in ,

Kuliner di 7 Kota Ini Masyhur Karena Resep Warisan

Hidangan nusantara begitu variatif. Soto, mie, kupat, bubur, nasi liwet, ataupun mie tiau, jadi kuliner top di kawasan masing-masing selama beberapa dekade. Alasannya sederhana, para pemiliknya mempertahankan resep warisan yang senantiasa jadi andalan dan kenikmatannya tak pernah tergerus zaman.

Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Soto Betawi H. Ma’aruf, Jakarta

Soto memang jadi kuliner khas dari berbagai provinsi di Indonesia, tak terkecuali di Jakarta.

Di ibu kota, ada soto betawi yang terkenal berkuah kental karena menggunakan santan yang gurih, dengan isian daging, jeroan, emping hingga tomat yang menyegarkan.

Salah satu yang termahsyur dengan resep warisan adalah Soto Betawi H. Ma’aruf yang sudah dirintis sejak 1940 dan sudah diteruskan oleh generasi ketiga.

Baca juga: Soto Betawi Afung, Bukti Percampuran Budaya di Glodok

Jika banyak menu soto betawi yang memproses daging sapi hingga jeroan dengan cara direbus dan digoreng saja, di Soto Betawi H. Ma’aruf dagingnya harus direndam di dalam kuah soto lalu digoreng hingga kering.

Istimewanya, paru goreng yang biasanya suka alot tapi tetap bisa kering meski sudah direndam dalam kuah.

Hal ini membuat cita rasa soto betawi di sini tak hanya bisa dirasakan di dalam kuah saja tapi bisa sampai ke dalam dagingnya.

2. Mie Koclok Mas Edi, Cirebon

Bicara kuliner khas Cirebon, tidak hanya nasi jamblang atau empal gentong saja. Kota udang ini memiliki makanan khas lainnya, yakni mie koclok, hidangan yang bisa ditemui dengan mudah di berbagai penjuru kota.

Banyak yang mengira bahwa mie koclok adalah mie kocok yang namanya diplesetkan, tapi salah. Keduanya berbeda, mie koclok memiliki kuah yang lebih kental.

Salah satu hidangan mie koclok paling terkenal di Cirebon adalah Mie Koclok Mas Edi. Letaknya yang di tengah kota membuat mie kocloknya lebih mudah ditemui daripada yang lain tepatnya ada di Jalan Lawanggada.

Dalam seporsi mangkuk Mie Koclok Mas Edi terdapat suwiran ayam, potongan telur, tauge, kol, dan daun bawang, yang kemudian akan disiram kuah kental.

Kuah kental yang digunakan oleh Mas Edi ini lah yang menjadi keunggulan utamanya. Kuahnya hanya akan dibuat dengan campuran kaldu ayam kampung, santan kelapa murni tanpa campuran susu, dan ditambah tepung maizena.

Resep ini adalah racikan mendiang Kakek Mas Edi yang masih dipertahankan sejak 1945.

3. Nasi Liwet Wongso Lemu, Solo

Nasi liwet merupakan makanan khas Solo yang biasanya buka dari sore hingga dini hari.

Hidangan ini berupa nasi gurih mirip dengan nasi uduk dengan tekstur yang lebih lembut. Lalu, disiram dengan kuah sayur dan lauk pauk yang dihidangkan di atas pincuk daun pisang.

Nasi liwet di Solo yang namanya begitu melegenda karena sudah mulai melayani pelanggan sejak tahun 1954 namun tak pernah sepi dari pembeli. Hal ini tak lepas dari resep turun temurun keluarga yang digunakan.

Baca juga: Sego Gudangan, Kuliner Khas Klaten yang Selalu Dirindu

Nasi Liwet Wongso Lemu santan murni untuk mengolah nasi gurihnya. Mereka memiliki rasa sayur labu yang pedas-manis dan berpadu sempurna dengan isian seperti suwiran ayam, telur pindang, serta areh atau bubur santan.

Saat makan di sini para pengunjung akan dilayani oleh para pelayan yang menggunakan kebaya, dan akan dihibur dengan para musisi jalanan yang mengenakan kebaya, tata rias, serta sanggul ala jawa.

Cara ini terbilang unik dan membuat Nasi Liwet Wongso Lemu begitu mudah dikenang.

4. Tahu Telor Cak Kahar, Surabaya

Selain rujak cingur, Surabaya punya menu khas lain: tahu telor. Hidangan satu ini merupakan kombinasi petis, kuah, tahu dan sayur mayur yang berpadu menjadi satu dan siap menggoyang lidah.

Di Surabaya sendiri banyak penjual tahu telor yang bisa dijumpai, rasanya pun hampir-hampir mirip. Tapi ada satu warung tahu telor yang tak boleh ketinggalan dicicipi, yaitu Tahu Telor Cak Kahar.

