in

Lukay, Sedotan Inovatif Asal Filipina Untuk Selamatkan Bumi

Kira-kira di Indonesia bakal ada yang niru ga, ya?

Sedotan plastik telah menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan di seluruh dunia. Banyak restoran yang mulai mengganti sedotan plastik dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sedotan lukay adalah inisiatif terbaru yang datang dari Filipina.

Penelitian yang dipimpin ahli lingkungan Jenna R. Jambeck pada 2015 menunjukkan Indonesia menduduki posisi kedua dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut.

Jumlah penggunaan sedotan plastik di Indonesia juga mengkhawatirkan. Menurut data Divers Clean Action, perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang.

Sedotan-sedotan tersebut datang dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya (packed straw). Jika direntangkan, jumlah panjang sedotan itu akan menyamai jarak Jakarta-Meksiko, yakni 16 ribu kilometer lebih.

Diperlukan terobosan-terobosan baru untuk mengatasi ini, terutama oleh kafe, atau restoran, dan masyarakat, agar bisa meninggalkan kebiasaan menggunakan bahan plastik untuk konsumsi sekali pakai, khususnya sedotan.

Baru-baru ini, sebuah kafe di Filipina menjadi sorotan warganet. Inovasi mereka mengganti sedotan plastik digadang-gadang bisa jadi alternatif untuk menyelamatkan bumi dari sedotan plastik.

Cafe Editha, terletak di wilayah Dapa Provinsi Surigao del Norte, menggunakan sedotan ‘lukay’ sebagai pengganti bahan plastik. Lukay adalah daun dari tanaman sejenis palem atau kelapa.

Postingan tentang sedotan lukay di akun Facebook Cafe Editha segera viral. Pasalnya, inovasi sedotan ini dinilai sangat ramah lingkungan dan mudah terurai karena dari tanaman.

Manajer Cafe Editha, Sarah Tiu mendapat inspirasi sedotan ramah lingkungan ini saat berlibur ke Pulau Corregidor yang terletak di Teluk Manila.

Menurut Sarah, penduduk di sana terbiasa menggunakan lukay sebagai bahan utama membuat sedotan.

“Jadi kami meminta mereka untuk mengajari kami (karena) kami sangat terkesan dengan gagasan itu,” ujar perempuan berusia 37 tahun kepada media Inquirer.net.

Sebelumnya, sebagai upaya menjadi kafe yang ramah lingkungan, Cafe Editha sudah beralih dari sedotan plastik ke sedotan stainless steel, tapi tampaknya lukay lebih difavoritkan.

Sarah berharap inovasi menggunakan sedotan lukay dapat menginspirasi restoran atau kafe lain agar lebih peduli terhadap lingkungan. Terlebih sedotan lukay ini mudah dibuat.

Ingin membuat sedotan lukay sendiri? Simak tutorial yang diunggah Sarah di akun Youtube pribadinya. Videonya pendek, tidak sampai 2 menit, kok.

Melihat ini, sebenarnya upaya untuk menyelamatkan bumi dari serbuan plastik tidaklah susah, yang susah adalah mengubah perilaku dan perangai agar bisa menyelamatkan bumi. Setuju?

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by Rikko Ramadhana

Work hard, pray harder.

Content Author

Konsumsi Vitamin D Dapat Cegah Depresi!

Kuliner Indonesia, Cinta Sang Profesor yang Tak Berkesudahan