in

Gado-Gado Direksi, Langganan Para Bos Sejak 1967

Kenapa bisa bertahan lama, ya?

Biar sederhana, tapi nikmat bumbu kacangnya boleh diadu! (Foto: Belanga.id/Anisa S.)

Pagi hari menjelang siang itu, panas matahari terasa terik. Ditambah penuh sesaknya Gang Gloria pada hari Minggu. Rasanya tepat untuk memutuskan beristirahat di pujasera di salah satu pojokannya. Mata saya langsung terpaku pada sebuah spanduk merah yang dihamparkan. Gado-gado Direksi dan tulisan kecil “Dikenal sejak tahun 1967”. Menarik.

Di bawah spanduk itu berdiri tegak etalase kaca dengan berbagai bahan seperti kangkung, tauge, timun, labu, kol, kentang dan tahu berjejer rapi di dalamnya.

Di baliknya, seorang ibu-ibu berusia paruh baya terlihat sibuk mengulek bumbunya.

Ia adalah Giok Lee, pengelola warung Gado-gado Direksi generasi kedua. Giok mengelolanya dibantu dua pelayan.

Direksi, nama yang unik. Di sekitarnya, usaha-usaha makan yang lain menggunakan nama pemilik pertamanya sebagai penanda, seperti Kari Lam.

Baca juga: Kari Lam dan Resep Setua 46 Tahun

“Yang kasih nama Direksi itu orang Bank Exim, itu yang sekarang namanya jadi Bank Mandiri,” jelas Giok saat saya bertanya tentang nama usahanya.

“Katanya Direksi saja ya namanya biar gampang dicari. Terus office boy tidak salah beli gado-gado lain,” tambah Giok.

Rupanya dulu, banyak dewan direksi Bank Exim yang menjadi pelanggan gado-gado ini. Saya jadi makin penasaran ingin mencoba hidangan yang disukai bos-bos ini.

Setelah memesan satu porsi, saya memperhatikan Ibu Giok, sapaannya, yang sigap melayani tamu lainnya dengan ramah.

Para pelayan memotong bahan gado-gado menjadi kecil, lalu memisahkan sayuran kangkung ke dalam piring.

Sesudah itu sambal yang terdiri dari kacang tanah dan air asam jawa segera dicampur. Diulek menggunakan lumpang batu sampai halus.

Setelah selesai bumbu disiram ke sayuran dan diberikan taburan bawang goreng. Kerupuk udang dan emping yang cukup besar disajikan sebagai pendamping.

Dari segi tampilan, tidak ada yang spesial dari gado-gado racikan Giok dengan yang lainnya. Tapi kenapa bisa bertahan lama, ya?

Menjawab pertanyaan saya, Giok menjelaska bahwa resep yang ia gunakan tidak berubah sejak dulu. Bahan bakunya pun diusahakan selalu segar.

Mungkin perbedaan yang paling mencolok ada dari bumbu kacangnya yang menggunakan kacang yang dipasok langsung dari Tuban.

Bumbunya juga diulek dengan tambahan air asam jawa muda yang bersih dan tidak terlalu asam.

Satu porsi pesanan saya segera tiba. Saya tidak sabar mencobanya dan segera menyuapkan satu sendok ke mulut.

Seketika mulut saya merasakan bumbunya yang menonjol. Tidak kental dan menggumpal, punya cita rasa yang gurih, pedas dan manis.

Dimakan bersama aneka sayuran yang banyak, empuknya tahu dan renyahnya kerupuk membuat sensasi makan Gado-gado Direksi jadi lebih nikmat.

Warung gado-gado ini buka dari pukul 09.30 sampai 16.30 WIB setiap hari, terkecuali saat hari raya Imlek.

Harga satu porsinya Rp37.000. Jika ingin menambah lontong, siapkan Rp3.000, dan Rp5.000 untuk nasi.

Ada pula ayam panggang betawi dan ayam bumbu kuning dengan harga masing-masing Rp20.000 dan Rp25.000.

Giok juga menjual lumpia dengan isian sayuran dan bengkuang seharga Rp6.000 per buah.

Gado-gado Direksi tidak buka cabang di manapun, jadi sempatkan mampir untuk mencoba rasanya yang nikmat. Dijamin nggak rugi!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advocate

Written by AnisaGiovanny

Content Author
resep agust's tempe

Gak Susah Bikin Tempe Sehat Berbasis Probiotik

6 Bahan Ini Bikin Masakan Pedas Banget!