Sudah ada sejak tahun 1960-an menjadikan warung tahu sederhana ini begitu melegenda. Rasanya enak sedari dulu dan tetap menggunakan resep para pendahulunya.

Uniknya di sini para pelanggan bisa memesan tingkat kepedasan dengan level berbeda, seperti pedas level-levelan yang sekarang menjamur itu.

Dalam satu porsi tahu telor di warung Cak Kahar ini juga kaya isi, antara lain adalah berisi potongan daging sapi, otot sapi, kecambah, mie kuning, tahu, lentho dan kerupuk udang.

Siraman kuah kaldu sapi serta bumbu petis membuat rasanya makin spesial. Harganya berkisar antara Rp 15.000 -20.000 saja.

5. Kupat Tahu Gempol, Bandung

Kupat tahu merupakan sebuah hidangan yang bisa ditemui di Kota Kembang, Bandung. Biasanya hidangan ini menggunakan tahu kuning yang dipotong-potong, tauge, kerupuk dan siraman kuah kacang.

Seringkali pedagang kupat tahu tidak spesifik dalam memilih tahu kuning sebagai bahan utamanya, tapi ini tak berlaku bagi Kupat Tahu Gempol Bandung yang berada di Jalan Gempol Kulon nomor 53.

Warung sederhana yang dirintis sejak tahun 1960 ini sekarang dilanjutkan oleh Hj. Yayah dan anaknya Hj. Nuraeni. Hj. Yayah tetap menggunakan resep awal yang telah diwariskan turun temurun dari keluarga suaminya.

Salah satunya adalah tetap menggunakan tahu kuning yang berasal dari Cibuntu, karena dinilai lebih empuk dan kenyal.

Bahan sayuran yang digunakan pun segar sehingga makan kupat tahu tidak lagi sekadar mengenyangkan, namun juga menyehatkan.

Satu prosi kupat tahu bisa dinikmati sekitar Rp 17.000 saja, dan sudah buka sejak pagi hari.

6. Bubur Ayam Bunut, Sukabumi

Hidangan ini merupakan salah satu menu makanan yang seringkali dikonsumsi untuk sarapan atau menghangatkan badan saat malam hari.

Dengan tambahan suwiran ayam, kacang kedelai goreng, cakwe dan kerupuk renyah, rasa dan teksturnya semakin kaya.

Meski enak, biasanya bubur ayam yang biasa ditemui di pinggir jalan hingga restoran tidak memiliki perbedaan yang membuatnya dikenang.

Baca juga: Tradisi Bubur Syuro di Desa Sungai Rengit

Hal ini tentu saja berbeda dengan sajian Bubur Ayam Bunut di Sukabumi yang mulai dikenalkan kepada masyarakat pada tahun 1970-an.

Bubur Ayam Bunut memiliki perbedaan kecil yang dampaknya signifikan, terutama pada kaldunya.

Jika bubur kebanyakan akan mencampur bawang goreng di dalam kaldu, mereka memilih tidak melakukannya dan hanya menjadikan bawang goreng sebagai topping.

Hal ini membuat kaldunya terasa murni, karena tidak terlalu banyak menggunakan bahan-bahan. Meski begitu rasanya tetap lezat, biasanya makan bubur dari Sukabumi ini ditemani dengan kroket atau risol.

7. Mie Tiaw Antasari, Pontianak

Hidangan mie tiaw merupakan makanan yang sudah akrab di lidah orang Indonesia. Apalagi saat malam hari menu ini nyaris meramaikan sepertiga jenis makanan yang dijajakan di pusat keramaian.

Teksturnya kenyal dan enak digoreng atau dibuat kuah membuat mie ini memang tak pernah kehabisan penikmat. Ada salah satu rekomendasi mie tiaw yang patut dicicipi, yakni Mie Tiaw Antasari 72 Pontianak.

Seperti namanya, ia sudah disajikan sejak 1972 dan sekarang sudah membuka cabang di Bekasi. Semua mie tiaw-nya dimasak dengan resep turun temurun yang diwariskan keluarga.

Rahasia resepnya tidak pernah dibuka, namun konon bedanya dengan cara masak mie tiaw pada umumnya adalah dari penggunaan bawang putih.

Mie Tiaw Antasari 72 dikenal dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas. Favorit pengunjung adalah mie tiaw goreng dan rebus. Isinya bisa jeroan, seperti usus dan babat sapi, atau daging saja

Bagaimana, sudah siap berburu kuliner warisan ini saat kamu ngetrip ke kota-kota di atas?

Penulis: Anisa Giovanny
Editor: Ellen Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

7 Stan Kuliner di FJB 2019 ini Ramainya Kebangetan!

IFSR 2019 Bahas Sisi Gelap, Erotis, dan Familiar dari Rempah