in

Jakarta Eat Festival 2019: Potensi Indonesia dan Tren yang Berkembang

Rangkaian acara Jakarta Eat Festival tahun ini telah berakhir pada hari Minggu, 1 September 2019 lalu. Hingga hari terakhir antusiasme pengunjung terbilang masih cukup tinggi. Ada beberapa rangkaian acara di hari tersebut, seperti workshop, food festival, dan talk show.

Salah satu rangkaian talks how mengangkat tema Ubud sebagai destinasi gastronomi. Pembicara yang hadir dalam talk show ini adalah Vita Datau, Head of Accelerator Team for the Development of Culinary and Shopping Tourism, dan Gregory Lentini, Co-Founder Gelato Secrets di Bali. 

Dipandu oleh penulis kuliner Kevindra Soemantri, para pembicara membahas bagaimana potensi Ubud sebagai destinasi gastronomi dan terpilihnya Ubud oleh UNWTO (World Tourism Organization) sebagai prototype destinasi gastronomi pertama di dunia. 

Ubud dilipilih sebagai destinasi karena tiga aspek: People, Place, Product. 

Ubud memiliki potensi sumber daya manusia yang memadai di sektor kuliner. Banyak chef berasal dari Ubud. Banyak juga pendatang dari luar negeri yang ingin belajar mengenai kuliner. Place, maksudnya adalah banyak toko-toko artisan yang bermunculan di Ubud, mulai dari toko makanan nusantara hingga internasional pun tersedia. Sementara Product, berarti sumber daya alam pun berlimpah terutama dari segi bahan pokok dan rempah.

Ada dua hal yang menjadi tiang utama gastronomi Indonesia, terutama di Ubud, yaitu ritual upacara adat dan kekayaan rempah yang dimiliki. Bali, khususnya Ubud, menjadi menarik karena makanan memegang peranan penting dalam proses ritual adat seperti untuk persembahan maupun sesajen.

Rempah-rempah di Indonesia memang sudah menjadi keunggulan bagi Indonesia sejak dahulu kala. Aspek ini memang telah membuat Indonesia terkenal bahkan tidak sedikit yang berjuang untuk bisa sampaI di Indonesia untuk bisa mendapatkan rempah.

Bagi Gregory, masalah utama yang dihadapi petani di Ubud ada adalah aspek konektivitas. Petani kesulitan untuk bisa memasarkan secara langsung hasil panennya kepada pembeli dengan harga yang lebih pantas.

Kunci untuk memajukan kuliner Indonesia, terutama setelah terpilihnya Ubud untuk menjadi destinasi gastronomi adalah mensinergikan semua aspek yang terlibat di dalamnya tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum. 

Dengan kekayaan yang dimiliki Indonesia, harusnya ini bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan kuliner kita di mata dunia. “We are the richest gastronomy country in the world,” ungkap Vita.

Makanan Indonesia Mulai Jadi Tren

Talk show selanjutnya membahas food trend di Indonesia, mengundang Ratna Kartadjoemena dari Potato Head Group, serta Chef Fernando Sindu dan Bams dari Fit Lokal. 

Kuliner di Indonesia kini merupakan topik yang sering menjadi perhatian publik. Tren kuliner dapat dideteksi dengan berbagai cara. Cara yang paling umum adalah dengan melihat apa yang sedang sering diperbincangkan di media sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memiliki andil besar dalam penyebaran tren di masyarakat.

Cara lainnya adalah dengan melihat aplikasi ojek online, makanan yang secara terus menerus ada di bagian atas rekomendasi layanan pesan antar makanan biasanya adalah makanan yang sedang tren atau sering dipesan oleh pelanggan aplikasi tersebut.

Berbeda dengan kedua cara tadi, Bams mengatakan bahwa tren makanan juga dapat dilihat melalui riset. Misalnya apa yang biasanya diketik pada mesin pencari. Atau dengan menyesuaikan pada kebutuhan masyarakat, seperti tren makanan rendah kalori yang mengikuti tren hidup sehat masyarakat urban. 

Chef Fernando mengatakan, meski pelaku usaha kuliner atau orang yang berkecimpung di dunia kuliner harus paham dan beradaptasi dengan tren. Tidak serta merta semua tren harus diikuti. Kita harus tetap mempertahankan ideologi sendiri, jika memang tren yang berkembang tidak sesuai. Tidak perlu dipaksakan. 

Tren kuliner di Indonesia juga sedikit bergeser dari tahun ke tahun. Jika sebelumnya makanan yang trending adalah makanan dari luar negeri, akhir-akhir ini makanan Indonesia cukup sering menjadi highlight dari perbincangan kuliner. Seperti ayam geprek dan seblak.

Kedua talk show di hari terakhir Jakarta Eat Festival ini sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang kuliner sebagai destinasi wisata maupun trendsetter di industri kuliner. 

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Expert

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Memarut wortel

Ajak Anak Ikut Kelas Masak, Dorong Sosialisasi dan Tingkatkan Kemampuan Motorik

Chef Antoine Audran

Curhat Chef Michelin Star: Masakan Indonesia Kompleks dan Sulit