in ,

Cerita Gelap di Balik Jalur Rempah: Budak, Bajak Laut dan Pelacur

Cerita tentang mereka yang jarang didengar suaranya.

Rempah-rempah asli Indonesia. (Foto: Belanga.id/Rikko R.)

Sebagai salah satu negara penghasil rempah terbesar di dunia, kemahsyuran dan posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas ini tidak perlu diragukan. Tapi, di balik gemerlap perdagangan rempah, banyak kisah gelap pada masa silam, ketika perebutan wilayah-wilayah penghasil rempah tidak terelakkan.

International Forum On Spice Route (IFSR) 2019 yang berlangsung pada 19-26 Maret lalu mengangkat kisah gelap itu dengan mengadakan seminar yang bertajuk “Cerita Gelap di Balik Jalur Rempah: Budak, Bajak Laut & Pelacur”.

Pembicara yang dihadirkan adalah Dr. Junus Satrio Atmodjo (Arkeolog-Tim Ahli Cagar Budaya RI) dan Dave Lumenta, Ph.D (Antropolog-Universitas Indonesia) dan moderator Irfan Nugraha M.Han (Antropolog-Universitas Indonesia).

Mengenai masa kelam jalur rempah, Junus mengatakan, “Sisi gelap pelayaran adalah homoseksualitas, di mana para pelayar yang sudah lelah berlayar, terombang-ambing oleh ombak saat berada di kapal.”

Sambungnya, “Mereka selalu punya imajinasi jika nanti sudah sampai daratan, mereka ingin mendapatkan kenyamanan, jauh dari ombak, dan tidur di tempat empuk.”

Junus melanjutkan, “Ini adalah bahasa-bahasa kiasan dalam naskah-naskah versi lama.”

“Yang dimaksud tempat empuk adalah wanita-wanita yang menemani para pelayar yang sedang beristirahat, dalam ketenangan, jauh dari ombang-ambing ombak.”

Hampir setiap pelabuhan memiliki pelacur. Para pelaut berlayar dalam waktu yang lama, sehingga hasrat manusiawi para pelayar harus dapat tersalurkan.

Pada masa itu wanita-wanita yang diperdagangkan harus memiliki badan yang gemuk, tanda kesejahteraan.

Menariknya di saat itu, pelacur juga kadang merangkap menjadi teman curhat para pelaut, bahkan ada yang menjadi kekasih.

Rempah-rempah yang dulu menjadi komoditas rebutan antar bangsa. (Foto: Belanga.id/Arief R. H.)

Masih menceritakan kisah di jalur perdagangan rempah, Junus menyoroti kisah perbudakan sebagai salah satu hal yang terjadi saat itu.

“Jika berbicara tentang pelaut dari masa ke masa, maka Portugal adalah negara yang paling menjajah dunia,” tuturnya.

“Bagi mereka, siapa saja yang tidak mendaftar sebagai pelaut akan dibunuh, atau diculik di pelabuhan untuk dipekerjakan sebagai budak.”

Yang menarik adalah ketika budak berupaya mengubah status mereka.

“Persoalan budak ada pada identitas kelahiran mereka. Kedudukan hukum bisa berubah ketika seorang budak mendekati orang-orang Belanda dan Portugis, menikah dan punya anak dengan mereka,” terang Junus.

Identitas “budak” dapat hilang dari mereka, sehingga tidak lagi terikat dengan hukum adat bahkan mereka dapat memeluk beragam agama.

Di lain cerita, jalur rempah juga menjadi jalur beraksinya para bajak laut atau perompak.

Pada abad ke-19, beberapa perairan penting di Indonesia dihantui oleh perampokan–perampokan yang dilakukan mereka.

Aksi-aksi para bajak laut ini sangat mengganggu Pemerintah Kolonial Belanda dan angkatan lautnya.

Perairan-perairan yang menjadi sasaran operasi bajak laut antara lain perairan Manado, Kepulauan Sulawesi Tenggara, Pantai Timur Sulawesi, Nusa Tenggara, Pantai Utara Jawa Timur, serta Maluku.

Deva menanggapi kisah kelam di jalur rempah dengan menegaskan bahwa saat itu jalur ini tidak hanya menjadi jalur mobilisasi para pedagang rempah, pelaut, dan para budak saja.

“Jalur rempah juga memfasilitasi orang yang ingin kabur dari negaranya atau orang yang ingin melakukan perjalanan di jalur sutera, atau dari Asia Tengah ingin ke Mekkah,” ujar Deva.

Sebelum acara usai, Irfan menutup pembahasan ini dengan bijak.

“Ternyata jalur rempah menjadi jalur sirkulasi yang mempengaruhi pergerakan dan keturunan manusia, budaya, dan berbagai hal lainnya. Dampaknya masih bisa dirasakan dalam kehidupan sosial sampai saat ini.”

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dicap Buruk, Padahal Mereka Makanan Sehat

Rayakan 35 Tahun, Pizza Hut Beri Promo Ini!