in ,

Happiness Festival 2019: Kuliner Itu Penting Untuk Sustainable Tourism

Karena kuliner bukan sekadar urusan menjawab rasa lapar.

(Foto: IG @happinessfestival.id)

Bicara soal pariwisata tentu tidak bisa dijauhkan dari unsur kuliner yang ada di dalamnya. Di tiap tempat wisata pasti ada kuliner khas yang dijajakan sebagai suatu kebanggaan. Melalui kuliner khas ini, seseorang dapat mengenal nilai-nilai budaya dan kekhasan suatu daerah.

Ketika pemerintah Indonesia mengutamakan sustainable tourism sebagai pedoman utama pembangunan pariwisata, maka fokusnya tidak hanya pengembangan destinasi wisata saja.

Pemerintah Indonesia turut memperhatikan unsur-unsur pariwisata lainnya, seperti kuliner sebagai industri yang menjanjikan dalam menarik minat para wisatawan asing.

Valeria Daniel saat berbagi di Happiness Festival, Jakarta (28/4). (Foto: Belanga.id/Anisa Giovanny)

“Peran kuliner di pariwisata itu besar, karena dari situ bisa memberdayakan masyarakat lokal, utamanya di desa wisata,” tutur Valerina Daniel saat mengisi acara diskusi di Happiness Festival di Lapangan Banteng, Jakarta (28/4).

Staf Khusus Kementerian Pariwisata ini menambahkan,

“Jadi daripada mereka menyajikan spaghetti lebih baik sajikan mie goreng atau mie tek-tek, supaya turis bisa merasakan nilai-nilai Indonesia.”

Kementerian Pariwisata Indonesia (Kemenpar) memang tengah gencar mengkampanyekan sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

Prinsip utama yang dianut adalah 3P, yakni people (masyarakat), planet (bumi), dan prosperity (kesejahteraan).

People berarti pariwisata berkelanjutan dibangun dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat di destinasi wisata, pula menghormati segala budaya lokal dan mengalami hal yang sama dengan masyarakat lokal.

Prinsip Planet (Alam) mengutamakan menjaga dan merawat lingkungan di destinasi wisata sebaik mungkin.

Prinsip ketiga adalah Prosperity, yaitu memperhatikan nilai-nilai ekonomis yang ada di tempat wisata, agar memberikan masyarakat dapat hidup lebih baik, utamanya dalam segi ekonomi.

Selain itu, Kemenpar telah mengembangkan Sustainable Tourism Development (STD) dengan membentuk Sustainable Tourism Observatory (STO) yang sejalan dengan program United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

STO adalah program kerjasama antara Kemenpar dengan pemerintah daerah dan juga universitas untuk menjadi pusat pemantauan dan penelitian supaya bisa menciptakan master plan destinasi wisata yang baik.

Saat ini telah ada 18 destinasi pariwisata internasional terdaftar sebagai lokasi STO di UNWTO.

Lima di antaranya berada di Indonesia, yakni Pangandaran (Jawa Barat), Sleman (DIY), Sesaot Lombok (NTB), Samosir/Danau Toba (Sumatra Utara), dan Sanur (Bali).

“Dalam hal STO Indonesia termasuk negara yang progresif di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi pada para pembangun destinasi wisata yang berkelanjutan, sejak 2017 Kemenpar mengadakan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA).

Penghargaan ini bertujuan untuk mendorong penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dalam pengelolaan pariwisata di daerah.

Untuk melestarikan kuliner, Kemenpar sudah punya program yang khusus memberikan guidance atau pelatihan bagi para pelaku pariwisata dalam bidang kuliner.

Salah satu programnya adalah mengundang warga diaspora Indonesia untuk kembali ke negara ini dan mengedukasi terkait selera dan minat masyarakat internasional terhadap makanan lokal.

Meski harus mengetahui selera orang luar, Valerina yang juga berprofesi sebagai news anchor menyebutkan bahwa tentu tidak boleh meninggalkan ciri khas sendiri.

Misal, bahan-bahan khas makanan lokal yang ada tidak perlu diganti, namun cukup mengubah kemasan atau tampilannya, sehingga menarik perhatian khalayak internasional.

Valerina menunjuk Desa Wisata Nglanggeran yang berada di D.I. Yogyakarta sebagai contoh.

Desa yang terletak di kaki gunung purba Nglanggeran ini sedang mengembangkan kuliner cokelat yang dipasarkan dengan nilai budaya masyarakat desa, bahkan tidak ragu untuk menggunakan bahasa Jawa.

Pada intinya, tidak perlu menghamba pada selera wisatawan mancanegara untuk menarik perhatian mereka.

Cukup membuat para pengunjung destinasi wisata dapat merasakan rasa yang universal dengan selera mereka, dengan tetap mempertahankan unsur-unsur lokal yang menjadi ciri khas destinasi wisata tersebut.

Valerina berharap kuliner Indonesia makin dikenal masyarakat internasional. Bukan hanya perihal rasa saja, tapi juga dari pembuatannya hingga penyajiannya.

Dengan demikian, wisatawan mancanegara dapat mengalami sendiri rasa otentik Indonesia, sekaligus agar mereka makin jatuh cinta dengan negara ini dan mendukung sustainable tourism.

Penulis: Anisa Giovanny
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Pasar Langsat

Pasar Langsat: Belanja Sehat Sambut Ramadan

Tips Bisnis Kuliner

Bisnis Kuliner di Era Digital, Makanan Lokal Lebih Unggul