Danu Sofwan, Comblangnya Cendol dengan Susu

Danu Sofwan, Comblangnya Cendol dengan Susu
Danu Sofwan (Foto: Dimas Putra Arifin)

Gemas dengan antrian panjang penggemar bubble tea yang mulai ramai sekitar lima tahun silam, Danu Sofwan nekat menjodohkan susu dengan cendol. Ajaib! Cendol susu itu digilai remaja. 

Kini sekitar 800 outlet cendol susu di bawah bendera Randol alias Radja Cendol, menyebar dari Sabang sampai Merauke, sejak 2014.  

Meski terbilang singkat untuk capaian omzet bernilai miliaran per tahun, perjalanan Danu mengasah ketangguhan sebagai wirausaha sudah berjalan lama.

“Dari dulu saya sudah dagang macam-macam. Mulai dari sepatu sampai gelang power balance,” cerita founder dan CEO Radja Cendol Danu Sofwan dalam acara Scale Up Asia 2018 di Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018.

Danu bicara di hadapan ratusan peserta konferensi tahunan Endeavour Indonesia. Bersama Danu, hadir juga tiga peserta program Spice Up! Boot Camp yaitu Founder dan Managing Director BEAU Indonesia Talita Setyadi, Founder dan CEO Mie Merapi Agit Bambang, serta Founder dan Director Shirokuma Michelle Widjaja.

“Masih enggak nyangka. It’s a big thing,” ujar Danu, pemuda 31 tahun kelahiran Tasikmalaya itu berkali-kali.  

Spice Up! Boot Camp sendiri merupakan program pelatihan kolaborasi Idea Fest dan Endeavour Indonesia bagi pengusaha di bidang Food & Beverages. Dalam enam bulan, peserta didampingi para mentor andal, dan diberi peluang  untuk memperluas dan meningkatkan unit usaha yang sudah ada.

“Saya sempat ditanya mentor. Mana yang dipilih, mengurus 10 cabang besar atau 1000 cabang kecil. Karena mengurus 1000 yang kecil-kecil itu berat,” cerita Danu.

Namun ia bergeming. Tekadnya mencetak banyak pengusaha lewat sistem waralaba sudah tidak dapar ditawar lagi.

Titik balik si Radja Cendol

Danu memang tergolong muda. Tapi menilik perjalanan usahanya sejak 11 tahun silam, jelas ia bukan pejuang kemarin sore.

Kepergian sang Ayah tahun 2007 menjadi titik balik Danu. Pada usianya yang belum genap 20 saat itu, Danu memberanikan diri memanfaatkan uang duka para pelayat menjadi modal dagang sepatu, bukannya melanjutkan kuliah. Apes, ia ditipu.

Tak menyerah, Danu mencoba berbagai usaha yang kembali gagal.

Dari pengalaman jatuh bangun berkali-kali itu ia belajar berdiri kokoh.

Demi mengumpulkan modal tanpa bekal ijazah sarjana,  ia memilih mengamen dan jadi kuli pasir. Upah kecil tak pernah mematikan impiannya menjadi pengusaha. Danu terus mengamati celah.

Antrian pembeli bubble tea memikat hatinya. Namun ia ingin memakai produk Indonesia sebagai bintangnya. Danu pun memilih cendol.

Sengaja Danu backpackeran ke kota-kota di Indonesia demi resep cendol yang paripurna. Ia tak risih menumpang truk sayur ataupun truk pasir demi mengirit biaya. Pulang dari “study banding” antara lain ke Banyumas, dan Lampung, Danu dapat beragam resep cendol dan ilham.

Santan, yang selama ini selalu berpasangan dengan cendol, diganti dengan susu. Tekstur cendol pun dibuat lebih kenyal agar disukai kaum milenial. Kemasan pun dibuat keren, lengkap dengan nama menu minuman yang nyeleneh demi menarik perhatian.

Danu pun mantab mempersiapkan konsep waralaba minuman cendol susu lengkap dengan alat promosi dan pemasaran. Tak banyak yang percaya, tapi ia berhasil memperoleh dua mitra di hari pertama launching Radja Cendol.  

Sejak hari itu, Radja Cendol seperti tak terbendung lagi.

Danu menyebut dirinya tukang cendol. Namun dalam tahta kerajaan cendol susu yang ia bangun sejak 2014, Danu sebagai pemilik waralaba Randol disebut baginda. Para mitra waralaba dipanggilnya panglima.

“Kini ada 800 outlet,” ujarnya.

Wilayah kerajaan si Radja Cendol terus meluas. Kalau dulu outletnya dijumpai di pinggir jalan, kini sudah banyak outlet Randol ditemui di mal.

Cendol original sebagai produk utama juga sudah banyak ditemani varian lain. Dicampur Alpukat, minuman cendol itu dinamai Alpundol. Saat dipadu keju, namanya jadi Kejendol alias Keju En Cendol.

“Jangan meremehkan hal kecil. Bayangin, cendol saja bisa bikin saya seperti ini,” kata Danu. 

Demi memperkuat Radja Cendol, Danu tak henti berinovasi. Intuisinya terus mencium peluang baru. Bisnis di luar cendol susu pun digarap. Namun konsentrasinya untuk Raja Cendol tak pupus. Ia mendisiplinkan diri untuk terus belajar.

“Untuk mulai bisnis perlu ada aksi. Untuk menjalankannya perlu berani. Agar sukses perlu kunci, yaitu amal, ilmu, dan belajar,” tegas Danu yang mantab akan mengantarkan cendol menjadi kebanggaan Indonesia. 

Baca juga:  Kue Pancong Rasa New York City

 

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Sica Harum
Written by
Melahap lebih cepat ketimbang memasak. Mengandalkan intuisi saat menaburkan garam atau lada.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up