in

Kuliner Indonesia, Cinta Sang Profesor yang Tak Berkesudahan

Prof. Dr. Ir Murdijati Gardjito telah menulis lebih dari 60 buku untuk menjawab apa dan bagaimana kuliner Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito menerima penghargaan “Life Achievement Awards” pada Ubud Food Festival 2019, sebagai seseorang yang telah mengabdikan hidup untuk kuliner Indonesia. Nama Prof. Mur memang sangat dikenal di dunia kuliner Indonesia.

Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito menerima penghargaan “Life Achievement Awards” pada Ubud Food Festival 2019. (Foto: Wirasathya Darmaja – UFF2019)

“Sebagai guru besar teknologi pangan, saya dihantui pertanyaan tentang apa dan bagaimana kuliner Indonesia,” ujarnya di sela-sela pembuatan video untuk acara UFF 2019, pertengahan Mei 2019, di rumah putranya di bilangan Tangerang Selatan.

Baca juga: Chef Petani ini Gaungkan “No Farm, No Food” dari Badung

Minatnya meneliti dan mengembangkan kuliner Indonesia makin menggebu sejak dipercaya menjadi Kepala Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada pada 2003.

Hingga saat ini, lebih dari 60 buku tentang kuliner Indonesia telah ditulisnya. Prof. Mur yang kini berusia 77 tahun itu fasih bercerita kuliner Indonesia berjam-jam, bahkan jika mau, berhari-hari.

Ngobrolin kuliner Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Kita punya lebih dari 1000 seni dapur yang dikembangkan menjadi kuliner,” ujarnya.

Keragaman itu berangkat dari banyaknya etnis di Indonesia yang masing-masing memiliki budaya dan seni dapur sendiri. Juga berasal dari kekayaan alam Indonesia.

“Kita nomor dua setelah Brazil dalam hal biodiversity,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat lebih dari 100 jenis rempah, 200 jenis sayur, 400 jenis buah, dan lebih dari 1.400 jenis ikan di negara ini.

Berbekal keragaman bahan makanan yang sedemikian rupa, maka potensi untuk dikembangkan menjadi produk kuliner nyaris tak terbatas.

Pentingnya Pendokumentasian Kuliner Indonesia

Banyak cara dilakukan Prof. Mur untuk mendokumentasikan kuliner Indonesia – sebagai upayanya menjawab apa dan bagaimana kuliner Indonesia.

Namun, tak semua cara berjalan mudah. Terutama untuk mendokumentasikan kuliner-kuliner di daerah yang jauh dari tempatnya tinggal, Yogyakarta.

“Saya titip-titipkan ke mahasiswa yang KKN. Atau minta tolong yang saya kenal. Namun tak semua mendatangkan hasil.”

Sejak 2016 Prof. Mur mulai mendokumentasikan kuliner Indonesia berbasis wilayah. Ia dibantu koleganya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Ir Umar Santoso dan Prof. Dr. Ir Eni Harmayani. Keduanya adalah Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian.

Mereka dibantu belasan asisten dalam mencari informasi, mengkategorikannya, serta melakukan konfirmasi data. Apalagi kondisi fisik Prof. Mur sudah terbatas. Ia harus selalu didampingi asisten, karena tak dapat lagi melihat dengan baik.

Prof. Dr. Ir Murdijati Gardjito memperkenalkan Pusaka Cita Rasa Indonesia Seri 1 dalam Food for Thought : Empowering Indonesian Produce di Festival Hub @Taman Kuliner.
(Foto: Sherly Utami – UFF 2019)

Namun semangatnya tak padam. Ia nyaris hapal luar kepala mengenai beragam makanan Indonesia dan cerita dibaliknya.

Hasilnya, 12 seri buku yang merangkum informasi kuliner Indonesia diberi judul Pusaka Cita Rasa Indonesia (PCI). Isinya lebih dari 5.000 lembar.

Dalam acara di UFF 2019, Prof. Mur memperlihatkan buku PCI Seri 1: Ragam Minuman Indonesia.

“Lainnya, ada tiga tentang kudapan, tujuh seri seputar makanan Indonesia, dan satu lagi memuat penyerta hidangan Indonesia, seperti sambal, lalap, kerupuk,” kata Prof. Mur.

Menurutnya, pengelompokan itu masih harus dibuatkan berdasarkan wilayah provinsi. Berarti, masih harus menyelesaikan 34 buku lagi.

“Jika pendokumentasiannya baik, maka kita akan lebih mudah mengembangkan kuliner tersebut.”

Dan tentu saja, jadi tidak mudah diklaim pihak lain.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by Sica Harum

Content AuthorYears Of Membership

Lukay, Sedotan Inovatif Asal Filipina Untuk Selamatkan Bumi

7 Varian Es Dawet Ini Populer Banget di Pulau Jawa