in

Food Cycle Indonesia Kurangi Food Wasting dengan 3 Prinsip

Dalam 2 tahun, mereka sudah menyelamatkan 5 ton makanan dari kesia-siaan!

Salah satu sumber utama energi manusia datang dari makanan. Dengan makan, manusia menambah energi dan mencukupi gizi yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, di dunia yang masih menghadapi ancaman kelaparan, masih banyak orang Indonesia yang justru buang-buang makanan.

Menurut Food Sustainability Index (FSI) 2017 yang diterbitkan The Economist Intelligent Unit (EIU) bersama Barilla Center for Food and Nutrition Foundation (BCFN), Indonesia menempati peringkat nomor dua dari bawah dalam hal pemborosan makanan.

Sebagai negara dengan populasi terbesar ke 4 dunia, nyaris 270 juta jiwa penduduk, setiap tahunnya hampir tiap penduduk Indonesia membuang 300 kilogram makanan layak konsumsi.

Di seluruh dunia, sebanyak 1,3 miliar ton makanan senilai US$ 1 triliun, setara dengan Rp14.107 triliun, dibuang setiap tahun, menurut Badan Pangan PBB, FAO.

Ketika di sini makanan banyak yang dibuang, di belahan dunia lain masih banyak kasus kelaparan dan anak-anak busung lapar yang terjadi.

Salah satu satu penyebab utama tingginya penyia-nyiaan makanan ini adalah kurangnya rasa peduli.

“Banyak orang yang awareness-nya masih kurang,” ujar Herman, co-Founder Food Cycle Indonesia di acara talkshow yang diselenggarakan Pasar Petani Kota di Jakarta Selatan (10/3).

“Mereka membuat makanan dan membuang makanan tersebut tanpa memikirkan nilai tersebut bagi orang lain,” tambah Herman.

Inilah yang membuat hati Herman dan istri tergerak untuk membuat Food Cycle, sebuah organisasi dengan misi menciptakan zero food wasting di tanah air.

3 prinsip utama Food Cycle

Berdiri sejak 2017, organisasi ini fokus pada pengolahan makanan berlebih, yang layak makan.

Cara mengurangi food wasting a la Food Cycle adalah bekerja sama dengan berbagai pihak yang berpotensi menghasilkan makanan berlebih, terutama wedding organizer, restoran, dan perusahaan.

Food Cycle sendiri sudah bekerja sama dengan The Bridestory, platform online yang mempertemukan calon pengantin dengan vendor-vendor terkait penyelenggaraan pernikahan.

Herman bercerita bahwa satu acara pernikahan saja bisa menghasilkan 80-90 kg makanan berlebih.

Peran Food Cycle adalah mengumpulkan makanan berlebih itu untuk diolah kembali menjadi makanan yang bisa dikonsumsi.

Setelah itu didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti korban bencana alam, panti asuhan, hingga pada orang berusia tidak produktif, seperti anak atau lansia.

“Kurang lebih kita sudah berhasil mengumpulkan 5 ton makanan,” ujarnya menjelaskan pencapaian Food Cycle Indonesia. “[Itu] setara 15.000 porsi yang bermanfaat bagi banyak orang.”

Herman bersama tim pun selalu menerapkan pengecekan dalam setiap pengambilan makanan. Dari segi rasa, visual, dan aroma, semuanya dicek dengan seksama.

Hal ini penting dilakukan agar para penerima makanan dapat merasakan manfaat positif bagi tubuh, bukan mendapatkan penyakit.

1. Re-distribute

Makanan yang masih layak dikonsumsi akan dijaga kelayakannya. Biasanya akan dibekukan, kemudian dipanaskan, diolah kembali, dan dibagi ke wadah makanan, sampai ia diberikan kepada orang-orang membutuhkan.

2. Re-Process

Prinsip kedua ini mengumpulkan produk yang sudah tidak sempurna untuk kemudian diolah menjadi berbagai makanan baru berkualitas.

Contohnya buah-buahan yang dari segi visual sudah tidak menarik dilihat bisa diolah menjadi kue, selai, atau produk lainnya, untuk dipasarkan kembali.

3. Re-Cycle

Prinsip ini berlaku bagi makanan tidak tertolong dalam proses redistribusi dan reproses. Makanan akan diolah menjadi pupuk organik hingga pakan ternak.

Ketiga prinsip ini sejatinya mudah dilakukan siapa saja asal ada keinginan dan kepedulian. Semua rumah dan semua orang bisa berperan di dalamnya.

Cara paling sederhana untuk tidak menjadi orang yang membuang-buang makanan adalah dengan menyediakan makanan dalam porsi kecil yang sudah pasti habis saat dimakan.

Pula bisa menyegerakan mengolah makanan yang cepat kadaluarsa. Bekukan makanan yang sekiranya bisa diolah kembali.

Jangan ragu berbagi kepada tetangga sekitar rumah bila memasak berlebihan dan berpotensi dibuang karena tidak habis.

Regulasi Food Wasting di Indonesia

Herman berharap pemerintah segera membuat regulasi demi terciptanya Indonesia zero food wasting.

Bisa meniru aturan dari Benua Biru yang lebih dulu melek soal masalah ini. Di Eropa, supermarket wajib hukumnya untuk mendonasikan makanan yang berlebihan.

Tidak boleh ada yang terbuang. Jika tidak didonasikan, ada hukuman yang siap menanti.

“Saya berharap dengan regulasi yang baik, infrastruktur yang semakin bagus, peringkat Indonesia bisa turun sebagai pembuang makanan,” kata Herman.

Food cycling menjadi penting dilakukan untuk menjawab krisis food wasting di Indonesia.

Selain mengurangi sampah, kegiatan ini menciptakan ketahanan pangan, sebab makanan akan selalu diolah kembali dan mencegah produksi makanan berlebih.

Kegiatan ini memiliki banyak efek domino. Misalnya, membantu mengurangi anak-anak yang mengalami stunting (pertumbuhan lebih lambat dari usia seharusnya) akibat gizi buruk dengan menyalurkan makanan layak konsumsi yang masih memiliki kandungan gizi.

Herman mengajak semua orang berpartisipasi dalam kegiatan mengolah kembali dan menghindari buang-buang makanan ini.

Bila tertarik untuk menyelamatkan makanan berlebih yang mungkin muncul di acara-acara yang kamu buat bersama Food Cycle, cukup hubungi mereka, setidaknya seminggu sebelum acara berlangsung.

Hubungi Food Cycle Indonesia di nomor 021-8191088, WhatsApp 087819447100, atau melalui email ke hello.foodcycle@gmail.com untuk mendapatkan penjelasan dan pengarahan secara lengkap.

Misi mulia Food Cycle ini tidak diemban sendirian. Ada beberapa organisasi yang turut membantu mengurangi food wasting di Indonesia, seperti Food Bank Indonesia, Garda Pangan, dan Berbagi Nasi.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by AnisaGiovanny

Content Author

Cegah Kanker dengan 7 Buah Lokal Kaya Antioksidan Ini

Sudah Tahu Cara Seduh 5 Jenis Teh Ini?