in

Kali Pertama di Ubud Food Festival, Kali Pertama Perut, Otak, dan Hati Bahagia Bersama

Catatan UFF First Timer yang ingin kembali lagi tahun depan.

Pakar Kuliner Sisca Soewitomo di UFF2019 (Foto: Wayan Martino- UFF2019)

Sejak tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Rabu (24/4) malam, rasanya tak sabar untuk sampai di Ubud.

Perasaan seperti “Pokoknya semua musti dijangkau! Kapan lagi bisa ke event sekeren ini” meraung-raung di dalam dada.

Here I come UFF 2019!

Keriaan bersama Penelope Williams (kanan) dalam acara Masterclass: Bali Asli Cooking Class. Festival Hub @ Taman Kuliner. (Foto: Wirasathya Darmaja – UFF2019)

Ubud, sebuah daerah di utara Bali itu kerap diajukan oleh Kementerian Pariwisata sebagai “destinasi wisata gastronomi dunia” pada United Nation World Tourism Organization (UNWTO).

Terbukti dari ikutnya Indonesia dalam UNWTO World Forum on Gastronomy Tourism di San Sebastian, Spanyol pada 2-3 Mei 2019 silam.

Ubud dipercaya memiliki semua kualitas sebagai destinasi gastronomi dunia.

Mulai dari kuliner tradisional dan internasional yang hidup berdampingan, produk lokal yang mumpuni, hingga pengolah makanan yang mampu memadukan unsur lokal dan internasional.

Kita bisa melihat gambaran itu dalam Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC, sebuah acara  kuliner tahunan bertaraf internasional yang mulai sejak 2015.

Seperti halnya festival, UFF 2019 membahas kuliner dari berbagai dimensi. Baik budaya, produksi, hingga persona dibalik kuliner itu sendiri. Yang jelas, UFF 2019 bukan sekadar talkshow dan bazaar makanan.

Special Event: Ternate Long Table Lunch di Restoran Casa Luna, Ubud.
(Foto: Wirasathya Darmaja- UFF2019)

Tahun ini, UFF 2019 mengusung isu rempah, mengedepankan tagline “Spice Up The World”.

“Kami juga menghadirkan kuliner dari berbagai daerah, seperti Aceh, Ternate, hingga Papua,” jelas Kadek Purnami, General Manager UFF 2019 dalam press conference Quick Bites: Spice Up The World (20/3) di Jakarta.

Ubud Food Festival memang tak pernah menjadi panggung tunggal bagi kuliner Bali, namun bergantian mengedepankan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia.

Kuah beulangong sampai cemilan gurih dari sukun

Saat acara Opening Night UFF 2019 (25/4), booth Aceh Culinary Festival (ACF) yang menjual kupi sareng dan martabak telur sangat penuh! Tim ACF yang datang dari ujung barat Indonesia pun berbagi kisah dan teknik membuat Kupi Sareng yang legendaris dalam sesi Teater Kuliner: Aceh’s Legendary Kupi Sareng.

Tim AFC dalam Teater Kuliner: Aceh’s Legendary Kupi Sareng di Festival Hub @Taman Kuliner.
(Foto: Vifick Bolang – UFF2019)

Tak cuma kopi, tim AFC juga memasak kuah beulangong yang khas. Bayangkan kuah berempah yang gurih dan pekat tanpa penggunaan santan sedikitpun! Slurrrp!

Namun, bicara rempah tak selalu berkiblat pada Aceh.

Daerah-daerah yang bagi saya masih underrated seperti Ternate juga tak kalah menarik.

Ikan bumbu kuning yang nikmat berteman tuna asap bumbu sayur lilin berhasil menggoyang lidah.

Sesi Teater Kuliner: Once Upon A Time in Ternate memberi gambaran bahwa Ternate bukan sekadar pulau kecil di Indonesia Timur. Ia dijuluki sebagai “negeri rempah” yang diakui pegiat-pegiat rempah Nusantara.

Tahukah kamu bahwa pohon cengkeh tertua di dunia ada di Ternate?

Serunya di Ubud Food Festival, saya juga bisa bertemu teman-teman baru dari dunia kuliner.

Ada Pengalaman Rasa yang diprakarsai Ayu dan Gede Kresna. Pengalaman Rasa merupakan warung makan dengan konsep by request.

Ayu dan Gede Kresna dalam Teater Kuliner: Cooking in Bamboo. Festival Hub @ Taman Kuliner. (Foto: Anggara Mahendra – UFF 2019)

Menu spesial mereka berupa masakan bambu sempat disajikan dalam sesi Teater Kuliner: Cooking With Bamboo. Yakni tu-in ayam (Sikka), pa’piong (Toraja), dan ayam timbungan (Bali).

