in

Dapur Cinta 2019 Bikin Waktu Cepat Berlalu

Bekerja dengan hati memang selalu menyenangkan!

Itulah yang saya rasakan saat bergabung dengan teman-teman relawan Dapur Cinta. Terakhir saya menjadi volunteer adalah saat masih di bangku sekolah, kira-kira 5-6 tahun lalu. Kini waktu yang didedikasikan untuk kerja dan keluarga membuat saya abai hal-hal di luar itu.

Ketika Belanga Indonesia berkenalan dengan Dapur Cinta, rasanya ada kesempatan untuk kembali jadi relawan.

Dapur Cinta 2019
Tiba di lokasi Dapur Cinta, disambut dengan spanduk penandanya. (Foto: Belanga.id/Manggarayu)

Awalnya, saya tidak tahu Dapur Cinta. Saya mengenalnya saat pertemuan singkat di Rumah Remedi di suatu Rabu malam di bulan Juni.

DAPUR CINTA, sebuah program tahunan dari komunitas Gerakkan Indonesia. Kegiatan yang berjalan sejak 2012. Mereka mengumpulkan para relawan untuk masak, packing, dan membagikan kotak makanan sesuai tujuan.

Selama tiga hari, para relawan menyiapkan dan mengantar ribuan kotak makanan bagi kawan-kawan di kampung dhuafa.

Baca juga: Dapur Cinta: Masak Sukarela, Tebar Virus Positif

Saya membuat janji dengan ketua Dapur Cinta 2019 Agustinus Gibran. Sabtu pagi (25/6) kira-kira pukul 10.00, saya akan berkunjung ke markasnya.

“Oh ya, silahkan. Besok dari pukul 8 relawan sudah pada datang,” sahut lelaki yang akrab disapa Tinus ini.

Jalan raya Kemang pagi itu belum ramai. Saya membelokkan motor ke arah perumahan Kemang Dalam.

Di ujung jalan, sebuah plang merah bertuliskan “Dapur Cinta” siap menyambut. Seorang satpam memberi kode untuk langsung masuk ke rumah. 

Di depan garasi rumah, serta merta saya disambut tiga wajan raksasa dengan api menyala. Dua wajan berisi tempe goreng dan satu berisi telur rebus.

Dapur Cinta 2019
Para relawan di pos telur rebus sibuk melepas kulitnya. (Foto: Belanga.id/Manggarayu)

Berjalan menuju bagian dalam garasi, ada pos mengupas telur yang cukup ramai. Riuh suara obrolan juga terdengar sana-sini, sementara jemari sibuk melepas telur rebus dari cangkangnya.

Tinus menyambut saya di area dapur rumah.

“Silahkan mau bergabung dengan pos mana. Ada pos mengupas telur, pos menggambar poster, pos kardus di tengah ruangan, dan pos memasak di depan garasi,” jelasnya sembari mempersilakan saya untuk memilih.

Sebagai awak media kuliner, saya tergerak untuk bantu menggoreng tempe di luar garasi. Sayang, tempenya sudah digoreng semua.

Lantas hal pertama yang saya lakukan adalah… mencuci baskom dan piring-piring besar. Baru kali ini saya merasakan mencuci di luar ruangan.

Selesai itu, saya melipir kembali ke dalam rumah. Ada sebuah ruangan dengan tumpukan pisang kepok. Saya bergabung dengan tim pos membersihkan pisang. 

Dapur Cinta 2019
Sambil menyelesaikan kegiatan, bisa saling berkenalan. (Foto: Belanga.id/Manggarayu)

Tak kenal maka tak sayang, saya pun ikut ngobrol dengan beberapa orang.

Dari yang saya temui, banyak yang baru gabung di 2019. Asalnya pun ada yang dari Depok hingga luar Pulau Jawa.

Pula, ada teman-teman WNA yang turut membantu hari itu. Komunitas Internations Jakarta adalah salah satu yang dirangkul Dapur Cinta.

Menurut Tari, salah seorang perwakilan Internations, kegiatan Dapur Cinta selaras dengan komunitas yang mendunia itu.

“Kami juga ajak teman-teman komunitas dari luar negeri. Nanti janjian ketemu di satu tempat, lalu ke sini bareng-bareng,” jelas Tari. 

Waktu berjalan tanpa disadari. Pukul 12 siang, Tinus pun menghampiri semua pos untuk mengajak makan siang.

Baca juga: Google dan Harvard Ciptakan Teknologi Detektor Restoran Tidak Sehat

Sebagian orang lekas beranjak, sebagian masih bertahan dengan aktivitas masing-masing. Termasuk saya dan tim kotak makanan yang masih asyik melipat dus dan menumpuk kotak di sudut ruangan.

Jujur, rasanya terlalu asyik beraktivitas daripada memilih istirahat hanya untuk sekadar melepas lelah. Rasa lapar terbayar oleh perasaan excited dan bahagia karena kerja sesuai dengan hati.

Dapur Cinta 2019
Nggak cuma berhubungan dengan masak, relawan untuk poster juga dibutuhkan! (Foto: Belanga.id/Manggarayu)

Walau begitu, poster-poster bernada afirmatif di dinding mengingatkan para relawan untuk ingat menjaga badan sendiri.

Tubuh perlu istirahat, meski hati kuat melanjutkan. Namanya juga Dapur Cinta, kan? Selain cinta sesama, cinta diri sendiri jangan dilupa. 

Meski masing-masing dari kita punya kegiatan sendiri, semoga masih banyak pertemuan berikutnya.

Terima kasih untuk pengalaman yang menyenangkan, Dapur Cinta!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by Manggarayu

Content AuthorYears Of Membership

Mudik Lewat Jalur Selatan Jawa? Icip 9 Makanan Ini, Ya!

9 Kuliner Wajib Coba Untuk Yang Mudik Lewat Jalur Pantura!