in

Makan Bedulang, Tradisi Kuliner Belitung Memupuk Kebersamaan

Hidangan tradisi makan bedulang
Hidangan tradisi makan bedulang. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Di Jawa Barat ada tradisi makan yang disebut botram, atau kadang disebut makan bancakan—makan bersama-sama dari satu wadah. Di Belitung, tradisi ini dikenal dengan nama “makan bedulang”. Tradisi makan ini diperkirakan muncul dengan masuknya Islam ke tanah Belitung.

Dalam tradisi makan bedulang, di sekeliling nampan atau dulang yang ditutup tudung nasi, biasanya duduk empat orang yang saling berhadapan. Mereka akan menikmatinya hidangannya bersama-sama.

Dalam makan bedulang, tamu tidak serta merta melayani dirinya sendiri. Karena ada enam petugas pelaksana yang akan membantu selama proses makan tersebut, langkah demi langkah.

Menyusun menu dan memasak, lalu menyiapkan makanan dan peralatan makan, dan meletakkan makanan di atas dulang, sampai memeriksa kelengkapan lauk pauk jadi tugas Mak Panggong, Penata Hidangan, Tukang Berage dan Tukang Perikse Dulang.

Ada pula Tukang Ngisi Aik yang bertugas menuangkan air minum ke dalam gelas dan Tukang Ngangkat Dulang yang menyajikan dulang ke hadapan para tamu.

Tradisi makan bedulang
Hidangannya tersembunyi di balik tudung nasi. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Dalam satu dulang tersaji biasanya tersaji 6 hidangan.

Di tengah biasanya disajikan gangan—makanan berkuah khas Belitung, lalu lauk pauk lain mengelilinginya.

Baca juga: Pasar Ikan Modern Muara Baru Jadi Tsukiji Di Jakarta

Saat itu di Rumah Adat Belitung, tempat kami menikmati makan bedulang, yang disajikan adalah ayam ketumbar, sate ikan, oseng kacang, sambal sereh, dan lalapan daun singkong dan mentimun.

Menurut Nunik, salah satu pengurus Rumah Adat Belitung, beragam makanan tadi tidak sembarang dipilih. Mak Pagong yang menentukan menunya.

“Hidangan di tengah harus kita tentukan dulu mau apa. Gangan darat atau gangan laut? Sesudah itu baru bisa menentukan lauk pelengkapnya.”

Gangan laut yang berisikan ikan dan makanan laut lainnya biasa ditemani dengan sambal terasi, sedang gangan darat yang berisi daging sapi atau ayam biasa ditemani dengan sambal sereh. Hidangan pendampingnya tentu disesuaikan juga.

Nunik menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam tradisi makan bedulang bumbu yang digunakan tidak ada yang diblender. Semua ditumbuk atau diulek, lalu disangrai.

Ini dilakukan agar rasa bumbunya lebih terangkat dan tidak berubah dari resep aslinya.

Ketika dulang sudah disajikan, lengkap dengan tudung nasi yang khas, para tamu dapat memulai makan dengan arahan dari pemandu sesuai kearifan lokal masyarakat Belitung.

Nunik menjelaskan proses makan bedulang. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

“Yang paling muda harus melayani yang tua lebih dulu. Lap piringnya dan berikan pada yang lebih tua.”

Lanjut Nunik, “Dimulai dari yang paling tua ke yang muda, silakan mengambil nasi dan lauk pauk untuk diri sendiri.”

Tata cara makan bedulang seperti ini merupakan bagian dari penghormatan kepada yang tua.

Selain urutan memulai makan, sesudah makan pun untuk mencuci tangan di air kobokan dimulai dari yang tua.

Uniknya, air kobokan ini tidak untuk membasuh bersih telapak tangan, hanya membersihkan sebatas ujung jari saja.

Hidangan penutup makan bedulang
Makanan penutup bedulang. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Selesai bersantap, tamu disajikan dengan makanan penutup, seperti buah, kue basah, dan teh hangat.

Dulang akan digeser dan dipindahkan secara estafet untuk dibawa kembali ke dapur. Makan dulang pun selesai.

Makan bedulang bagi masyarakat Belitung adalah sebuah kebersamaan antar anggota keluarga, belajar mengenai toleransi, dan menghargai yang tua.

Nunik mengatakan, “Makan bedulang itu makan kebersamaan. Tidak ada si kaya dan si miskin semua punya hak yang sama. Harus berbagi dan dalam dulang itu terdapat hak masing-masing.”

Suasana makan bedulang
Suasana makan badulang di rumah adat Belitung. (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

Karena tradisi ini sudah lama ada, maka dalam cara makan pun diusahakan sama mengikuti orang zaman dulu.

Salah satunya adalah tidak menggunakan alat makan seperti sendok-garpu, wajib menggunakan tangan kosong.

Untuk cara duduk, dianjurkan bersila karena merupakan salah satu posisi duduk yang baik dan menyehatkan, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW—menunjukkan tradisi ini juga mendapatkan pengaruh Islam.

Sejatinya, makan bedulang biasa ditemui masyarakat Belitung saat hajatan, kenduri, maulid Nabi, atau digunakan untuk menyambut tamu istimewa.

Seiring berlalunya waktu, makan bedulang menjadi pengalaman berwisata yang menarik bagi wisatawan untuk merasakan tradisi lokal.

Makan bedulang, tradisi makan yang sarat makna dan filosofis, ini dilestarikan ke berbagai generasi agar tidak hilang ditelan zaman.

Tak heran bila di kota Tanjung Pandan ada beberapa rumah makan yang menawarkan makan bedulang.

Sayangnya, tidak semuanya menyajikan menu bedulang lengkap dengan tata caranya. Menunya pun bisa berbeda-beda di masing-masing rumah makan.

Jika ingin merasakan sensasi makan bedulang yang otentik, mengunjungi Rumah Adat Belitung bisa jadi pilihan tepat.

Hanya saja, untuk dapat berkunjung harus mengurus beberapa hal, karena jumlah pengunjung dibatasi dan peserta harus mendapatkan surat rekomendasi dari Dinas Pariwisata.

Membutuhkan usaha lebih, tapi akan terbayar dengan pengalaman makan bedulang yang belum tentu didapatkan di tempat lain.

Untuk info lebih lanjut tentang makan bedulang di Rumah Adat Belitung, hubungi langsung ke alamat Jl. Depati Gegedek No.17, Pangkal Lalang, Tj. Pandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung 33411, atau telepon ke 0719-21398.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advocate

Written by AnisaGiovanny

Content Author
es krim ragusa

Legendaris, Mereka Bertahan di Jakarta Lebih dari Setengah Abad!

halaman waroeng solo

Waroeng Solo, Rasa Khas Surakarta di Jakarta