Ada pula Charles Toto yang dijuluki jungle chef. Dalam sesi Teater Kuliner: A Taste from Yamna Island, ia membuat azarakwa nuhf dari sukun yang dimasak dengan santan dan garam. Gurih dan manis. Wah, baru tahu ada cemilan seperti ini di Papua!

Saya juga sempat bertemu Petty Elliott, salah seorang koki Indonesia kenamaan yang pernah berpartisipasi dalam BBC Masterchef Inggris.

Ia membuat sambal ijo yang di-convert menjadi saus pesto untuk pasta Italia. Rasanya unik dan kami langsung kepikiran, “Wah, kenapa yang begini susah go international ya?”

Selain Petty, beberapa koki Indonesia seperti Rinrin Marinka juga berhasil ‘mempercantik’ kuliner Indonesia.

Dalam sesi Teater Kuliner: Gohu Ikan – Indonesia’s Ceviche, membuat gohu ikan khas Manado dengan ikan gindara dan bahan-bahan tambahan seperti terasi, air jeruk limau, cabai Bali, kemangi, kenari, terasi, hingga buah alpukat!

Rasa sajian ini seperti di-upgrade beberapa level saat bahan aslinya hanyalah air jeruk dan garam.

Persona kuliner Bali

Sebagai tuan rumah, para persona di balik kuliner Bali juga unjuk gigi.

Tri Sutrisna yang asli Bali menyuguhkan durian mayonaise dalam sesi Teater Kuliner: Durian and Spice and All Things Nice. Ia mencampurkan fermentasi durian, merica hitam, minyak kelapa, dan cuka salak dalam blender dan duaaar…luar biasa nikmat! Apalagi ketika dioles di atas roti sourdough yang agak berserat.

Kolaborasi paling keren di Bali juga terlihat dalam acara Special Event: Into the Wild, yang diselenggarakan di Restaurant Locavore.

Special Event: Into the Wild, yang diselenggarakan di Restaurant Locavore.
(Foto: Wirasathya Darmaja – UFF 2019)

Rasanya penasaran betul dengan Locavore yang berulang kali masuk Asia’s Top 50 Best Restaurant, sebuah penghargaan bergengsi dalam perhelatan gastronomi Asia.

Melihat Eelke Plasmeijer, Ray Adriansyah, dan lima koki profesional lagi beradu dalam satu lokasi, wah rasanya wajah tak bisa berhenti tercengang!

Otak lapang, perut kenyang, hati bahagia

Ubud Food Festival adalah ajang menelusuri kuliner lebih mendalam dari berbagai dimensi. Beberapa program diskusi membuka cakrawala pikiran.

Pakar Kuliner Sisca Soewitomo di UFF2019. (Foto: Wayan Martino- UFF2019)

Ada banyak tokoh kuliner berkumpul di sini, termasuk pakar kuliner Sisca Soewitomo yang populer dengan program memasak Aroma di era 90-an sampai 2000-an, Chef Mandif Warokka, Wida Winarno penggagas Tempe Movement, hingga Chef Ragil Imam Wibowo pendiri Nusa Indonesian Gastronomy.

Bayangkan, betapa hari-hari di Ubud Food Festival begitu penuh hal menarik dan baru.

Dalam sesi Food For Thought: The Dark Side, koki selebriti Judy Joo dan koki profesional Adhitia Julisiandi berbagi kisah tentang pengalaman di dapur. Bahwasanya dunia dapur yang panas tak selalu tampak keren ketika kasus bunuh diri hingga bullying diangkat.

Atau ketika mendengar cerita dari peraih UFF19 Lifetime Achievement Award Prof. Dr. Murdijati Gardjito. Rasanya tak boleh buru-buru bilang cukup saat mengaku passionate dengan kuliner Indonesia.

Ia bercerita bagaimana proses dokumentasi kuliner Indonesia dilakukan sepanjang masa mudanya.

Baca juga: Kuliner Indonesia, Cinta Sang Profesor yang Tak Berkesudahan

Prof. Mur juga mengatakan kampanye #NoFoodWaste di Indonesia sebetulnya sudah dipraktekkan sejak puluhan tahun silam.

Saat kontribusi generasi milenial pada tagar #NoFoodWaste masih berkisar pada sedotan stainless dan tas kain, masyarakat Indonesia sudah lebih dulu kreatif mengolah sisa nasi jadi intip goreng.

Live Music saat malam penutupan UFF 2019 di Taman Kuliner Ubud. (Foto: Wayan Martino-UFF2019)

Ah…kenyang menyantap semua itu, rasanya hanya ingin duduk di bean bag tengah venue. Entah berkontemplasi atau mengumpulkan rindu untuk acara di tahun mendatang.

Sampai bertemu lagi, Ubud. Sampai jumpa di UFF 2020!

Editor: Sica Harum


What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

dim sum vegetarian

Resep Dim Sum Vegetarian, Cocok untuk Berbuka Puasa!

Mozaic

Suka Duka Dapur Profesional, Ini Curhatan dari Para Koki