in , ,

Intip Potensi Kuliner dalam Negeri, Menjanjikan Tapi …

Tidak diragukan lagi, kekayaan kuliner Indonesia sangat beragam nilainya. Terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, potensi kekayaan bahan-bahan tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri yang tidak bisa ditemukan di negara lain. 

Potensi kuliner Indonesia
Kuliner Indonesia memiliki banyak sekali potensi, namun belum digarap dengan baik. (Foto: belanga.id/Rikko)

Jika terus didorong, bukan tak mungkin kuliner Indonesia akan lebih mendunia. Apalagi didukung kekayaan alam yang sangat luas. Sayangnya, saat ini potensi kuliner lokal masih belum tergali secara optimal. Kurangnya edukasi terhadap masyarakat menjadi salah satu penyebab belum optimalnya potensi kuliner lokal. 

“Potensi kuliner Indonesia itu ada tetapi sayang edukasinya masih belum (maksimal). Generasi muda sebaiknya mau belajar dan lebih teredukasi untuk mau masak lagi,” ujar Chef Antoine Audran, koki bergelar Michelin Star dalam acara Jakarta Eat Festival di Gandaria City, Sabtu 31 Agustus 2019.

Chef asal Prancis itu menuturkan, saat ini sudah sangat jarang anak muda yang bisa memasak. Mereka cenderung mager dan lebih suka pesan makanan lewat ojek online atau jasa delivery restoran yang mengutamakan kecepatan. Padahal, lanjut dia, anak muda perlu diedukasi agar bisa menghidupkan kembali budaya memasak seperti zaman dulu. 

Jika flashback ke beberapa tahun sebelumnya, kebiasaan memasak ini umumnya diajarkan oleh ibu kepada anak-anaknya khususnya makanan lokal setempat. Kini kebiasaan memasak itu sudah mulai hilang. Contoh sederhana, masyarakat cenderung lebih suka membeli makanan jadi ketimbang memasaknya sendiri. Saat lebaran, pedagang kue kering berhamburan untuk memanfaatkan kondisi tersebut.

Ada beberapa faktor mengapa hal itu bisa terjadi. Antoine menjelaskan, kesibukan orang tua di zaman now dan kemudahan teknologi membiasakan budaya tidak memasak di rumah. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa tubuh yang sehat tentu harus berasal dari makanan sehat.

“Orang tua kerja, jadi mereka mau belajar memasak sama siapa? Padahal kalo memasak sendiri itu lebih enak, lebih sehat karena dibuat pakai cinta. Iya, kan? Coba lihat seorang ibu pasti memiliki cinta keluarga saat memasak untuk anak-anaknya,” ujar Chef Antoine.

Potensi kuliner Indonesia
Kiri ke kanan: Chef Antoine Audran, Albert Arron, Andhana Adyandra dan Seto Nurseto dalam sebuah telk show di Jakarta Eat Festival 2019. (Foto: belanga.id/Rikko)

“Anak muda tidak tahu cara memasak ikan dengan benar, mereka cenderung lebih suka beli ikan dori impor ketimbang ikan lokal,” tambahnya lagi.

Antoine berharap, edukasi terhadap makanan, khususnya produk lokal, terus digalakkan. Jika diperlukan, anak-anak sejak usia dini harus dikenalkan dengan edukasi makanan dan dapat dimulai dari bidang pendidikan, yakni di sekolah-sekolah. 

Tak hanya pada sektor konsumen, produksi pangan lokal juga harus diperhatikan dari hulu, yakni pada petani yang bersangkutan. Petani juga perlu diedukasi agar hasil produksi yang dijual bisa maksimal dan berimbas pada peningkatan taraf ekonomi kehidupan petani.

“Petani juga harus diedukasi jangan asal tanam saja. Mereka harus bisa hidup,” ujar chef yang telah lebih dari dua dekade tinggal di Indonesia ini.

Lahan Pestisida dan Kualitas Impor

Edukasi terhadap petani ini sangat penting jika melihat kondisi pertanian di Indonesia saat ini. Mengutip republika.co.id, setidaknya 70 persen dari 8 juta hektar lahan sawah di Indonesia ‘kurang sehat’. Lahan itu disebut kurang sehat karena sudah terpapar penggunaan pestisida.

Ketika ‘kurang sehat’, lahan sawah hanya mengalami sedikit penurunan produktivitas. Dengan mengembalikan bahan organik, lahan bisa kembali sembuh. 

“Di Indonesia, di pasar susah cari bahan makanan yang berkualitas. Para pedagang juga tidak memberikan edukasi terhadap pembelinya. Jadi sekadar hanya menjual saja,” ujar Antoine.

Kualitas pertanian juga berpengaruh terhadap hasil produksi, seperti tempe. Sebagai negara penghasil tempe, sungguh ironis bahwa banyak pengusaha tempe lokal justru menggunakan kedelai impor ketimbang lokal.

“Saya sudah tes ke beberapa klien dan hasilnya bahwa kacang kedelai impor lebih disukai. Lebih enak tempe impor,” ujar Founder ACCOSSA sekaligus CEO Arumdalu Farm Albert Arron, pada kesempatan yang sama.

Albert mendirikan Arumdalu Farm yang memiliki berbagai jenis sayuran yang ditanam dalam teknik “Your Simple Garden”. Teknik ini merupakan paduan antara vertical garden, aquaponic dan aeroponic, sehingga sayuran dan buah dataran tinggi bisa hidup di wilayah yang tak bersahabat seperti Jakarta.

Guna memaksimalkan edukasi serta mempromosikan produk lokal, Albert dan perusahaannya meluncurkan produk bernama burger tempe, yang desain makananya mirip dengan daging sapi. 

Adonan tempe dikukus dengan bumbu kemudian diasap sehingga tampak seperti daging untuk kemudian di goreng. Terkait kedelai sendiri, Albert mengakui bahwa kacang-kacangan tersebut memang tidak cocok ditanam di Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, Albert dan timnya mulai menggunakan kedelai dalam negeri sekaligus mendukung petani lokal.

“Cara optimal mengenalkan kuliner lokal adalah mempelajari karakter. Kalo milenial itu biasanya suka yang instagrammable, makanya kita bikin burger tempe dan restoran yang menawarkan berbagai makanan berbahan dasar tempe,” ujar Albert.

Ajang Jakarta Eat Festival yang telah terselenggara dua kali ini juga merupakan upaya dalam mengenalkan kuliner lokal kepada masyarakat luas. Event yang berlangsung selama empat hari ini mengusung tema Indonesian Food Raising sehingga potensi kuliner lokal bisa lebih tergali dan bisa dinikmati oleh pasar yang lebih luas. Hal itu terbukti dari gerai-gera yang dihadirkan, beberapa diantaranya mengusung makanan tradisional.

Beberapa produk lokal kekinian yang ditampilkan dalam ajang ini, meliputi Pasar Kebun Keliling, Tahu Petis Yudhistira, Demi Bumi, Bacang Ny. Lena, dan sebagainya. Jadi, mau ikut melestarikan makanan Indonesia? Pantengin terus Belanga Indonesia dan jangan lupa untuk selalu merawat keragaman kuliner dalam negeri.

Editor: Mariska Y. Sebayang


What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advocate

Written by Rikko Ramadhana

Work hard, pray harder.

Content AuthorYears Of Membership
Gwen Winarno dan Emilia Achmadi

Diet yang Baik Dimulai dari Mengenali Diri Sendiri

Petualangan Jelajah Negeri Rempah

Potensi Destinasi Wisata Indonesia Melalui Jalur Rempah