

Namun, tak ada salahnya menikmati Kota Tua dengan cara yang berbeda, yakni dengan mengenal dan mengingat kembali jamuan Rijsttafel atau kemewahan dalam meja makan, yang umum dilakukan oleh orang Belanda yang tinggal di Indonesia saat masa penjajahan dulu.

Cara Belanda Menikmati Makanan Indonesia

Salah satu lukisan yang menggambarkan acara makan tersebut bisa ditemukan di Museum Jakarta. Dalam lukisan tersebut digambarkan perempuan dan laki-laki Belanda dengan santai menikmati hidangan yang disajikan oleh orang Indonesia yang menjadi pelayan. Para pelayan digambarkan berpakaian kebaya bagi yang perempuan dan mengenakan sarung dan beskap bagi yang laki-laki.

Orang Belanda melakukan perjamuan makan ini untuk menikmati sajian khas Indonesia dalam satu waktu serta menunjukkan ciri khas, kekayaan, dan keunikan negeri ini sebagai koloni Belanda pada masa itu.

Ilustrasi Rijsttafel di Museum Sejarah Jakarta. ( Foto : Belanga.id/ Anisa Sekarningrum) 

Menu yang disajikan bukan sepenuhnya menu ala Barat, namun juga kuliner Nusantara yang begitu kaya rempah. Seperti kita ketahui, rempah adalah komoditas utama yang membuat negeri ini diduduki oleh Belanda.

Kemewahan dalam Satu Meja

Jika ditelaah lebih jauh, Rijsttafel sejatinya berasal dari kata rijs  yang berarti beras atau nasi, dan tafel yang berarti meja. Ia juga akrab disebut sebagai rice table.

Rijsttafel memiliki dua konsep penyajian  yakni rice table dengan proses makan yang sederhana dan  lebih kekeluargaan. Nasi dan lauk dihidangkan dalam satu meja tanpa harus menggunakan banyak pelayan untuk hilir mudik menyajikan hidangan. Ini biasa ditemui sehari-hari di kehidupan keluarga Belanda yang menetap di Indonesia. 

Kedua adalah konsep rich table, diartikan sebagai kemewahan dan kekayaan. Perjamuan makan dengan cara rich table ini biasa disajikan dalam perayaan dengan menitikberatkan pada pelayanan dan kemeriahan. 

Makanan yang disajikan pun jauh lebih beragam, kurang lebih ada 14 menu yang dihidangkan seperti nasi putih, nasi goreng, mie goreng, kentang, telur ceplok, karedok, sate hingga semur.

Chef Wira menjelaskan soal dua konsep Rijsttafel. (Foto : Belanga.id/ Anisa Sekarningrum)

“Menu yang disajikan dalam Rijsttafel dengan cara rich table harus mengandung tiga unsur yakni cengkeh, lada, pala. Semakin berempah maka makin tinggi nilai makanan dan menunjukkan prestige dari para penikmat sajian Rijsttafel,“ jelas Chef Wira Hardiyansyah saat memandu tur Rasa Rijsttafel bersama Indo Epic Tour di Kota Tua, Jakarta, Sabtu (03/08).

Rijsttafel dalam perjamuan besar biasa dilakukan dengan menggunakan meja besar yang memiliki dua sisi. Sisi utama diisi oleh tuan rumah yang menyelenggarakan acara perjamuan. Sementara tamu bisa duduk mengelilingi meja yang sudah disediakan nasi putih dan air. Pelayan berjumlah sekitar 30 orang kemudian berbaris rapi membawa piring saji yang telah diisi aneka lauk.

Meja yang digunakan saat Rijsttafel dengan cara Rich Table. (Foto : Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Para tamu selanjutnya akan memanggil pelayan untuk datang menghampiri meja dan menyendok lauk pauk sendiri sesuai keinginan. Pelayan akan kembali lagi ke barisan, namun tidak boleh pergi ke dapur hingga acara makan selesai.  

“Mau menunya rusak atau tidak ada yang makan, para pelayan harus tetap berbaris, karena itulah inti dari perjamuan ini,“ papar Chef Wira.

Menghasilkan Akulturasi Makanan

Sistem jamuan makan Rijsttafel ini perlahan menghilang ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia. Menurut orang Jepang, proses makan seperti ini adalah bentuk perbudakan dan dianggap sebagai ajang pamer yang membuang-buang biaya.  

“Rijsttafel yang dilakukan Belanda identik dengan monarki. Saat Belanda keluar dari Indonesia, cara makan ini pun ikut menghilang dari Indonesia. Pada dasarnya makan yang optimal bagi manusia cukup dengan satu piring yang berisi karbohidrat dan protein,“ ungkap Chef Wira.

Walau Rijsttafel tak lagi dilakukan di Indonesia, jamuan makan mewah ini tetap meninggalkan kenangan berupa perangkat makan seperti sendok, garpu dan piring yang cantik. 

Rijsttafel juga berperan dalam menciptakan asimilasi kuliner antara Eropa dan Nusantara. Misalnya, kini kita mengenal sambal kentang balado, padahal orang Indonesia awalnya hanya familiar dengan ubi. Perjamuan ini menghasilkan perpaduan antara sajian kentang goreng khas Eropa  dengan sambal dari Indonesia.

Hal serupa juga dialami oleh telur ceplok, yang identik dengan Eropa, karena Indonesia biasa memakan telur bulat atau telur utuh yang direbus, yang memiliki makna kelahiran. Karena Rijsttafel kita jadi mengenal telur ceplok yang selama ini sering dijadikan sarapan.

Tak hanya makanan, Rijsttafel iku mempengaruhi minuman. Saat perjamuan, orang Belanda selalu meminum bir sebagai minuman penutup. Orang Indonesia lalu menciptakan bir pletok yang dibuat mirip, namun tidak mengandung alkohol melainkan jahe untuk tetap mendapatkan unsur hangat layaknya meminum bir ala Eropa.

Aneka menu khas Rijsttafel yang dihidangkan di Historia Kota Tua. (Foto : Belanga.id/ Anisa Giovanny)

Kini Rijsttafel, yang dianggap identik dengan kolonial, praktis nyaris hilang dari peredaran. Hanya segelintir restoran di Jakarta yang menyajikannya. Salah satunya adalah Historia Kota Tua, yang menyediakan ragam menu Rijsttafel seperti semur, sate, bitterballen, poffertjes, nasi goreng, dan mie goreng.  

Berkat Rijsttafel,masakan asli Indonesia dan Eropa  berpadu jadi satu, melahirkan makanan khas Nusantara yang terkenal lezat, kaya rasa dan kaya cerita, yang bisa dibanggakan oleh bangsa Indonesia kini.

Editor: Mariska Y. Sebayang

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by AnisaGiovanny

Content Author
Launching buku Nick Molodysky.

Saking Cintanya, Warga Aussie Ini Bukukan Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia

Kuliner Legendaris dari Semarang

7 Kuliner Legendaris Wajib Icip di Kampoeng Legenda 2019!