Tradisi Minum Teh Indonesia dari Masa ke Masa

Teh hijau
Teh hijau (Foto: Pixabay)

Orang Indonesia ternyata sangat suka minum teh. Selepas kerja dan bersantai, ngeteh. Suhu udara naik dan mulai berih-bersin, ngeteh. Habis makan nasi pecel lele, ngeteh. Tamu datang ke rumah, ngeteh. Hingga upacara adat atau hajatan, sajiannya adalah teh hangat.

Maklum, minuman ini memang nikmat disajikan hangat atau dingin. Tak hanya Indonesia, seluruh dunia pun mengakui kenikmatannya. Alhasil, teh tak bisa dipisahkan dari keseharian kita.

Namun, teh sendiri ternyata sangat beragam, lho. Fakta ini dipengaruhi budaya, kondisi geografis, dan kebiasaan masyarakat setempat.

Abad 8 SM – Berawal Sebagi Obat Herbal di Tiongkok

Chinese tea

Chinese tea (Foto: Pixabay)

Pengolahan teh ditemukan pertama kali di Provinsi Yunnan, Tiongkok. Dulu, tumbuhan bernama ilmiah Camellia sinensis ini dijadikan salah satu obat herbal.

Seiring masuknya Dinasti Han, teh mulai diolah dalam proses sederhana. Yakni dibentuk bulat dan dikeringkan supaya awet disimpan. Teh juga diseduh untuk menjamu para tamu. Kebiasaan ini menyebar ke seluruh negeri dan Jepang salah satunya.

Abad 9 – Jadi Tradisi Sakral di Jepang

Chanoyu, upacara minum teh ala Jepang

Chanoyu, upacara minum teh ala Jepang (Foto: Galaxy Macau)

Bibit tanaman teh dibawa ke Jepang oleh seorang pendeta Budha bernama Yeisei. Baginya, teh Tiongkok mampu meningkatkan konsentrasi saat meditasi.

Teh pun menyebar dengan cepat di kalangan istana dan masyarakat Jepang. Bahkan menjadi suatu tradisi yang masih berjalan hingga sekarang.

Adalah upacara minum teh bernama chanoyu yang artinya air panas untuk teh. Upacara sakral ini menjunjung tinggi kesempurnaan, kesopanan, pesona dan keanggunan. Jadi, tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Abad 17 – Tumbuh Subur Karena Tanam Paksa di Indonesia

Perkebunan teh

Pekerja di perkebunan teh (Foto: Pixabay)

Banyak orang Indonesia percaya bahwa kebiasaan minum teh datang dari bangsa Tiongkok.

Namun, budidaya tanaman teh baru dimulai saat Belanda menduduki wilayah Indonesia. Sistem tanam paksa dilakukan besar-besaran oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Teh merupakan salah satu komoditas yang wajib ditanam oleh rakyat Indonesia.

Ada dua varietas utama tanaman teh. Ada yang berdaun kecil (Camellia sinensis) dan tumbuh di dataran tinggi. Yang kedua memiliki daun lebar (Camellia assamica) dan tumbuh di dataran rendah yang lembap.

Teh berdaun kecil tersebar luas di Indonesia, sedangkan jenis daun lebar mudah ditemukan di daerah perkebunan.

Baca juga: 

Penyajian Teh dari Masa ke Masa: Dari Tubruk Hingga Thai Tea Kekinian

teh poci

Teh poci (Foto: Pinterest/Roland Demedis)

Awalnya, minuman teh diproses secara tubruk. Tidak sepraktis sekarang, teh tubruk harus direndam air panas dulu untuk mengekstrak kandungan daun teh.

Minum teh di Jawa merupakan agenda wajib sehari-hari. Sesibuk apapun, orang Jawa dulu selalu menyempatkan diri untuk duduk dan minum teh.

Tiap daerah punya cara unik dalam menyeruput secangkir teh. Kabupaten Tegal memakai teko tanah liat yang hingga kini disebut teh poci.

Teh ini memakai gula batu sebagai pemanis. Uniknya, gula ini tidak diaduk seperti yang lain, tetapi cangkirnya digoyangkan hingga larut sempurna. Cara minum ini menciptakan sensasi pahit di awal, lalu perlahan menjadi manis dan nikmat. Istilah “nasgitel” (panas, legi, kentel) tercipta sebagai patokan bagaimana membuat teh poci yang nikmat dan manisnya pas.

Poci atau teko untuk menyeduh teh tidak boleh dicuci. Cukup buang sisa tehnya dan simpan untuk pemakaian selanjutnya. Masyarakat percaya, kerak sisa justru menambah kenikmatan teh yang dibuat nantinya.

Teh Botol Sosro. (Foto: Flickr/Nana Mikiko)

Seiring berkembangnya zaman, masyarakat yang dipadati aktivitas pun menuntut kepraktisan dalam minum teh. Oleh karenanya, muncul beragam bentuk teh langsung seduh seperti teh celup, teh bubuk, dan teh bentuk stik.

Kalau tak ingin repot-repot menyeduh, banyak minuman teh yang diproduksi dalam kemasan ready-to-drink seperti kaleng, botol plastik, botol kaca, dan tetrapack.

Kebiasaan minum teh tetap diwariskan pada generasi sekarang. Selain rasa teh yang otentik, beragam bentuk dan varian yang menggugah selera pun muncul. Sebutlah bubble tea, Thai tea, dan yang beken akhir-akhir ini cheese tea.

Bubble tea

Bubble tea (Foto: Steamed Ravioli & Bubble Tea: The Empire of Paulo Sarpi Italia)

Bubble tea merupakan teh beraneka rasa yang ditambah bola-bola kenyal dari tapioka (bubble).

Sedangkan Thai tea yang masih hits di Indonesia adalah minuman teh asal Thailand. Teh ini memiliki rasa yang khas karena campuran susu kental manis dan ditambahkan es batu.

Terakhir adalah cheese tea. Minuman ini menggabungkan cita rasa teh dan keju yang unik dan menggiurkan. Teh hijau, hitam, atau oolong diseduh seperti biasa dan diberi es batu. Pada bagian atas, keju berupa krim lembut dan gurih ini dituang menutupi teh.

Selain jadi minuman, teh juga diubah menjadi rasa makanan atau minuman. Matcha atau teh hijau Jepang kerap disajikan sebagai perasa. Bahan yang identik dengan warna hijau ini juga dibuat topping berbentuk bubuk atau krim.

Jadi, kebiasaan minum teh mana yang masih kamu lakukan hingga sekarang?

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up