in ,

Curhat Chef Michelin Star: Masakan Indonesia Kompleks dan Sulit

Keanekaragaman kuliner Indonesia bisa membuat siapapun jatuh hati. Tak terkecuali bagi Chef Antoine Audran yang kariernya sudah malang melintang di dunia kuliner internasional. 

Juru masak Michelin Star ini membeberkan alasan dirinya bisa jatuh cinta dan menganggap masakan khas Indonesia itu bernilai spesial di hatinya. Salah satunya adalah kompleksivitas kuliner Indonesia yang menjadi tantangan bagi para koki untuk memasaknya. 

Dari negaranya nun jauh di Prancis, Antoine hijrah ke Indonesia dan sudah lebih dari dua dekade tinggal di sini. Saking cintanya dengan kuliner Indonesia, Antoine telah berkeliling hingga ke pelosok guna mencari kuliner yang lezat.

“Kuliner Indonesia itu sangat kompleks jika dibanding negara saya. Di Indonesia lebih banyak bumbu, beda provinsi, beda suku, beda kuliner juga. Banyak makanan yang dikaitkan dengan budaya dan adat. Di sini sangat kompleks,” ujar Chef Antoine saat berbincang dengan Belanga.id dalam Acara Jakarta Eat Festival 2019 akhir pekan lalu.

Chef Antoine Audran
Chef Antoine Audran (paling kiri) di Jakarta Eat Festival 2019. (Foto: belanga.id/Rikko)

Bagi yang belum paham dengan Michelin Star, istilah ini digunakan sebagai bentuk penghargaan terhadap chef dan juga restoran yang telah diakui di dunia internasional. Gelar ini merupakan jembatan emas bagi para chef untuk mengenalkan kreasi masakannya ke seluruh penjuru dunia. 

Menurut Antoine, memasak makanan Indonesia bukanlah hal yang mudah. Kompleksivitas dalam pilihan jenis bumbu membuat masakan Indonesia lebih sulit ditaklukan jika dibandingkan dengan kuliner Eropa yang menjadi asal Antoine. 

“Kalau saya gagal masak bumbu, tidak bisa disulap. Kalo masakan Eropa saya ‘abrakadabra’ bisa. Ya, betul karena lebih banyak bahan. Beda bahan, beda hasil, beda tangan juga mempengaruhi. Kalau soul saya tidak kena pasti hasilnya jelek. Tidak semudah itu memasak makanan Indonesia,” ujar dia.

“Semuanya (kuliner Indonesia) itu sulit,” tambah Antoine.

Antoine bercerita bagaimana kuliner Indonesia mendapatkan sambutan positif di negaranya. Beberapa kuliner tradisional juga menurutnya sangat diminati. Namun sayang edukasi serta pengenalan akan makanan tersebut masih kurang. 

Ia mencontohkan, tempe sangat diapresiasi di Prancis. Masyarakat di sana, para bule-bule, sangat menyukai tempe karena rasanya yang enak dan sehat. Di luar negeri sana, lanjut Antoine, sudah banyak berdiri produsen-produsen yang menjual tempe meskipun harganya relatif lebih mahal daripada di Indonesia.

“Mahal tidak apa-apa karena orang di sana melihat faktor kesehatan sangat penting,” tambah Antoine.

Masak Pakai Cinta

Antoine menuturkan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam memasak adalah adanya perasaan cinta. Zaman sekarang, masyarakat mengesampingkan hal itu dan cenderung menyukai masakan cepat yang didukung dengan kemajuan teknologi. 

Karena alasan itulah, tingginya permintaan akan pesan antar makanan melalui aplikasi meningkat jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Kebiasaan memasak ini juga mulai ditinggalkan karena adanya kesibukan ibu bekerja sehingga mengambil jalan instan.

Padahal, lanjut Antoine, masakan yang dimasak dengan penuh cinta akan menghasilkan rasa yang lezat dan juga terjaminnya kesehatan. 

“Kalau dulu ibu memasak pagi-pagi dan masaknya penuh cinta. Kalau sekarang senangnya cepat-cepat yang instan. Coba kalau masaknya sambil bete pasti rasanya beda”.

Antoine pernah menguji tentang adanya pengaruh feeling saat memasak dengan hidangan yang dihasilkan. Kala itu, ia menguji empat orang yang memasak dengan resep sama, alat sama, bahan sama dan dengan waktu yang sama.

“Hasilnya beda, karena ada soul didalamnya. Makin delicious sebuah masakan jika dimasak pakai cinta. Dulu ibu memasak pakai cinta untuk keluarga,” lanjut Antoine.

Chef Antoine Audran merupakan koki asal Prancis bergelar Michelin Star yang sangat menyukai makanan Asia. Sebelum memulai petualangannya di Indonesia, Anatoine sempat ‘singgah’ di Bangkok, Thailand. 

Hingga akhirnya ia menemukan masakan Indonesia yang sangat diremehkan di panggung kuliner dunia. Sejak saat itu, ia mulai mendedikasikan waktunya untuk mendokumentasikan resep yang hilang, obat tradisional, spesifikasi bahan hingga metode memasak sambil berkeliling Indonesia.

Kecintaannya akan kuliner Indonesia membuatnya betah tinggal di bumi pertiwi hingga lebih dari dua dekade. Saat ini, koki yang dikenal dengan nama Chef Batik ini menjadi Executive Chef di KAUM Restaurant yang tersebar di Hongkong, Bali dan Jakarta.

Editor: Mariska Y. Sebayang

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enthusiast

Written by Rikko Ramadhana

Work hard, pray harder.

Content AuthorYears Of Membership

Jakarta Eat Festival 2019: Potensi Indonesia dan Tren yang Berkembang

Gwen Winarno dan Emilia Achmadi

Diet yang Baik Dimulai dari Mengenali Diri Sendiri