Kue Panas di Kota Dinginku: Kue Talam

Makan bubur panas-panas. Peribahasa tersebut mungkin masih terdengar aneh bagi sebagian orang. Peribahasa tersebut bermakna konotasi yang berarti “mengerjakan suatu pekerjaan secara terburu-buru sehingga hasilnya mengecewakan”.

Namun, adakah di antara kita yang ingin memakan bubur panas-panas? Mungkin tidak. Lain halnya jika Anda bertemu dengan kue panas yang satu ini “Kue Talam”.

Sesuai dengan namanya, talam yang berasal dari bahasa Batak ini memiliki arti “nampan” karena makanan ini disajikan pada sebuah nampan atau loyang berbentuk lingkaran besar.

Makanan ini hanya dapat dijumpai di Pasar Tradisional Tarutung, sebuah kota kecil di Provinsi Sumatra Utara. Agar dapat menikmati makanan yang digemari masyarakat lokal ini, Anda harus meluangkan waktu dikarenakan banyaknya orang yang mengantre khususnya pada hari Sabtu.

Hingga sekarang, hanya terdapat dua penjual kue talam di kota Tarutung. Keadaan inilah yang membuat kue talam sangat langka dan susah ditemukan.

Ibu Gultom saat dijumpai Rabu (01/08/2018) di dalam sebuah toko kecil lengkap dengan gerobaknya, mengatakan bahwa usaha kue talam ini sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda pada tahun 1932.

Suami ibu Gultom pun bercerita bahwa saat penjajahan Belanda, ketika Pasar Tradisional Tarutung belum ada, orangtua mereka berjualan kue talam di pusat kota Tarutung tepat di dekat pohon durian yang menjadi tempat transaksi jual beli yang dilakukan antara penduduk lokal dengan tentara Belanda.

Keunikan kue talam ini dapat dilihat dari cara pembuatannya. Bahan-bahan utama yang diperlukan adalah tepung beras, gula aren, dan kelapa. Cara memasak kue ini memiliki teknik tersendiri.

Suhu dan ritme kocokan saat adonan tepung beras dan gula aren dikukus harus diperhatikan agar tingkat kematangannya pas. Hal inilah yang menyebabkan tidak semua orang dapat membuat kue yang satu ini karena dibutuhkan keterampilan khusus.

Kue talam yang sudah matang akan berwarna cokelat muda. Pada sentuhan terakhir, santan akan dituangkan di atas kukusan kue talam yang sudah matang. Menariknya, santan yang dituangkan di atas kue talam ini akan tetap membeku walaupun dalam keadaan panas.

Menikmati makanan yang langka dan menarik ini terasa lebih nikmat jika dimakan saat keadaan benar-benar panas.

Meskipun lidah agak terasa panas, tapi bagian inilah yang membuat penikmat kue talam dapat merasakan kue talam yang sesungguhnya, ditambah dengan dinginnya kota Tarutung seakan menambah cita rasa kue ini.

Dari harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, Anda cukup merogoh kocek mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000. Karena harganya yang sangat terjangkau, banyak masyarakat rela mengantre dan berdesakan saat hendak membeli.

Tidak hanya masyarakat sekitar saja, anak perantau yang baru saja pulang kampung pun selalu menyempatkan waktu mencicipi kue ini karena kue ini memiliki daya tarik tersendiri. Bagi mereka tidak sah rasanya pulang kampung jika tidak menikmati kue talam.

Tunggu apalagi? Segera jadwalkan weekend Anda untuk mencicipi kue talam ini. Datanglah lebih cepat dan jangan sampai datang terlalu kesiangan, Anda tidak dapat menikmati kue talam karena sudah habis diburu oleh pembeli.

Jadi, kalau tidak kebagian, Anda harus sabar menunggu sampai dua atau tiga hari kemudian.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *