Kehangatan dalam Semangkuk Ketan Santan Mangga

Di antara putri-putri ibu yang lain, mungkin hanya saya yang tidak pandai memasak. Meskipun ibu jago sekali memasak berbagai macam menu, rupanya keahlian itu tidak diturunkan kepada saya.

Setelah menikah dan akhirnya harus pindah ke luar kota, sangat terasa betapa beratnya memikirkan menu apalagi merealisasikannya. Hampir setiap pergi ke toko buku, saya selalu berlama-lama di rak-rak buku resep dan selalu mengadopsinya beberapa. Tapi, sungguh di luar dugaan, setelah saya coba, tak satu pun yang menarik untuk dicicipi. Sama sekali tidak enak hasilnya!

Menyesal, kenapa sejak lama tidak pernah belajar memasak. Bahkan untuk membuat sayur bening saja saya harus kebingungan memikirkan bumbunya.

Lebih malangnya lagi karena saya harus tinggal berjauhan dengan orang tua. Saya pun kerap menghubungi ibu terutama ketika harus menanyakan resep-resep masakan. Sebelum pindah, ibu bahkan sempat membuat catatan resep untuk saya bawa. Kenyataannya, pengalaman sedikit tak pernah membuat tangan saya sepandai ibu saat meramu bumbu-bumbu.

Pulang hanya setahun sekali membuat daya selalu rindu akan makanan yang sering ibu sajikan di rumah. Salah satunya menu dengan bahan dasar ketan. Ibu biasa membuat ketan urap kelapa ketika ada orang membagun rumah atau memperbaiki beberapa bagian di rumah ibu. Meskipun sederhana, tapi menu satu ini sangat istimewa. Entah kenapa, lidah saya selalu terbawa pada kenangan di mana kami pagi-pagi harus meniup tungku kayu, terbatuk-batuk karena asap, bahkan kedinginan sebab udara pedesaan di daerah kota Malang cukup menusuk tulang.

Di pekarangan rumah, tumbuh beberapa pohon kelapa. Berbeda dengan di Jakarta di mana saya tinggal saat ini. Ibu selalu mengupas kelapa sendiri, memarutnya untuk kemudian diambil santan ataupun digunakan kelapa parutnya. Meskipun terdengar lebih rumit, tapi membayangkan kami duduk bersama setiap pagi membuat hati rindu.

Sepiring ketan bertabur parutan kelapa muda bisa jadi kenangan manis, bukan karena mewahnya sebuah hidangan, tapi kebersamaan kami yang hangat itulah yang selalu mengundang titik embun di kelopak mata.

Dalam sebuah kesempatan, saya pun mencoba membuat kudapan berbahan dasar ketan. Tapi, kali ini sedikit berbeda karena saya menggunakan santan cair segar untuk pelengkapnya. Ya, santan cair segar selalu ibu pakai untuk membuat kudapan semacam menu berbuka puasa. Ibu tidak terlalu suka kolak, sebab santan matang membuat menu satu ini jadi sedikit lebih berat di lidah.

Jadi. Setiap hendak berbuka, kami terbiasa memarut dulu kelapa, dituang air matang dan diambil santannya kemudian dicampurkan dengan cendol beras buatan ibu sendiri. Kebahagiaan kami bukan karena hidangan mewah, tapi sekali lagi kebersamaanlah yang membuat semuanya jadi sangat manis.

Ketan santan ini diadopsi dari dua hal yang sering ibu hidangkan di rumah. Dijadikan menu baru dan ditambahkan potongan buah mangga di atasnya. Ini bukan kudapan kekinian yang banyak bertebaran di sosial media, ini perpaduan dari dua hal yang selalu membuat rindu setiap kali lidah mencoba santan segar ataupun ketan kukusnya.

Meskipun saat ini kami masih harus berpisah jarak, tapi, suatu saat saya benar-benar ingin tinggal dan membersamai masa tua ibu. Ingin sekali menjaga ibu dan menyajikan masakan buatan tangan saya sendiri setiap pagi, tanpa harus melihat ibu terbatuk-batuk lagi di depan tungku kayu. Semoga ibu selalu sehat, saya sangat rindu dan mencintai ibu, sangat.

 

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *